Nurman Farieka, Inovator Sepatu Ceker Ayam

Nurman Farieka-Foto: LA Zone.

BANDUNG—-Sepatu dari kulit buaya biasa. Sepatu dari kulit ular juga biasa. Begitu juga sepatu dari kulit sapi, tapi sepatu dari kulit kaki ayam baru seorang Nurman Farieka Rhamdany, anak bangsa dari Bandung yang punya kreativitas tersebut. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Tentunya pria yang baru menginjak 24 tahun, tidak mendapatkan durian runtuh. Awalnya Nurman hanya pedagang sepatu kanvas di sebuah kawasan pertokoan di kota Bandung. Hilir mudik melewati restoran cepat saja, ia melihat ceker ayam kerap dijadikan limbah.

Pada 2015 Nurman melakukan riset bagaimana memanfaatkan kulit ayam ini setangguh kulit sapi, ternyata punya keunggulan dari segi kelenturan.  Ibarat menyusun puzzle, demikian yang dilakukan Nurman. Akhirnya bisa.

Tekstur yang dikeluarkan kulit kaki ayam, dengan diameter kaki yang berbeda satu sama lain menjadikan tidak ada satu pun alas kaki yang dihasilkan  serupa.  Sepintas orang menyangka sepatunya dari kulit ular atau buaya. Tapit gradasi warna khas dan titik yang menyembul dari setiap kaki,tidak dimiliki kulit hewan lain.

Mulanya  Nurman memerlukan tujuh hari untuk pembuatan sepasang sepatu kulit kaki ayam. Kini, dalam tujuh hari dapat dibuat sepuluh pasang sepatu. 

“Saat ini kita masih dalam memproduksi. Selama dua hingga tiga bulan ke belakang kita hanya membuat  40 pasang per bulan dengan empat karyawan,” ujar Nurman ketika dihubungi Peluang, Minggu (29/12/19).

Nurman mengungkapkan, harga sepatunya mulai  dari Rp400 ribu hingga Rp6 juta.  Rata-rata per bulan omzet berkisar  Rp40 hingga Rp60 juta. Stabilnya di Rp50-an juta. 

Di bawah bendera Hirka Shoes, Nurman sudah memasarkan produknya  ke Jakarta, Jabar, Jatim Kaltim, Riau, serta Sumsel. Sepatunya juga mendapat peminat di   Malaysia, Singapura, Hongkrong, Prancis, Inggris, Brazil dan terakhir dari Turki memberi  respon luar biasa.

“Ekspor belum bisa banyak karena skala produksinya hanya 40 pasang. Paddahal permintaan lumayan banyak untuk ekspor.  Dari Singapura, 2 trading minta untuk 500 pasang sepatu. Itu belum kita sanggupin karena skala produksi,” papar Nurman.

Ilustrasi-Foto: Berbagi Semangat.

Menurut Nurman lagi, usaha ini juga bertujuan untuk memperkenalkan sepatu kulit yang berbeda dengan yang lain dan ingin menjadikan sepatu ceker ayam sebagai ciri khas Kota Bandung

“Pada 2020 ini kita melakukan resolusi meningkatkan skill up, kemampuan produksi ditingkatkan menjadi 500 pasang per bulan dengan cara menggandeng pihak lain pada tahap produksi tertentu,” pungkas dia (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...