Operasi Pasar Upaya Stabilisasi Harga Daging

PT Suri Nusantara menggelar operasi pasar daging pada H-2 bulan puasa untuk membantu masyarakat memperoleh daging dengan harga yang terjangkau. Kegiatan yang sudah berlangsung sejak tiga tahun terakhir ini sebagai cermin kepedulian sosial.

DAGING merupakan salah satu komoditas yang banyak dicari oleh masyarakat. Bahkan dalam situasi tertentu seperti bulan puasa atau menjelang lebaran, permintaannya selalu melonjak. Peningkatan permintaan ini pada kenyataannya sering tidak diikuti dengan tersedianya jumlah daging yang cukup. Akibatnya, masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam karena harga daging yang melambung.

Diana Dewi, Direktur Utama PT Suri Nusantara atau lebih dikenal pemilik Toko Daging Nusantara, mengatakan lonjakan harga daging biasanya terjadi karena masalah distribusi. Stok daging yang ada di gudang-gudang tidak terdistribusi secara cepat ke tengah masyarakat. “Meningkatnya harga daging menjelang puasa atau lebaran karena faktor distribusi,” kata Diana.

Data Komite Daging Sapi Jakarta Raya menyebutkan, kebutuhan daging sapi di Jakarta pada kondisi normal rata-rata mencapai 165 ton per hari atau setara dengan 700 ekor sapi. Jumlah tersebut akan meningkat 30% menjelang tiga hari sebelum bulan puasa (H-3) dan pada H-7 lebaran naik lagi menjadi 50%-70%.

Selama ini, untuk memenuhi permintan pasar, pasokan daging sebanyak 95% berasal dari impor dan sisanya dari lokal. Ketergantungan terhadap impor memang tidak bisa dihindari karena masih timpangnya pasokan dengan permintaan dari pasar. Pada 2016 saja, kebutuhan sapi rata-rata nasional diperkirakan 2,61 kg/kapita atau total mencapai 674,69 ribu ton yang setara dengan 3,9 juta ekor sapi hidup. Dari sini, produksi sapi lokal diperkirakan hanya mencapai 439,53 ribu ton per tahun (65%) atau setara dengan 2,5 juta ekor sapi. Sisanya sebanyak 1,4 juta ekor atau 235,16 ribu ton berasal dari impor dalam bentuk daging beku dan sapi hidup bakalan, atau sapi yang digemukkan di dalam negeri.

Untuk menstabilkan harga daging di pasar, selain menggenjot volume impor daging pemerintah mengadakan operasi pasar. Dalam kegiatan ini, harga daging yang ditawarkan lebih murah dari biasanya. Operasi pasar daging juga dilakukan oleh perusahaan importir daging, Toko Daging Nusantara bekerja sama dengan Perum Bulog dan KDS Jakarta Raya.

Menurut Diana, pihaknya melakukan operasi pasar daging tahap pertama bersama Bulog dan Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya pada H-2 puasa ramadan di Jatisampurna Bekasi Jawa Barat.

Hal ini merupakan bagian dari upaya mendukung langkah pemerintah dalam menstabilkan harga daging. “Operasi pasar yang kami lakukan sebagai komitmen nyata mendukung langkah pemerintah untuk menyediakan daging yang sehat dengan harga terjangkau bagi masyarakat,” kata Diana.

Sesuai dengan tujuannya untuk lebih membantu masyarakat, harga daging yang ditawarkan dalam operasi pasar daging Toko Daging Nusantara lebih rendah dari harga normal. Untuk daging fresh dijual seharga Rp90 ribu/kilogram (kg), sementara normalnya sekitar

Rp110 ribu – Rp120 ribu/kg. Sedangkan untuk daging impor beku grade 2 seharga Rp65 ribu/kg dan grade 1 Rp75 ribu/kg. Sementara harga eceran tertinggi (HET) daging beku impor dari pemerintah sebesar Rp80 ribu/kg.

Untuk kegiatan operasi pasar tersebut, Toko Daging Nusantara menyediakan total daging sebanyak 90 ton. Jumlah daging ini dibagi secara merata ke 6 wilayah yaitu Joglo, Depok, Jatiwaringin, Pondok Gede, Kranggan, dan Cirebon.

Sebagai bentuk kepedulian PT Suri Nusantara terhadap masyarakat yang kurang mampu di sekitar kelurahan kranggan di berikan 100 voucher gratis untuk mendapatkan daging masing-masing sebanyak satu kg.

Minat masyarakat untuk membeli daging di operasi pasar tersebut sangat tinggi. Bahkan mereka rela menunggu sejak pagi hari sebelum operasi pasar dimulai. Hal ini wajar mengingat daging yang ditawarkan harganya cukup miring dengan kualitas yang baik.

Diana menambahkan, kegiatan operasi pasar ini rutin dilakukan sejak tiga tahun terakhir untuk membantu meringankan beban masyarakat. Dengan adanya operasi pasar ini dapat memotong mata rantai distribusi sehingga harga bisa turun sebesar 30%. “Operasi pasar ini sangat menguntungkan masyarakat,” ucapnya.

Selain menggelar operasi pasar daging pada H-2 puasa, kata Diana, pihaknya berencana akan menggelar kegiatan serupa pada H-2 lebaran seperti yang sudah dilakukan pada tahun sebelumnya. Alasannya, pada masa itu tingkat permintaan daging sangat tinggi. Menginspirasi

Kegiatan operasi pasar daging yang diinisiasi oleh Toko Daging Nusantara mendapatkan apresiasi dari Sarman Simanjorang, Ketua KDS Jakarta Raya. Menurutnya, dengan melakukan operasi pasar perusahaan importir daging yang dipimpin Diana Dewi tidak hanya berorientasi pada profit semata tetapi memiliki kepedulian sosial. “Operasi pasar ini sangat baik bagi masyarakat dan semoga bisa menginspirasi importir daging lainnya,” ujar Sarman yang juga menjabat sebagai Plt. Ketua Umum DPP APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia).

Peran pemerintah selain menjamin ketersediaan stok daging juga harus bisa memastikan kelancaran jalur distribusinya. Sebab, masalah distribusi inilah yang kerap melambungkan harga daging menjelang bulan puasa dan Lebaran. Oleh karenanya, ia mengajak kepada perusahaan importir daging lainnya mengikuti jejak Suri Nusantara sehingga dapat membantu mempercepat distribusi daging ke pusat-pusat konsumen.

Sarman juga mendesak kepada pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Perdagangan agar memberi perhatian khusus kepada importir yang sukarela mendukung program pemerintah menstabilisasi harga daging seperti yang dilakukan perusahaan milik Diana Dewi. “Pemerintah perlu memberi perhatian khusus para perusahaan importir daging yang turut membantu program mereka,” pungkas Sarman.   (Drajat)

Share This:

You may also like...