Palangkaraya, Kota dengan Sentuhan Planologi

Tata kotanya apik. Terancang dengan baik. Jalannya lebar-lebar. Batu pertama pendiriannya diletakkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Berulang kali diwacanakan jadi kandidat ibu kota Indonesia. Boleh jadi Palangkaraya memenuhi syarat sebagai kota impian.

           

INILAH kota di tengah Pulau Borneo yang di tengahnya mengalir sungai cantik, Sungai Kahayan. Seluas mata memantau terhampar pemandangan khas tropis. Inilah pula salah satu kota dengan wilayah terluas di Nusantara. Luasnya 2.400 km². Itu setara 3,6 kali Jakarta yang hanya 660 km². Dengan rangkuman teritorinya yang begitu besar, Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, menempati peringkat atas bersama-sama Kota Dumai, Tidore Kepulauan, dan Sorong.

Namanya Palangkaraya. Gabungan dua suku kata yaitu “Palangka” dan “Raya”. “Palangka” adalah suatu wadah, yang dipercaya sebagai lukisan gambar burung elang yang dipakai oleh Mahatala Langit (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menurunkan manusia pertama ke “Raya” (bumi). Sebelum 1958, kota yang bercikal bakal dari sebuah desa kecil di tengah hutan belantara itu bernama Pahandut, berdasarkan UU No. 21/1958.

Lantaran berasal dari hutan belantara di tepi Sungai Kahayan, pertumbuhan kota bersemboyan “Isen Mulang“ ini terbilang lamban. Kawasannya yang terbangun baru 60 hingga 70 km² atau 2,5 hingga 3% saja. Sebagian wilayahnya masih berupa hutan, termasuk hutan lindung di Sebangau, konservasi alam, dan Hutan Lindung Tangkiling.

Bisa dihitung jari kota di Indonesia yang dirancang dari nol. Palangkaraya salah satunya. Sebab, pada umumnya kota-kota bertumbuh begitu saja, bersamaan dengan populasi yang datang mengerubung bagai laron. Termasuk Jakarta, yang kini dihuni 10 juta jiwa, padahal puak kolonial Belanda merancang Batavia konon hanya untuk 1,5 juta penduduk. Itu sebabnya kita menyaksikan badan jalan yang rata-rata sangat lebar di berbagai ruas Kota Palangkaraya.

Yang terbilang istimewa, tiang pertama Kota Palangkaraya ditancapkan oleh Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, 17 Juli 1957. Ditandai dengan peresmian Monumen/Tugu Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah di Pahandut. Palangkaraya dibangun berdasarkan UU Darurat No. 10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah). Bahwa posisi kota ini di tengah Kalimantan, sekaligus di tengah Indonesia, agaknya bukan pula suatu kebetulan.

Wilayah Palangkaraya waktu itu sangat didominasi kawasan hutan. Akses untuk masuk ke sana hanya dapat ditempuh melalui sungai. Dan itulah yang dilakukan Presiden Sukarno kala itu. Di pusat kota Palangkaraya ada jalan yang dibangun oleh insinyur-insinyur Rusia pada tahun 1962. Jalan tersebut dibangun di atas lahan gambut, dengan mengeruk dalam dan ditimbun dengan kerikil. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan nama Jalan Rusia, tapi secara administratif diberi nama Jalan Tjilik Riwut.

Sebagai ibu kota provinsi, fasilitas pendukung Kota Palangkaraya cukup memadai untuk penduduknya yang juga relatif sedikit. Dikatakan memadai sepanjang tak membandingkannya dengan kota-kota besar yang lebih tua, terlebih dengan ibu kota provinsi di Pulau Jawa. Hanya memerlukan 1,5 jam penerbangan dari Jakarta. Mereka yang tak kepepet waktu biasanya memilih flight tujuan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, lalu nyambung dengan travel hampir 4 jam (194 km).

Secara administratif, Kota Palangkaraya terdiri atas lima kecamatan, yakni: PahandutJekan RayaBukit BatuSebangau, dan Rakumpit. Di bidang akomodasi, tersedia belasan penginapan hotel hingga yang berbintang empat. Rumah Sakit (7 buah), Surat kabar (8), Televisi (2), Radio (7). Fasilitas sektor Pendidikan untuk level di atas SMU terdapat: Akademi (2), Universitas (3), Sekolah tinggi (10), Politeknik (2). Beberapa rute penerbangan domestik yang dilayani oleh Bandara Tjilik Riwut: Sriwijaya Airlines, Garuda Indonesia Airlines, Lion Airlines, dan Susi Airlines.

Bicara soal populasi, seperti juga di kota-kota lain di Kalimantan, penduduk Palangkaraya hanya berjumlah 376.647 jiwa. Dibandingkan  dengan luas wilayahnya, kepadatan penduduk rata-rata 92.067 jiwa/km² (Sensus 2015). Bandingkan dengan Jakarta yang saat ini rerata mencapai 15 ribu jiwa/km². Minim penduduk tersebut tampaknya berbanding lurus dengan tak cukup tersedianya turbin ekonomi yang jadi pemicu migrasi penduduk ke sana.

Dalam catatan Biro Pusat Statistik kota itu, keanekaragaman dan harmoni berjalan seiring. Hampir tak terjadi friksi horisontal yang berarti. Suku mayoritas yang mendiami Kota Palangkaraya adalah Dayak, Banjar, Jawa, Madura, Sunda, Bali, Batak. Komposisi agama: Islam 69,65%, Kristen Protestan 26,79%, Katolik 1,37%, Budha 0,11%. Lainnya 1,04%. Bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat, selain bahasa Indonesia, adalah bahasa Dayak dan Banjar (secara umum hampir tak ditemukan lafal  ‘e’ karena posisinya diganti oleh lafal ‘a’).

Fakta paling unik tentang Palangkaraya adalah pewacanaannya sebagai nominator ibu kota Republik. Presiden Soekarno mulai mengisyaratkan kemungkinan itu sejak diresmikan. Di era Presiden Soeharto isyu serupa  juga mencuat. Begitu pula di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan di era Presiden joko Widodo, awal tahun ini. Sebegitu jauh, tak terpantau keseriusan mewujudkan gagasan itu meski tiga presiden setelah Bung Karno tak menyebut Palangkaraya sebagai alternatif tunggal.

Beberapa nilai plus kota ini membuatnya layak menggantikan peran Jakarta yang sudah kelewat over loaded. Khususnya posisi geografis Palangkaraya yang jauh dari cincin api dan boleh dibilang ‘bebas gempa’. Terasa agak kurang nyaman mukim di sana karena anatomi tanahnya yang dibangun dari gambut. Adapun untuk menjadi ibu kota Republik Indonesia, agak kurang lazim secara internasional mengingat posisinya yang tidak di pinggir pantai.

Share This:

Next Post

Puak Cia-Cia, Rasa Korea di Butung Selatan  

Sel Des 4 , 2018
Tertulis: 인다우 미아노 찌아찌아 Dibaca: Indau miano Cia-Cia Artinya: Saya orang Cia-Cia. Tipe huruf seperti itu bukan Cina, bukan Jepang. Aksara Hangeul Korea seperti itu menghiasi papan nama dannnama jalan di Baubau, Buton Selatan. Ditulis dengan aksara Korea, tapi itu bahasa Cia-Cia.             SUATU siang di Kampung Karya Baru. Seorang bocah menulis […]