Naga Bonar Hadir Kembali untuk Generasi Milenial

Jumpa Pers “Naga Bonar Reborn” di Jakarta, Selasa (20/8/19).

JAKARTA—-“Apa kata dunia”.  Demikian ungkapan populer yang diingat mereka yang pernah menonton film “Naga Bonar” dua belas tahun yang lalu.  Film yang berlatar belakang Perang Kemerdekaan di wilayah Sumatera Utara ini dihadirkan kembali dengan judul “Naga Bonar Reborn”.

Sejumlah tokoh lintas profesi mulai dari Trimedia Panjaitan, Gusti Randa, Harry Sanusi, Juniver Girsang dan Robert Atiam bertindak sebagai produser eksekutif.  Film remake yang disutradarai oleh Dedi Setiadi ini akan dibintangi oleh Gading Marten sebagai Naga Bonar, Kirana Larasati sebagai Kirana, Entje Bagus sebagai Bujang, Rita Matumona sebagai emak dan sejumlah bintang lainnya.

Mutiara Sani,  istri dari almarhum Asrul Sani menyambut baik kehadiran film ini. Menurut dia “Naga Bonar” bagus untuk generasi 1980-an,  sementara “Naga Bonar Reborn” pas untuk generasi milenial.  Menurut cerita dia, almarhum suaminya dulu mendiktekan naskahnya untuk diketik Mutiara, sehingga dia memahami ruh naskah film ini.

“Naga Bonar  bukan film sejarah. Ini cuplikan kejadian-kejadian di masa lalu, seperti pencuri menjadi pejuang, yang dirangkai jadi cerita,”  papar Mutiara dalam konferensi pers peluncuran trailer “Naga Bonar Reborn” di Jakarta, Selasa (20/8/19).

Sementara Gusti Randa mengungkapkan skenario remake film ini mengalami tujuh kali perubahan. Tokoh-tokoh utamanya tidak berubah, seperti Naga Bonar, Bujang, Kirana, Kapten Lukman.  Syuting juga dilakukan di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Kemudian dilanjutkan di Kabupaten Simalungun.

“Film ini sekaligus merupakan perwujudan tribute kami, sebagai pelaku industri film Indonesia untuk mengenang penulis naskah asli Nagabonar, Asrul Sani,” ucap Gusti seraya mengatakan versi film ini paling lengkap (van).

Share This:

Next Post

Pelaku Industri Minta Pemerintah Lanjutkan Realisasi Impor Garam

Sel Agu 20 , 2019
JAKARTA—-Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) meminta pemerintah untuk segera merealisasikan impor garam industri yang masih tersisa sebesar 1,1 juta ton hingga akhir tahun. Menurut Sekretaris Jenderal AIPGI Cucu Sutara sampai saat ini, stok persediaan garam di seluruh industri sudah mencapai ambang kritis yakni 77 ribu ton.  “Jumlah tersebut terbilang […]