Patuna Travel, Silaturahmi di Akhir Ramadhan

Gelar buka bersama Patuna Tour & Travel kali ini dilangsungkan di kantor pusat pusat mereka, di Jl. Panglima Polim Raya No. 43 A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pertengahan Juni lalu. Ini acara kekeluargaan untuk mempererat jalinan silaturahmi di antara sesama karyawan. Sekaligus membangun saling pengertian yang positif dengan awak media.

Ritus berbuka puasa bersama ini sudah mentradisi. Setiap tahun, selama bulan suci Ramadhan, Patuna tak pernah absen melaksanakannya. “Berbuka puasa bersama karyawan menguatkan tali silaturahmi. Ini penting untuk kemajuan bersama,” ujar President Direktur PT Patuna Mekar Jaya, H. Syam Resfiadi.

Acara ini sengaja digelar menjelang di pengujung Ramadhan. Agar terasa afdhal, seiring dengan momentum cuti bersama, per tanggal 23 Juni. Turut hadir dalam acara ini Direktur Jenderal (Ditjen) Bina Umroh dan Haji Khusus Kemenag, Muhajirin Yanis. Dalam kesempatan ini, Dirjen tak lupa mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya.

“Sudah hampir lima tahun terakhir kami selalu meliburkan karyawan lumayan panjang. Seminggu sebelum dan seminggu sesudah Lebaran. Supaya mereka bisa mendekatkan diri dengan keluarga masing-masing. Selain itu, mereka diharapkan bisa itikaf dan lebih khusuk melaksanakan ibadah” tutur Syam Resfiadi.

Alasan lainnya, kegiatan bisnis umrah dan haji di akhir Ramadhan relatif tidak ramai dalam 5 tahun terakhir Calon konsumen umrah umumnya sudah makin memikirkan momen Lebaran. Sehingga, efektivitas pekerjaan (di perusahaan) juga berkurang.

Patuna berdiri tahun 1975, dan secara resmi terdaftar pada 1983. Semenjak SK Presiden mengharuskan usaha jasa ini berupa biro perjalanan pariwisata, Patuna kini memiliki 100 karyawan. Sebanyak 70 karyawan terdistribusi di lima cabang dan kantor pusat Jakarta, dan 30 orang di Saudi Arabia. Selama 34 tahun beroperasi, Partuna telah memberangkatkan ribuan jemaah haji dan umrah. Tahun ini, Patuna kebagian kuota 106 jamaah haji.

Menanggapi tentang beberapa biro perjalanan haji dan umroh yang bermasalah, Syam mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terbuai dengan iming-iming biaya murah. Menurut Syah yang juga Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan Inbound Indonesia (Asphurindo), biro perjalanan wisata nakal itu biasanya menggunakan skema Ponzi dalam manajemen bisnis mereka.

Di antara ciri pengguna skema Ponzi dalam bisnis ini, jadwal keberangkatan ke Tanah Suci yang tidak jelas. Tak ada kepastian. Masyarakat harus sangat mewaspadai harga paket umrah yang ditawarkan. Mereka ‘berani’ jualan dengan harga di bawah tarif normal: Rp 17,5 juta. “Itu tidak masuk akal. Tidak mungkin mampu menutup semua kebutuhan selama di Tanah Suci,” tutur Syam Resfiadi. (Athabi-ed)

Share This:

You may also like...