OJK Ingatkan 60 Persen Pendanaan  Terkonsentrasi di Jawa

Iilustrasi-Foto: katadata.

JAKARTA—-Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan mengatakan pertumbuhan perusahaan teknologi pendanaan (fintech) yang pesat seharusnya dapat memperluas pemerataan pendanaan di seluruh wilayah Indonesia

“Sayangnya sekitar 60 persen pendanaan masih terkonsentrasi di pulau Jawa,” ujar Munawar  di Graha Sawala, gedung Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Rabu (27/2).

Lanjut dia, sebagai regulator, OJK berkomitmen memberikan dukungan bagi pengembangan inovasi dalam bidang jasa keuangan termasuk pengembangan fintech.  Data riset OJK pada 2016 menunjukkan gap pendanaan yang ada di Indonesia masih sangat tinggi yaitu sekitar Rp988 triliun per tahun.

“Kebutuhan pendanaan sebesar sekitar Rp1.649 triliun hanya mampu dipenuhi oleh lembaga keuangan sekitar Rp660 triliun,”  ungkap Munawar.

Dia menuturkan bahwa tingkat inklusi keuangan di Indonesia juga terbilang sangat rendah. Pada 2016 indeks inklusi keuangan hanya 67,82 persen. Di akhir tahun pemerintah menargetkan 75 persen.

Sisa sebanyak 25 persen rakyat Indonesia yang belum bisa mengakses layanan keuangan diharapkan bisa mengaksesnya dengan bantuan fintech. Kontribusi fintech terhadap pemerataan pendanaan hingga saat ini sangat tinggi   dan terbukti meningkatkan penyaluran kredit khusus kepada UMKM.

Pada 2017 dan 2018, akumulasi jumlah penyaluran pinjaman mengalami peningkatan hingga 802,32 persen dan 784,3 persen dari tahun ke tahun.

“Bahkan sampai Januari 2019, jumlah akumulasi penyaluran pinjaman telah mencapai 25,59 triliun. Hingga saat ini ada 99 fintech lending yang sudah terdaftar di OJK,”ucap Munawar.

Dari sisi peminjam dan pemberi pinjaman, data hingga Januari 2019 menunjukkan utilisasi fintech lending oleh masyarakat Indonesia.  Jumlah peminjam tercatat sebanyak 5,16 juta entitas dan jumlah pemberi pinjaman sebanyak 267.496 entitas.

“Jumlah transaksi peminjam tercatat sebanyak lebih dari 17 juta. Jumlah transaksi yang lebih banyak daripada jumlah peminjam ini menunjukkan adanya pemanfaatan fintech yang berulang,” pungkasnya.

 

Share This:

You may also like...