Panin Syariah Fokus ke Sektor Ritel

Pertumbuhan perbankan syariah pada 2014 secara umum mengalami penurunan. Namun tidak demikian dengan Panin Bank Syariah (PBS). Bank yang baru berusia lima tahun ini justru mencatatkan sejumlah prestasi. Direktur Utama bank Panin Syariah Denny Hendrawati mengakui berkat kerjasama tim sejumlah prestasi positif dicapainya. Bahkan, pengakuan dari berbagai lembaga independen telah diperoleh selama tahun 2014 atas pencapaian kinerja dalam beberapa kategori, seperti: tingkat pertumbuhan dan efisiensi, baik dalam lingkup industri perbankan syariah maupun perbankan umumnya. Pencapaian kinerja tersebut tidak terlepas dari keberhasilan dalam meningkatkan pertumbuhan aset dan pembiayaan, menjaga kualitas portofolio pembiayaan, dan terus melakukan efisiensi di bidang operasional.
Tahun 2014 kondisi likuiditas nasional cukup ketat, ditandai dengan naiknya tingkat suku bunga dana pihak ke 3 yang berdampak meningkatkan biaya dana. Ditengah kondisi yang sulit tersebut, bisnis PBS tetap dapat tumbuh dengan baik. Aset per Desember 2014 tercatat sebesar Rp 6,19 triliun, meningkat 52,9% dari posisi Desember 2013 (Rp 4,05 triliun). Pertumbuhan aset bank didorong oleh pertumbuhan pembiayaan dan pendanaan. Portofolio pembiayaan meningkat 84% dari Rp 2,58 triliun pada Desember 2013 menjadi Rp 4,7 triliun pada Desember 2014. Dana pihak ke 3 juga tumbuh signifikan sebesar 76%, naik dari Rp 2,87 triliun pada Desember 2013 menjadi Rp 5,0 triliun pada Desember 2014. Perolehan laba sebelum pajak juga meningkat 214 % dari Rp 29 miliar per Desember 2013 dibanding Rp 91,6 miliar per Desember 2014 (unaudited).
Pertumbuhan positif tersebut, ungkap alumni Fakultas Hukum Universitas Diponegoro ini, karena PBS memilih melakukan pertumbuhan dengan ekspansi selektif bermodalkan CAR yang masih cukup tinggi. Fokus bisnis pada tahun 2014 adalah mengembangkan pembiayaan kepada nasabah eksisting dan pembiayaan usaha kecil, mikro secara tidak langsung. Dari sisi pendanaan PBS mulai melakukan reprofiling dana pihak ketiga untuk mendapatkan dana retail yang lebih murah.

pembiayaan panin syariah
Memang secara makro ekonomi, menurut Denny, tahun 2014 merupakan tahun yang tidak bersahabat untuk bisnis perbankan Syariah. Tingkat inflasi yang tinggi, BI Rate mengalami beberapa kali kenaikan, pergolakan nilai tukar rupiah terhadap US Dolar dan beberapa peristiwa politik yang berdampak pada ketidakpastian ekonomi.
“Industri perbankan syariah tertekan dengan kondisi makro ekonomi tersebut, yang ditandai dengan tingkat pertumbuhan aset sampai dengan Oktober 2013 hanya 7,47% dari posisi Desember 2013. Dari sisi pembiayaan industri syariah mencatat pertumbuhan 6,72%. Namun tercatat peningkatan pembiayaan bermasalah ditandai dengan ratio NPF (bank konvensional menyebutnya dengan NPL) meningkat YoY dari 2,96% di Oktober 2013 menjadi 4,58% di Oktober 2014. Begitu juga rasio rentabilitas lainnya seperti ROA dan ROE, secara YoY turun, yaitu masing-masing sebesar 1,94% menjadi 0,92% dan 17,24% menjadi 5,41%,” paparnya.
Ditengah memburuknya industri perbankan syariah, ungkap penyuka manajemen risiko ini, PBS justri berhasil membukukan pertumbuhan yang signifikan, baik untuk aset, pembiayaan, dana pihak ketiga dan profitabilitas. Kualitas pertumbuhan juga tetap terjaga dengan baik seperti tercermin melalui rasio-rasio keuangan PBS yang sehat. Pencapaian kinerja keuangan tersebut telah membawa dampak besar terhadap peningkatan profitabilitas di tahun 2014.
Tingginya pertumbuhan aset PBS (52,9%) ungkap Denny, didukung oleh meningkatnya pembiayaan musyarakah, pembiayaan mudharabah, dan piutang qard. Pada tahun 2014, terdapat perubahan fokus segmen bisnis pembiayaan, yaitu berubah dari pembiayaan dengan akad jual beli menjadi pembiayaan dengan akad bagi hasil. Dampak perubahan fokus tercermin dari penurunan piutang murabahah sebesar 49,58% dibandingkan akhir tahun 2013 menjadi Rp626 miliar. Pembiayaan Mudharabah dan Pembiayaan Musyarakah yang mengalami pertumbuhan masing-masing 28,70% dan 371,69% menjadi Rp856,88 miliar dan Rp3,29 triliun.
Dari sisi pembiayaan, sampai dengan akhir tahun 2014 portofolio pembiayaan PBS secara keseluruhan berhasil tumbuh 84% menjadi Rp4,7 triliun atau bertambah Rp2,1 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2013 sebesar Rp2,5 triliun. PBS tahun 2014 memfokuskan penyaluran pembiayaan kepada nasabah dengan akad Bagi Hasil dibanding akad jual beli. Hal tersebut berimplikasi pada penurunan Piutang Murabahah sebesar Rp616 miliar atau sebesar 49,5% dari Rp1,2 triliun di akhir tahun 2013 menjadi Rp626 miliar di akhir tahun 2014. Sementara itu Pembiayaan Mudharabah mengalami peningkatan Rp202 miliar atau 30,88% dari Rp654 miliar pada 31 Desember 2013 menjadi Rp856 miliar pada 31 Desember 2014. Sedangkan Pembiayaan Musyarakah mengalami pertumbuhan sangat signifikan yaitu 371,6% pada akhir tahun 2014 dengan total pembiayaan Rp3,2 triliun, tumbuh sebesar Rp2,5 triliun dari Rp697 miliar pada akhir tahun 2013.
Di akhir tahun 2014 kualitas pembiayaan berhasil terjaga dan mengalami perbaikan dibandingkan dengan akhir tahun 2013 dengan rasio NPF gross sebesar 0,53% dan NPF net sebesar 0,15%. Hal ini sebagai bukti atas penerapan aspek prudent yang baik di semua level atas kebijakan dari manajemen berkaitan dengan penyaluran pembiayaan.
(pasang foto ibu Denny disini)
Denny Hendrawati, meniti karier dari level paling bawah dalam industri perbankkan syariah. Setelah menamatkan kuliahnya, ia bergabung ke Bank Muamalat menjadi Customer Service. Lebih dari 10 tahun, ia berkarier di Bank Muamalat, sebelum ibu satu anak ini melanjutkan kariernya di Bank Mega Syariah. Ia juga ternasuk yang membidani Panin Bank Syariah sebelum menduduki posisi puncak dibank tersebut.

Di tahun 2015, ungkap Denny, PBS memiliki strategi jangka pendek. Yakni bagaimana tumbuh secara signifikan (expansive growth), prudent dan sehat, dengan meletakkan fondasi yang kuat sebagai bank yang fokus kepada sektor ritel.
PBS akan mendorong pertumbuhan sisi liabilities (pendanaan) dan sisi aset (pembiayaan) secara seimbang. Dana institusi dan dana non ritel masih memberikan kontribusi besar terhadap penghimpunan dana. Namun, PBS akan berupaya meningkatkan porsi dana murah melalui pengembangan produk dan akuisisi nasabah ritel, melalui current account dan saving account (CASA), serta deposan perorangan. Peningkatan dana yang berasal dari CASA hanya dapat dilakukan dengan memberikan kemudahan akses bagi nasabah dengan produk-produk yang variatif dan modern berbasis teknologi.
Untuk memberikan kemudahan akses bagi nasabah, PBS akan membuka jaringan Kantor di sebagian besar ibukota propinsi yang mencakup wilayah Indonesia Bagian Barat, Tengah dan Timur. Untuk dapat menjangkau wilayah yang lebih luas di setiap propinsi, Bank berencana mengembangkan model bisnis LSB (Layanan Syariah Bank) bersinergi dengan bank induk (PaninBank, Tbk). Model bisnis LSB diharapkan dapat menjaring dan menjangkau sumber-sumberdana murah di setiap provinsi.
Peningkatan status menjadi Bank Devisa diharapkan sudah mendapat persetujuan dari regulator pada semester I tahun 2015. Dengan status Bank Devisa, akan memudahkan memasuki segmen pasar dan layanan baru yang berhubungan dengan transaksi haji dan umrah-plus, transaksi valuta asing serta meningkatkan fee base income dari transaksi remitansi.
Pertumbuhan pembiayaan tahun 2015 menuju peningkatan porsi pembiayaan UKM menjadi lebih besar dari 31% total portofolio pembiayaan. Pertumbuhan pembiayaan segmen UKM dan komersial akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2014. Hal ini ditopang dengan rencana membuka jaringan kantor di kota propinsi yang memiliki potensi ekonomi yang besar. Potensi penanaman dana dalam bentuk pembiayaan kepada sektor unggulan seperti perdagangan, infratruktur, pertanian & kelautan serta sektor jasa lainnya adalah sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang merata disetiap Propinsi.
Selain itu, PBS akan mengembangkan model bisnis pembiayaan UKM yang berbasis ekonomi kerakyatan melalui kerja sama dan sinergi dengan Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dan Lembaga Keuangan Syariah lainnya. PBS akan mengembangkan model bisnis “APEX” untuk memberikan pelayanan yang komprehensif dan terintegrasi kepada BMT dan anggota BMT. Model bisnis APEX akan dapat memperluas jaringan pelayanan kepada masyarakat sampai di pelosok pedesaan.
PBS akan terus menerus melakukan pengembangan dan perbaikan sistem Teknologi dan Informasi (TI) untuk mendukung pengembangan sektor ritel, sekaligus meningkatkan efisiensi, layanan dan menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat.
Jika dilihat dari tingat SBI yang masih di angka 7.75% dengan kurs USD terhadap rupiah yang masih berfluktuatif, dan kondisi global yang masih belum pulih, maka pada tahun 2015 diperlukan startegi yang lebih fokus untuk pertumbuhan yang selektif. Strategi PBS tahun 2015 adalah melakukan bisnis aliansi dengan mitra bisnis eksisting, baik untuk pembiayaan maupun pendanaan. Aliansi ini diperlukan agar PBS memiliki mitra untuk menilai calon nasabah, sehingga lebih prudent.

Share This:

You may also like...