Naga Bonar untuk Generasi Milenial?

Adegan Naga Bonar Reborn-Foto: Indozone.

Pada sebuah pinggir huma (ladang) di Kampung Humbang, Sumatera Utara sekitar 1920-an, seorang tokoh warga kampung menggugah kawan-kawannya arti kemerdekaan, lepas dari Belanda. Bukan saja anak-anak desa itu bisa bebas sekolah, tetapi Belanda tidak bisa seenak-enaknya memungut pajak.

Tindakan itu membuat si laki-laki itu dipanggil oleh Kapiten (mungkin maksudnya schout atau kepala polisi lokal) yang menawari pria itu menjadi mandor. Kapiten memuji bahwa Wihelmina (Ratu Belanda) adalah ibu yang baik bagi orang-orang pribumi. 

Bagi orang kulit putih dengan politik etis saja sebetulnya sudah cukup sebagai balas budi, padahal politik etis hanya menyelesaikan masalah di permukaan.   Justru dengan politik etis banyak pribumi yang sadar bahwa mereka sebetulnya terjajah, bahkan masuk lapisan ketiga di bawah timur asing dan orang Eropa dalam strata masyarakat kolonial.

Di antara yang sadar adalah pria yang bicara di huma yang ditawari jadi mandor perkebunan. Pria itu menuding foto Wihelimina dengan logat Batak yag keras (terkesan kasar bagi Kapiten Belanda itu). “Kau suruh aku agar warga kampung mau menyerahan hasil jerih payah  hutan dan ladangnya kepada Belanda karena Ibu yang baik hati itu…”  Hasilnya kepalanya ditembak oleh kapiten itu.

Pada saat yang bersamaan seorang bayi lahir di Humbang, anak dari bapak yang tewas itu pada malam dengan petir bunyi guruh seperti auman naga. Anak itu diberi nama Naga Bonar.

Adegan pembuka Naga Bonar Reborn, intrepetasi baru yang diberikan sutradara Dedi Setiadi menjadikan film ini memberikan latar belakang yang kuat tentang sosok Naga Bonar yang menjadi legenda film Indonesia ketika dibintangi  Deddy Mizwar pada 1987. 

Lewat adegan awal yang cukup panjang untuk mendalami perjalanan nasionalisme Naga Bonar, bukan saja sekadar seorang pencopet di pasar Kota Medan yang beruntung menjadi pimpinan laskar melawan upaya Belanda kembali menjajah Indonesia pada masa Perang Kemerdekaan.

Cerita terus bergulir lima tahun kemudian, Naga kecil mendorong polisi Belanda yang memaksa mamaknya  membayar pajak. Hingga dia diceburkan ke kali.  Ternyata dia mencopet jam tangan polisi Belanda itu dan Mamaknya (Rita Mutumona) marah, karena dia tidak diajar pencuri. Juga dikisahkan Naga bersama dua kawannya Lukman dan Meriam menjadi trio anak nakal.

Ketika remaja Naga (Gading Marten) merantau ke Medan, seperti lazimnya remaja Batak untuk belajar hidup. Di sana ia bertemu Meriam (Roby Tremonti) yang jadi pencopet di pasar dan Naga terbawa masalah.

Mereka juga bertemu dengan  Lukman (Rifky Alhabsi), lulusan HBS tetapi jadi pengangguran, karena sistem sosial Kolonial mendiskriminasikan pribumi. Para anak muda ini dikumpulkan Sundang Panjahitan seorang tokoh pergerakan, yang mmberikan tumpangan asal jangan jadi antek Belanda.

Naga bertemu dengan Kirana (Citra Kirana), putri seorang dokter (Gusti Randa) yang pro Belanda. Dia punya tunangan seorang tentara Belanda bernama Bastian (Delano Daniel).  Naga pun jatuh cinta.

Selanjutnya sebagian dari kisah Naga Bonar versi 1987 tetap ditemukan pada versi milenial ini. Namun unsur komedinya lebih kental. Tokoh Kirana lebih feminin dibanding Kirana versi Nurul Arifin. Bagi mereka yang sudah terlanjur menonton versi 1987 dan membandingkannya tentu saja tidak sesuai ekspetasinya. 

Naga Bonar 1987 dirancang untuk penonton untuk era itu, yang ingin komedi tetapi ingin suasana masa revolusi tetap dihadirkan sesuai dengan selera nasionalisme masa itu.  Pertempuran antar Belanda dan pejuang harus tampak serius, walau ada komedinya.

Sementara  Naga Bonar Reborn tampaknya dihadirkan untuk selera anak milenial. Tidak mengherankan sosok Kirana ditampilkan begitu gaul,  Naga Bonar juga begitu, walau tetap slogan khasnya keluar: “Apa kata dunia.”  Begitu juga dengan Naga yang harus menggendong mamaknya. Kalau mengikuti adegan pembuka bisa dimaklumi mengapa Naga mau menggendong Mamaknya.

Kalau dari segi karakter, versi milenial lebih rinci: Naga mematuhi ajaran ibunya dan dia terapkan dalam kepemimpinan.  Kalau saja tidak ada adegan awal yang begitu kuat Naga Bonar Reborn tidak akan punya kesan apa-apa.

Tokoh Bujang (Ence Bagus) juga diperdalam dan diceritakan berasal dari Sumatera Barat yang merantau ke Medan. Kehadiran Puan Maharani sebagai cameo menarik, sebagai orang pusat yang memberikan semangat mempertahankan kemerdekaan.   

Sayangnya Naga Bonar Reborn begitu banyak menonjolkan kisah cinta Naga dan Kirana juga dengan pesaing-pesaingnya yang menggunakan segala macam cara. 

Beberapa adegan romantis terlalu lebay (berlebihan meminjam istilah anak milenial)  kadang sebangun dengan sinetron atau drama ala Korea. Namun ramuan romantis ini lagi-lagi tampaknya diperuntukan untuk penonton gerenasi milenial. 

Secara keseluruhan menghidupkan kembali Naga Bonar patut diapresiasi untuk perfilman Indonesia (Irvan Sjafari).  

Share This:

You may also like...