Nilai Tukar Petani Desember 2018 Naik Tipis

Ilustrasi-Foto: Kementerian Pertanian.

JAKARTA-—Nilai Tukar Petani (NTP) secara  nasional pada Desember 2018 mencapai 103,16 atau naik 0,04 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,54 persen lebih besar dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,50 persen.

Demikian rilis dari Badan Pusat Statistik Nasional,  Rabu (2/1/2019). Provinsi Maluku mengalami kenaikan tertinggi  NTP, yaitu sebesar  0,81 persen. “Sebaliknya, NTP Provinsi Sulawesi Barat mengalami penurunan terbesar (2,34 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya,” kata Kepala BPS Suhariyanto kepda awak media.

Menurut BPS lagi selama Desember 2018 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,58 persen. Hal itu  disebabkan oleh naiknya indeks di seluruh kelompok penyusun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT), terutama Kelompok Bahan Makanan.

Suhariyanto juga mengatakan, dari semua sektor NTP di bulan Desember, hanya subsektor tanaman pangan dan peternakan yang mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 0,75% dan 0,17%.

Sementara NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat di bulan lalu tercatat mengalami penurunan tertinggi 1,16% mtm.

“NTP perkebunan rakyat turun karena harga komoditas kelapa sawit dan karet di tingkat internasional sedang tidak bagus, begitu juga biji kakao dan teh,” kata dia.

BPS juga mencatat selama Desember 2018, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp5.237,00 per kg atau naik 2,35 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.330,00 per kg atau naik 2,27 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada November 2018.

Rata-rata harga GKG di petani Rp5.714,00 per kg atau naik 1,19 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.818,00 per kg atau naik 1,12 persen. Harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp4.837,00 per kg atau naik 2,08 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.948,00 per kg atau naik 2,21 persen.

 

Share This: