Pangkalan Brandan, Sumur Minyak Masyhur di Masanya

Penemuan sumur minyak Pangkalan Brandan, sumur produksi perdana di Nusantara, 127 tahun lampau. Berjarak hanya 26 tahun dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia, 27 Agustus 1859, di Titusville, Pennsylvania.

KOTA tua Pangkalan Brandan telah sangat dikenal masyarakat. Anak-anak SD kelas 6 pun hafal bahwa kota itu penghasil minyak sejak zaman VOC. Ya. Di belahan bumi Kab Langkat, Sumatera Utara, itulah tertancap salah satu kilang minyak tertua di Indonesia. Sumur yang dieksplorasi sejak zaman Hindia Belanda. Saat ini, ada 5 Unit Operasi Daerah Produksi di bawah Pertamina, yang membawahkan daerah Aceh dan Sumatera Utara berkantor pusat di Pangkalan Brandan.

Brandan terletak di pesisir pantai timur pulau Sumatera, sekitar 60 km di sebelah utara Kota Binjai, 110 km barat laut Medan. Posisi kota sumur minyak tua itu strategis karena dilalui Jalan Raya Lintas Sumatera dan merupakan pintu gerbang Provinsi Sumatera Utara dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di hari-hari ini, Brandan menjajakan ekowisata hutan bakau sebagai daya tarik, selain kisah sejarah.

Sumur minyak Brandan ditemukan seorang Belanda bernama Aeliko Janszoon Zijlker. Ia ahli perkebunan tembakau pada Deli Tobacco Maatschappij. Persetujuan konsesi dari Sultan Langkat masa itu, Sultan Musa, diperoleh pada 8 Agustus 1883. Eksplorasi pertama dilakukan Zijlker di daerah yang belakangan disebut Sumur Telaga Tiga. Setelah dua bulan pengeboran, hasilnya hanya sekitar 200 liter minyak.

Pilihan kedua jatuh ke Desa Telaga Said. Di lokasi kedua ini, pengeboran mengalami sedikit kesulitan karena struktur tanah lebih keras dibanding struktur tanah di Telaga Tiga. Usaha memupus rintangan struktur tanah yang keras itu membuahkan hasil. Saat pengeboran mencapai kedalaman 22 meter, Zijlker memperoleh 1.710 liter minyak mentah dalam waktu 48 jam kerja.

Saat mata bor menyentuh kedalaman 31 meter, minyak yang dihasilkan sudah mencapai 86.402 liter. Jumlah itu terus bertambah hingga, pada 15 Juni 1885, ketika pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, tiba-tiba muncul semburan kuat gas dari dalam berikut mintak mentah dan material lainnya dari perut bumi. Sumur itu kemudian dinamakan Telaga Tunggal I.

Penemuan sumur minyak pertama di Nusantara ini berjarak sekitar 26 tahun dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia, 27 Agustus 1859, di Titusville, Pennsylvania. Eksplorasi ini diprakarsai Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company. Semburan minyak dari Sumur Telaga I jadi momentum pertama dan terpenting sukses penambangan minyak di Indonesia.

Nama Aeliko Janszoon Zijlker pun terpateri dalam Sejarah Pertambangan dan Industri Perminyakan Indonesia sebagai penemu sumur minyak pertama. Telaga Tunggal I itu sendiri berhenti operasi pada tahun 1934 setelah deposit mi nyak bumi yang terkandung di dalamnya disedot pemerintah Belanda melalui Bataafsche Petroleum Matschappij (BPM).

Ketika ditinggalkan BPM, jutaan barel minyak sudah berhasil mereka kuras dari bumi Langkat. Tetapi, setelah 119 tahun, sejak pengeboran pertamanya, sumur itu ternyata tidak benar-benar kering. Ketika dibangun N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada tahun 1891, dan mulai berpoduksi sejak 1 Maret 1892, kondisi Kilang minyak Pangkalan Brandan tentu saja tidak sebesar sekarang ini.

Waktu itu peralatannya masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga masih kecil. Bandingkan dengan kondisi sekarang, kilang yang berada di Kecamatan Babalan Langkat saat ini berkapasitas 5.000 barel per hari (bph), dengan hasil produksi berupa gas elpiji sebanyak 280 ton/hari, kondensat 105 ton/hari, serta beberapa jenis gas dan minyak.

Minyak pertama yang diekspor Indonesia pun bersumber dari kilang ini. Peristiwanya 10 Desember 1957. Perjanjian ekspor ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo, dengan Harold Hutton yang bertindak atas nama perusahaannya Refining Associates of Canada (Refican). Nilai kontraknya US$30.000. Kapal berangkat dari Pangkalan Susu, Langkat, pelabuhan pengekspor minyak tertua di Indonesia, yang dibangun Belanda tahun 1898.

Kilang tersebut merupakan satu dari sembilan kilang minyak yang ada di Indonesia. Delapan lainnya adalah Dumai, Sungai Pakning, Musi (Sumatera), Balikpapan (Kalimantan), Cilacap, Balongan, Cepu (Jawa), dan Kasim (Papua). Dibangun N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada 1891 dan mulai berproduksi 1 Maret 1892 dengan kapasitas 2.400 bph.

Jika diurut dengan cermat, Pangkalan Brandan merupakan kilang kedua yang dibangun Belanda. Yang pertama dibangun pada 1890, di Wonokromo. Tapi kilang di Brandan lebih populer karena kapasitas produksinya jauh lebih besar. Tanggal 7 Maret 2007, kilang minyak ikonik dan berusia lebih dari 115 tahun itu resmi ditutup.

Satu peristiwa terpenting ytang melekat dengan kota ini dikenal dengan sebutan Pangkalan Brandan Lautan Api. Tak kalah heroik dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Soalnya, kilang bersejarah itu pernah dibumihanguskan masyarakat Langkat, sebelum Belanda tiba di Pelabuhan Pangkalan Susu, Agustus 1947. Maksudnya, agar puak Belanda yang tidak mengakui kemerdekaan Republik Indonesia itu tidak bisa menguasai kembali kilang minyak tersebut.●(dd)

Share This:

Next Post

Unimed Of Brazil Koperasi Kesehatan dengan Kinerja Sehat

Ming Apr 7 , 2019
Koperasi bukan saja menjadi solusi untuk masalah perekonomian,  juga menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat.  Kekurangan rumah sakit, tenaga medis, serta biaya kesehatan bisa diselesaikan dengan  cara gotong  royong melalui koperasi.  Inilah yang ditunjukkan oleh Unimed,  koperasi kesehatan di Brazil bahkan membantu pemerintahnya. Koperasi ini mengeluarkan produk seperti asuransi kesehatan agar anggotanya […]