Nonghyup, Kimchi dan K-Pop

Koperasi berperan besar dalam mendorong pengembangan industri pertanian Korsel. Dipadu dengan sistem terintegrasi, kini negeri Ginseng tumbuh menjadi negara produsen pertanian termaju.

Bagi penggemar kuliner Korea tentu hafal dengan kimchi. Ya, kimchi merupakan salah satu makanan tradisional asal negeri Ginseng berupa asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Di mal-mal kini mudah dijumpai masakan kimchi.

Sementara K-Pop merupakan musik pop Korea yang digandrungi kalangan milenial hingga emak-emak. Demam K-Pop melanda beberapa negara karena daya tarik artisnya yang ganteng dan cantik. Bahkan, K-pop memberi kontribusi cukup besar terhadap perekonomian Korsel. Nonghyup adalah koperasi pertanian yang didirikan pascaperang Korea. Lalu, apa hubungan ketiganya?

Saat ini Pemerintah Korsel tengah mengembangkan pertanian terintegrasi mulai dari aspek produksi hingga pemasaran atau biasa disebut industri pertanian keenam. Kebijakannya adalah menetapkan satu daerah khusus dimana terdapat lahan pertanian, pabrik pemrosesan hasil pertanian, beserta fasilitas pendukung yang dilengkapi fasilitas pemasaran.

Dengan integrated farming tersebut, Korsel tidak hanya memproduksi beras dan kimchi saja, tapi juga membuat penanak nasinya seperti merek Yong Ma. Sementara artis-artis K-Pop menjadi bintang iklan dari produk-produk tersebut. Sehingga wajar kini hasil pertanian dan produk pendukung dari Korsel cukup populer termasuk di Indonesia.

Bagaimana peran Nonghyup?. Jauh sebelum industri pertanian Korsel berjaya seperti sekarang, Koperasi merupakan fondasi pertumbuhan sektor pertanian. Tepatnya pada 1961, ketika Pemerintah Korsel membentuk the National Agricultural Cooperative Federation (NACF) untuk mengatasi kemiskinan akut akibat derita perang. NACF atau populer dengan sebutan Nonghyup merupakan penggabungan dua entitas yaitu Bank Pertanian dan Koperasi Pertanian.

Ada empat jenis unit usaha yang dikelola yaitu pertanian dan peternakan, perbankan, asuransi dan sektor jasa. Model bisnis ini dinilai tepat bagi pertanian Korsel dimana petaninya rata-rata hanya memiliki lahan yang terbatas. Kehadiran layanan simpan pinjam dan koperasi konsumen dalam satu paket sangat membantu usaha pertanian.

Keandalan Nonghyup sudah teruji dalam segala kondisi. Ambil contoh, saat 1990 terjadi liberalisasi sektor pertanian sehingga produk impor meroket. Menghadapi hal tersebut, para pengurus membuka supermarket Hanaro Club untuk memotong rantai distribusi. Supermarket itu khusus menjual produk-produk pertanian. Dengan menguasai barang yang berasal dari para anggota, mudah bagi mereka untuk menentukan harga jual yang kompetitif. Alhasil, petani Korsel tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Kini, lebih dari 80% petani Korsel menjadi anggota Nonghyup. Sehingga wajar, sebagian besar produksi dan distribusi hasil pertanian dikuasai oleh Koperasi. Selain mendominasi pasar dalam negeri, koperasi pertanian terbesar kedua di dunia itu juga memasarkan produknya ke mancanegara.

Sejalan dengan perkembangan usaha, saat ini Nonghyup memiliki 27 anak usaha dan 2 perusahaan terafiliasi. Anggota petani pun kini menjadi warga negara kelas satu di Korsel dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi.

Kehadiran Nonghyup menjadi antitesa dari pandangan umum bahwa gerakan yang bersifat top down tidak akan berhasil. Kondisi itu sebenarnya mirip dengan pembentukan koperasi unit desa (KUD) di Indonesia. Rezim orde baru mendirikan KUD untuk mengamankan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian. Namun dalam perjalanannya KUD tidak berkembang seperti Nonghyup. Mentalitas pengurus koperasi dan birokrasi yang konsisten dalam penegakan hukum menjadi pembedanya. (Kur).

Share This: