Nurul Azizah Kusumaningrum, Kreatif dengan Lidah Buaya

Nurul Azizah Kusumaningrum-Foto: Dokumentasi Pribadi.

BANTUL—-Sejak memutuskan terjun ke dunia wirausaha pada 2015, Nurul Azizah Kusumaningrum memilih bisnis yang dekat dengan alam. Dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya di Pertamina, karena harus mengikuti suaminya pulang ke Yogyakarta.

Bisnis yang pertama dipilihnya adalah usaha tour and guide serta homestay di kawasan Banguntapan, Bantul.  Kebetulan rumah mereka punya sirkulasi udara bagus, dikelilingi lingkungan hijau dan mereka sudah bisa menjadi guide para turis mancanegara.

Seiring perjalanan waktu alumni Teknik Geofisika ITB ini melanjutkan studi ke Selandia Baru pada Januari 2019 dan ketika pulang pada suasana pandemi Covid-19.  Homestay yang bertajuk Grassroot ini terpaksa ditutup hingga saat ini, karena turis asing juga tidak ada.

Perempuan kelahiran 1986 ini banting stir ke agribisnis dengan mengelola tanaman lidah buaya yang lebih dulu dijalankan ibunya di kawasan Watugedug Raya, Bantul, seluas dua ribu meter persegi. Magister entrepreneurship dari Universitas Otago ini membuat aneka camilan berbahan baku lidah buaya, yang didukung jahe, kelor.

Selain camilan,  Nurul juga melakukan budi daya lebah klanceng, lebah yang tidak menyengat, tetapi menghasilkan madu yang kualitasnya tiga kali madu biasa. Dari bisnisnya, Nurul meraup omzet Rp3-4 juta dari camilan per bulan dan sekira  Rp6 juta dari budi daya lebah.

Namun rencana sebenarnya ialah mengembangkan apa yang disebut sebagai natural edible coating yang gagasannya didapat dari membaca jurnal ilmiah dari berbagai negara.  Tujuannya membuat formula lidah buaya agar bisa dijadikan pelapis alami buah dan sayur.

“Saya coba berapa kali dan berhasil, tetapi saya juga menggandeng LIPI agar bisa mendpatkan formula yang bisa diajukan ke badan POM. Ini untuk memperkuat bukti bahwa lidah buaya bisa  digunakan untuk menyimpan sayur dan buah lebih lama, “ ujar Nurul kepada Peluang, Sabtu (20/2/21).

Ilustrasi-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Ke depan, Nurul berencana membuat bisnis terpadu dari hulu ke hilir. Homestay-nya akan dibuka dengam membidik segmen keluarga kecil, di mana mereka bisa belajar memaaftkan lidah buaya, lebah klanceng selain menginap.

“Hanya belum tahu kapan buka. Kapasitasnya tujuh orang maksimal, nanti nggak tahu. Nanti saat  new normal belum berani  terima banyak-banyak. Kita nggak nambah kamar. Kita sediakan untuk satu keluarga kecil dan lahannya lebih banyak untuk kebun,” pungkasnya (Irvan).

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *