PEMELIHARA TRADISI, PENYEJAHTERA PETANI

Kiprah Koperasi Susu Fonterra Selandia Baru yang mampu mencetak aset dan omset miliaran dolar, membuktikan koperasi sebagai entitas bisnis yang  pantas diperhitungkan. Bukan bisnis pinggiran yang masuk klaster usaha mikro kecil.  

fontera

Jika Anda masih sinis dengan  bisnis koperasi yang masih masuk kelas ecek-ecek, coba tengok kinerja  Fonterra Co-operative Group Limited atau  koperasi susu milik para petani  Selandia baru. Kemampuannya memproduksi 22 miliar liter susu per tahun, telah menghantarkan Fonterra sebagai salah satu raksasa koperasi susu terbesar, produknya menguasai  30% produk susu dunia. Di Indonesia, produk Fontera dikenal dengan susu kesehatan tulang dengan merk Anlene Anmum, Booneeto dan Achor.  Rambahan Fonterra juga menyusup ke Indonesia ketika September tahun lalu (2015) mendirikan pabrik pertamanya seluas 6.000 m2 di Cikarang, Jawa Barat dengan investasi sebesar Rp 340 miliar. Namun publik di Tanah Air agaknya tidak banyak yang tahu, bahwa Anlene di bawah  bendera PT Fonterra Brands Manufacturing Indonesia di negerinya sana adalah perusahaan berbadan hukum koperasi.

 

Di Selandia Baru,  Fonterra adalah koperasi susu terbesar yang dimiliki oleh para petani dan peternak negeri Kiwi itu.  Awal Januari lalu total asetnya tercatat 19,076 miliar NZD atau sekitar Rp 172  triliun dengan penjualan  mencapai 8,818 miliar NZD atau sekitar Rp 79 triliun. Sedangkan ekuitasnya  6,905 miliar NZD (Rp 63 triliun).  Dengan deretan angka-angka produksi yang luar biasa itu,  Chairman Fonterra Co-operative Ltd, John Wilson mengatakan,  keuntungan Fonterra sepenuhnya dinikmati oleh para petani dan peternak yang jadi anggotanya.    “Prioritas kami  menghasilkan nilai lebih dari setiap tetes susu petani,” ujarnya. 

Fontera bisa disebut sebagai pemelihara tradisi persusuan sejak  abad 19 di Selandia Baru. Inilah satu dari perusahaan gabungan koperasi-koperasi susu terbesar dunia yang sanggup menyejahterakan peternak dan petani anggotanya.

 

Secara resmi Fonterra baru terbentuk pada 2001, hasil merger the New Zealand Dairy Board (badan usaha milik Pemerintah Selandia Baru yang mengelola bisnis persusuan di negara ini) dengan dua koperasi persusuan terbesar, New Zealand Dairy Group dan Kiwi Co-operative Dairies.  Dalam perjalanannya perusahaan berbadan hukum koperasi ini mampu bangkit dan menjadi  salah satu perusahaan susu terbesar di dunia.  Pabrik pengolahan susu Fonterra tercatat sebanyak 60 buah yang tersebar di berbagai negara, sebagian besar di Selandia Baru dan Australia.  Koperasi dengan anggota 10,500 peternak sapi perah dan petani Selandia Baru ini  mempekerjakan karyawan sebanyak 18.000 orang. Sedangkan produknya tersebar di 140 negara.   Dalam daftar Global List  International Co-operative Alliance (ICA)  Fonterra berada  di peringkat  ke 26 dari 300 Koperasi Besar Dunia.

Fonterra  memproduksi bermacam ragam produk dari susu mulai dari mentega, keju, susu bubuk, susu cair, hingga es cream. Selain itu, Fonterra  juga memproduksi bahan atau ramuan dari susu (dairy ingredient) untuk membuat bermacam produk makanan dan minuman yang selain untuk konsumsi dalam negeri juga di ekspor ke banyak negara di dunia.

 

Banyak di antara produk-produk Fonterra secara khusus diproduksi untuk kesehatan tulang, kesehatan ibu-ibu hamil atau kesehatan anak-anak, yang dikemas dalam berbagai bentuk produk seperti susu bubuk, keju, mentega, atau suplemen kesehatan.

 

Untuk dapat memenuhi tuntutan  konsumen yang selalu menginginkan yang serba baru, dan juga dalam rangka persaingan global, Fonterra memiliki dua fasilitas riset di Selandia Baru dan di Australia. Fasilitas itu memiliki jaringan global sehingga selalu dapat merespon kebutuhan konsumennya yang tersebar di berbagai negara.   Selain berpangkalan di negeri sendiri, Fonterra juga banyak melakukan kegiatan usahanya di beberapa negara Asia Pasifik, Amerika Utara dan Selatan, dan terutama di Australia.

 

Abad 19

Dalam sejarahnya, koperasi susu Fonterra yang saat ini sudah mendunia dirintis sejak 1814 oleh seorang misionaris membawa seekor sapi jantan dan 2 ekor sapi perah betina. Iklim sedang di negara ini memungkinkan peternakan sapi perah dapat berkembang biak dengan pesat. Seiring dengan perkembangan ini, untuk pertama kali para peternak sapi pada 1871 mendirikan koperasi keju. Tak lama berselang dibentuk koperasi-koperasi persusuan lain, sehingga pada 1930an, sudah berdiri lebih dari 400 koperasi susu yang berarti mayoritas pabrik susu di Selandia Baru di kuasai oleh koperasi.

 

Sayangnya, sedemikian banyak koperasi berjalan tanpa koordinasi yang baik sehingga mereka menghadapi kesulitan saat akan menjual produknya ke luar negeri. Hal itulah yang membuat pemerintah di negara itu mulai memikirkan cara untuk mengatasi kesulitan itu.

 

Pemerintah Selandia Baru pada 1923 mendirikan Badan Pengendali Produksi Susu Ekspor (BPPSE) yang mengawasi semua kegiatan ekspor susu. Dalam kurun waktu 1930–1960an, badan ini telah berhasil memperkuat posisi para petani dalam memasarkan produknya, sehingga dapat memberi keuntungan yang lebih baik dan industri susu pun terus berkembang hingga kesejahteraan para peternak semakin meningkat.

 

Dengan makin pesatnya pemasaran produksi susu ke luar negeri, meningkat pula kebutuhan koperasi-koperasi susu itu untuk menyatukan kekuatan, sehingga pada 1960an dari 400 koperasi susu dikonsolidasikan tinggal menjadi 168 koperasi.

 

Pada saat ini pula ada kebutuhan dari koperasi-koperasi susu untuk mencari pasar alternatif, setelah Inggris sebagai negara importir produk susu Selandia Baru terbesar, pasar diperluas hingga negara-negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa.

 

Usaha koperasi-koperasi susu itu pun semakin berkembang, sampai pada 1980an BPPSE telah memiliki 19 anak perusahaan (subsidiries) di luar negeri. Jumlahnya terus bertambah hingga pada 1995 menjadi 80 anak usaha, sehingga menjadikan badan ini sebagai jaringan pasar produk susu terbesar di dunia. BPPSE ingin agar usahanya dapat lebih kuat bersaing di pasar negeri, oleh karena itulah koperasi susu itu berusaha mengkonsolidasi anak usaha, sehingga pada 1996 tinggal 12 koperasi.

 

Seiring dengan perluasan pasar di luar negeri produk-produk barupun dikembangkan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar bagi peternak. Selama ini produk mentega dan keju yang menjadi andalan ekspor ke Inggris, kemudian dikembangkan produk baru berupa susu bubuk.

 

Selama tahun 1990-2000 dorongan untuk menyatukan kekuatan diantara koperasi-koperasi susu semakin kuat saat BPPSE menyerahkan asetnya kepada koperasi-koperasi ini. Pada akhir tahun 2000 lebih dari 95% industri susu hanya dikuasai oleh dua perusahaan besar saja, yaitu Kelompok Persusuan Selandia Baru/KPSB (New Zealand Dairy Group) dan Koperasi Susu Kiwi (dua koperasi kecil menguasai  5%).

 

Tekanan deregulasi pada 1990an, telah mendorong perusahaan/koperasi-koperasi susu  menyatukan diri. Keinginan ini baru tercapai pada Juli 2001, saat 84% para peternak menyetujui penggabungan (merger), BPPSE, KPSB dan Koperasi Kiwi. Kesepakatan ini, dibulatkan pada Oktober 2001 yang menandai kelahiran perusahaan susu baru yakni Koperasi Fonterra, dengan pemilik 96%  peternak sapi perah di Selandia Baru. Koperasi Fonterra saat ini diakui sebagai salah satu koperasi yang berhasil dan menjadi koperasi susu nomor 6 terbesar dari segi volume usahanya.

 

Ramah Lingkungan

Fonterra bukan sembarang koperasi, namun merupakan koperasi yang memiliki tanggung jawab yang tinggi. Koperasi susu itu banyak terlibat dalam upaya mengatasi dampak lingkungan misalnya kegiatan yang dirumuskan dalam Strategi Industri Susu bagi Manajemen Lingkungan yang berkesinambungan,. Persetujuan Perusahaan Susu tentang Sungai yang Bersih, Konsorsium Riset Gas, Rumah Kaca Pedesaan, dan Standar Industri Sosial mengenai Sistem Manajemen Lingkungan.

 

Sebanyak 75 persen peternak anggota Fonterra juga sudah memindahkan ternaknya dari lingkungan sekitar sungai dan danau. Koperasi ini juga sedang menyelesaikan jalan kereta api untuk pengangkutan susu yang menggantikan sekitar 45.000 truk, yang berarti akan mengurangi sekitar 3.000 karbon dioksida pertahunnya.

 

Dalam kebijakan lingkungan secara menyeluruh pada 2006, Fonterra sangat menaruh perhatian pada pengurangan polusi, pemusnahan limbah dan program pendidikan dan kesadaran para pihak terkait dengan produksi persususan maupun masyarakat mengenai lingkungan.

 

Atas pelaksanaan tanggung jawab sosial tersebut, khususnya kepedulian pada lingkungan, Fonterra telah mendapat beberapa penghargaan, seperti Ecolab Eco-effienciency Award, Commercial/Industrial Environmental Award, Sustainable Bussiness Network Award for Investation. Usaha-usaha yang telah mengantarkan koperasi itu sebagai usaha yang ramah terhadap lingkungan sekitarnya. ( Irsyad Muchtar ).

Share This:

You may also like...