Pelaku Industri Minta Pemerintah Lanjutkan Realisasi Impor Garam

Iliustrasi-Foto: Suara Merdeka

JAKARTA—-Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) meminta pemerintah untuk segera merealisasikan impor garam industri yang masih tersisa sebesar 1,1 juta ton hingga akhir tahun.

Menurut Sekretaris Jenderal AIPGI Cucu Sutara sampai saat ini, stok persediaan garam di seluruh industri sudah mencapai ambang kritis yakni 77 ribu ton. 

“Jumlah tersebut terbilang sangat sedikit apabila dibanding dengan kebutuhan semua industri yang mencapai 2,7 juta ton per tahun atau sekitar 225 ribu per bulan. Kebutuhan tersebut dapat lebih tinggi apabila ada situasi signifikan, seperti lebaran dan tahun baru,” ungkap Cucu usai rapat koordinasi di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (20/8). 

Lanjut Cucu, kuota impor garam industri sepanjang 2019 adalah 2,7 juta ton. Sampai akhir Juni, realisasi impor tersebut baru mencapai 1,54 juta ton.

“Total tersebut termasuk untuk kebutuhan aneka pangan dan industri lain seperti chlor alkali plant (CAP) hingga pulp dan kertas,” kata dia.

Pihak industri tidak berencana meminta impor tambahan. Mereka hanya menunggu penyelesaian realisasi impor yang masih kurang 1,1 juta ton tersebut, karena kebutuhannya sangat mendesak. 

“Dampak kekurangan stok bahan baku tersebut bahkan sudah memberikan dampak negatif terhadap industri.  Sejumlah perusahaan anggota AIPGI kini sudah ‘merumahkan’ karyawannya dan memberhentikan kegiatan produksi,”  papar Cucu lagi.

Cucu memproyeksikan, stok 77 ribu ton yang ada di gudang seluruh industri saat ini hanya dapat bertahan sampai September.  Sementara untuk memenuhi sisa kebutuhan garam, Cucu mengakui, industri masih sulit menggunakan garam petani lokal.

“Garam lokal belum dapat memenuhi persyaratan standar industri. Misalnya, kandungan NaCL di atas 97,5 persen dan kadar air maksimum 0,5 persen,”  terang dia.

Share This:

You may also like...