Pecinta Louhan, Tak Lekang Ditelan Waktu

Masa booming louhan sudah lewat. Di awal 2000-an, aquarium berisi ikan-ikan berkepala jenong mulai disingkirkan sebagai aksesori ruangan di rumah-rumah. Tapi, komunitas penggiat ikan unik ini terbukti tahan banting. Anggotanya dari berbagai kota.

 

SEMARAK batu akik pernah melanda negeri ini. Begitu juga kembang lidah mertua. Di masa keemasannya, mereka yang tak ikut menyemrakkannya cenderung dianggap kurang modist, nggak up to date, miskin gaul. Histeria batu akik, dahsyatnya, melanda baik lelaki maupun perempuan. Bahkan lintas umur. Sedangkan kembang lidah mertua yang mejeng di teras-teras seakan melegitimasi pemiliknya sebagai warga milenial, personel zaman now.

Kegilaan masal terhadap ikan louhan pun mencerminkan hal yang sama. Bahwa ada saatnya masyarakat sepertunya tak dapat mengelak dari wabah kolosal. Baik karena dia suka beneran, ikut-ikutan sekadar menenggang, maupun lantaran terpaksa alias hanya tergeret-geret. Di sebuah rumah, meski kontrakan kecil, belum terasa ‘absah’ jika tak diengkapi dengan aquarium—dengan (beberapa ekor) louhan sebagai penghuninya.

Kenapa louhan menarik? Ketertarikan orang terhadap ikan ini karena berbagai alas an. Sebut saja warna sisik dan dahi atau jenongnya yang menonjol (nongnong). Bahkan terakadang pada sisik louhan terdapat tanda atau marking yang berbentuk motif atau huruf mandarin, latin, atau angka. Diaitkan atau tidak dengan model berpikir mitologis, ketiga marking tersebut tetap merupakan pancaran pesona obyektif dari makhluk air asal Taiwan ini.

Sangat populer pada awal 2000-an, lalu meredup. Bukan omong kosong seseorang di tahun 1999 ngaku diizinkan bawa pulang lohan plus aquariumnya sekalian. Para pecinta ikan Louhan yang tergabung dalam Perhimpunan Pecinta Louhan Indonesia (P2LI), berikhtiar memulihkan masa jaya louhan. Kontes Indonesia Louhan Competition (ILC) digelar sejak 2014. Tahun lalu, kontes dihelat 26-30 September 2018 di Season City Jakarta. Sebanyak 328 ikan louhan dari berbagai jenis dilombakan. Peserta datang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.

“Siapa yang bilang pamor ikan louhan turun?” kata Ketua P2LI, Welly Luxza Pradana. Harga  jual louhan  pemenang akan naik tiga kali lipat. Harga termurah di ajang tersebut adalah Rp 2,5 juta, yang termahal mencapai Rp 150 juta.

Nama louhan diambil dari kata “Hua Louhan” (Taiwan) yang artinya dewi pelindung. Ikan louhan dikenal sebagai Karoi (artinya: kapal perang). Jenong pada dahi bagi masyarakat Taiwan sebagai tanda pembawa keberuntungan dalam geomansi. Perkembangan ikan louhan dimulai pada tahun 1993. Pada tahun itu louhan mulai dipelihara.

Pada tahun 1994, iblis merah Cichlid (genus Amphilophus) yang diimpor dari Amerika Tengah dan hasil hibrida parrot cichlid yang diimpor dari Taiwan  dibesarkan secara bersamaan di Malaysia. Tahun 1995 terjadi lagi spesies louhan terbaru, hasil persilangan dengan Human Face Red God of Fortune, yang disebut Five-Colors God of Fortune.

Hingga tahun 1998, terus terjadi penyempurnaan dari persilangan. Salah satunya hasil persilangan dari Seven-Colors Blue Fiery Mouth (Greenish Gold Tiger) yang berasal dari Amerika tengah dengan Louhan Jin Gang Blood Parrot dari Taiwan. Ikan louhan jenis hibrida Flowerhorn hua luo han ini merupakan generasi pertama yang kemudian diikuti oleh ikan louhan jenis Flowerhorn.

Antara tahun 1998 hingga tahun 1999 terjadi proses impor louhan jenis Flowerhorn dan Golden base dari Amerika Serikat. Dari impor itu muncul lagi dua spesies baru: yang berciri mutiara (bintik-bintik perak putih pada kulit) dan yang tidak. Golden base terdiri dari varietas yang pudar dan yang tidak. Dari segala jenis Flowerhorn, yang tanpa mutiara dengan cepat disusul popularitasnya oleh mereka yang mempunyai mutiara, menjadi skala Flowerhorn mutiara (Zhen zhu). Dengan Golden base, yang dikembangkan kulit menjadi keemasan yang menarik ditempatkan pada Flowerhorn kulit abu-abu itu.

Di pasaran Amerika Serikat pada tahun 1999 terdapat empat spesies Flowerhorn, yakni yang biasa, skala mutiara, emas, dan fader. Akibat dari penjualan secara tidak ‘tertib’, peternak komersial cenderung mengkembangbiakkan louhan tanpa memperhatikan terminologi. Akibatnya, nama jadi membingungkan dan jenis keturunannya sulit dilacak.

Pada 2000-2001, muncul lagi ikan louhan jenis baru: Kamfa. Ikan ini merupakan hasil hibrida dari setiap jenis Flowerhorn yang disilangkan dengan spesies dari genus Vieja atau dengan Parrot Cichlid jenis apa pun. Jenis ini membawa beberapa sifat baru, seperti mulut pendek, ekor terbungkus, mata cekung, dan gundukan di bagian kepala yang semakin besar.

Perkembangan Ikan louhan ini terus berlanjut hingga tahun-ke tahun. Bebagai jenis spesies baru pun ikut muncul. Tercatat terdapat ada enam jenis ikan louhan saat ini yang paling popular di antaranya yakni Chinwa, Fly Marking, Cencu, Free Head dan Classic.

Proses pengembangbiakan dan mudahnya membuahkan persilangan antarjenis menjadikan lohan dengan cepat kaya variasi. Bagi peminat awam, louhan menjadi ikan pasaran. Nggak elite. Jauh berbeda dengan arwana yang, jangankan untuk dikembangbiakkan, untuk pemeliharaannya agar kemilau siripnya tetap cemerlang memerlukan ketelatenan.●(dd)

Share This:

You may also like...