Pemberdayaan Swakarsa Perempuan Meksiko

Studi yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menemukan fakta: Amerika Latin merupakan kawasan yang paling maju dalam mendorong pemberdayaan perempuan melalui kebijakan sosial yang progresif.

 

CUETZALAN del Progreso, yang terletak di Negara Bagian Puebla, Meksiko, merupakan kota yang kaya akan warisan budaya pribumi. Dengan karakteristik iklim dan geografisnya, banyak orang menjadikan kota ini sebagai panduan perlindungan keanekaragaman hayati. Daerah Cuetzalan juga dikenal akan vegetasinya yang lebat, rangkaian pegunungan dan berbagai air terjun.

Penduduk asli Cuetzalan keukeuh mempertahankan budaya dan tradisi mereka. Kota ini jadi unik karena tidak tergerus oleh perputaran waktu. Lebih dari 80% penduduk kota berasal dari Náhuatl. Mereka hidup dengan nilai-nilai warisan nenek moyang. Khususnya tradisi yang didasarkan atas pelestarian dan penghormatan terhadap alam. Ini sangat membantu mencegah datangnya kegiatan pertambangan yang bakal mengubah ekosistem Cuetzalan.

Secara umum, kebijakan pemerintah Amerika Latin terhadap kalangan berkekurangan cukup  positif. Ada bantuan tunai untuk kaum miskin di Brazil, Argentina, Ekuador, dan Meksiko. Ada pengaturan upah minimum untuk pekerja informal di Brasil, Kosta Rika, Meksiko dan Peru. Faktanya,  7 dari 100 pekerja perempuan di Amerika Latin bekerja di sektor domestik, yang secara tradisional tidak dilindungi oleh Undang-undang.

Koperasi dan prakarsa para wanita

Berjalan menelusuri jalan batu kuno Cuetzalan, Rebecca penulis laporan ini,  tiba di sebuah hotel yang sangat unik. Seorang perempuan bernama Doña Rufina menyambutnya dengan ramah. Sorot matanya memancarkan jiwanya yang tangguh.   Lebih dari 33 tahun yang lalu, Doña Rufina adalah salah seorang pendiri koperasi wanita pribumi. Koperasi itu bernama: Masehual Siuamej Mosen Yolchicuauani (Perempuan Pribumi yang Saling Membantu).

Organisasi niaga ini didirikan dengan tujuan memberdayakan kaum perempuan secara ekonomi. Secara sekaligus juga terkandung maksud menjaga identitias kepribumian mereka. Di masa-masa awal, fokus koperasi ini adalah membantu kaum perempuan menjualkan hasil kerajinan mereka dengan harga yang layak. Dengan cara ini, mereka dapat meningkatkan kualitas hidup, menyediakan lebih banyak lapangan pekerjaan, dan membatasi jumlah mutasi warga ke tempat lain yang secara ekonomi lebih menjanjikan.

Di daerah pedesaan di Meksiko, seperti halnya di banyak negara Amerika Latin, kepala keluarga sering kali harus pergi ke kota besar, bahkan ke luar negeri. Kepergian itu tak lain untuk mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Dengan kondisi ‘single parent’ seperti ini, kaum perempuan bertanggung jawab atas keluarga mereka, mulai dari mengurus anak, pergi ke ladang, hingga menyiapkan makanan.

Doña Rufina dan rekan-rekannya tergerak untuk mengubah status quo ini, tanpa kehilangan akar budaya. Untuk tujuan tak gampang ini, mereka memulai gerakan feminisme. Melalui koperasi, mereka melangkah menanggulangi masalah yang melilit para anggota. Sehingga, koperasi ini tumbuh meluas menjadi semacam sekolah. Di situ para anggota belajar membaca dan menulis, berbicara bahasa Spanyol, juga meningkatkan kualitas produk kerajinan tangan mereka. Mereka juga belajar mengenai hal-hak perempuan, termasuk pendidikan mengenai kekerasan dalam rumah tangga.

Pada tahun 1995, seiring dengan meningkatnya sektor pariwisata di Cuetzalan, Koperasi Perempuan Pribumi yang Saling Membantu melakukan langkah maju yang besar. Rufina dan kawan-kawan memprakarsai berdirinya sebuah hotel. Salah satu hotel pertama di kota tersebut.

Inilah cikal bakal lahirnya Hotel Taselotzin (“Tunas Kecil Kami”). Taselotzin dikelola sepenuhnya oleh para perempuan. Dewasa ini, sekitar 100 orang (dari 6 komunitas) menjadi bagian dari prakarsa itu. Mereka mendapat manfaat dari berbagai kegiatan yang berlangsung di sana.

Melestarikan budaya dan warisan pribumi

Sebagai pengunjung, setiap dolar yang anda keluarkan di hotel Taselotzin diinvestasikan langsung ke koperasi guna membantu kaum perempuan dan keluarga mereka. Pada saat rapat anggota tahunan (RAT), sisa hasil usaha (SHU) dibagikan kepada anggota sesuai tingkat partisipasi mereka. Produk kerajinan dijual di bawah kebijakan perdagangan yang adil. Keuntungannya diinvestasikan dalam bentuk dana yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan produk. Di samping itu, hotel juga mempunyai sistem kredit mikro yang dapat diakses semua anggota.

Selain sebagai sarana bagi koperasi untuk menghasilkan pendapatan sendiri dan membantu menjaga keutuhan masyarakat, Taselotzin didirikan dengan satu tujuan penting lainnya. Taselotzin juga menjadi cara untuk melindungi warisan pribumi dan memelihara lingkungan. Budaya pribumi sangat penting dalam keyakinan akan “Ibu Pertiwi”, yang sayangnya saat ini semakin terkikis di sebagian besar masyarakat.

Di Taselotzin, semua sampah dipisahkan dan sampah organik digunakan sebagai kompos untuk kebun-kebun. Kaum perempuan bekerja keras melestarikan ruang-ruang hijau. Efeknya dapat dirasakan langsung untuk kedamaian dan ketenangan, di samping untuk menjamin kualitas udara yang lebih higienis bagi kesehatan manusia.

Taselotzin tidak hanya memiliki kamar-kamar indah yang memamerkan identitas budaya para pendirinya, tetapi juga menawarkan restoran tradisional, aneka tamasya dengan pemandu lokal (Temascal, bengkel perajin, tamasya hiking) serta berbagai pilihan kerajinan dan produk herbal yang mereka buat sendiri.

Taselotzin ini merupakan contoh yang bagus sekali mengenai pariwisata pribumi di Meksiko dan mereka bekerja dengan kelompok-kelompok perempuan dari daerah lain untuk berbagi pengalaman. Mereka juga merupakan bagian dari jaringan pariwisata pribumi Meksiko (RITA), dan mendorong pertukaran produk dan kerajinan lokal dengan organisasi-organisasi sejenis.

Doña Rufina dan rekan-rekannya adalah penjaga yang bangga akan warisan pribumi mereka. Kisah ini dengan senang hati akan mereka bagi kepada Anda saat Anda tinggal di Taselotzin.●(Irsyad Muchtar)

Share This:

You may also like...