Mustoha Iskandar Dirut Perum Perhutani Perhutani Patok Target Omset Rp 5 Triliun

Desember 2014 ini genap tiga bulan Mustoha Iskandar menjabat Direktur Utama Perum Perhutani, tetapi seabreg program telah dirancangnya untuk membawa BUMN kehutanan itu berlari kencang mendulang profit. Salah satu fokus programnya adalah menempatkan Perum Inhutani sebagai competitive leader di ekspor produk kehutanan, ia juga mencari terobosan usaha-usaha produktif lainnya yang tidak berbasis perkayuan.

Sebagai orang lama yang berkecimpung di industri kehutanan, ambisi anak Cirebon kelahiran 10 Agustus 1960 ini menggiring Perhutani menjadi perusahaan unggulan cukup beralasan. BUMN ini punya produk unggulan yang tidak dimiliki perusahaan swasta, namun kinerjanya selama ini terkesan biasa-biasa saja. Nah, bagi Mustoha yang sebelumnya menjabat Direktur Komersial Kayu Perum Perhutani, tentu sangat mafhum apa saja yang akan dilakukannya saat ini. Karenanya yang mendesak dilakukan sarjana kehutanan jebolan Universitas Gajah Mada ini, bukan sekadar merombak struktur organisasi, tetapi sekaligus mengubah mental birokrasi menuju korporasi. “Yang akan saya ubah itu adalah budaya kerja, agar perusahaan ini bisa meningkatkan kinerja usahanya,” ujarnya.

Menjadi sangat sibuk juga sangat beralasan lantaran tugas Toha tak hanya mengurusi hutan di daratan Pulau Jawa saja, Perum Perhutani kini telah bergeser menjadi induk dan holding BUMN Kehutanan yang di dalamnya juga terangkut PT Inhutani I hingga V. Pembentukan holding tersebut dinilai urgen dalam upaya meningkatkan kualitas BUMN Kehutanan yang hanya menguasai empat juta hektar dari total 60 hektar hutan produksi nasional.

Sebagai orang lama yang pernah bertugas di sejumlah posisi, antara lain Dirut PT Inhutani IV dan   Direktur Pengelolaan Sumber Daya Hutan dan Pengembangan Usaha Hutan Rakyat, peraih gelar Master of Development Management dari Economic College University Los Banos Philippines 1996 ini tentu tahu harus mulai dari mana untuk mengangkat gengsi BUMN Kehutanan, kepada Irsyad Muchtar dari Majalah PELUANG, doktor Human Resources Management Universitas Padjajaran Bandung 2006 ini bertutur mengenai rencananya ke depan membesarkan Perum Perhutani. Berikut petikannya.

 

PERUM PERHUTANI KINI BERGESER MENJADI HOLDING BUMN KEHUTANAN DENGAN LAHAN GARAP LEBIH LUAS DAN LEBIH BESAR, APA RENCANA ANDA UNTUK MEMBESARKAN KORPORAT INI KE DEPAN?

 

Yang pertama saya ingin membawa BUMN ini menjadi pemain ekspor yang tampil paling depan, selama ini kan kami hanya sebagai follower saja padahal kita memiliki produk dan infrastruktur yang lebih baik. Karenanya sejak dari sekarang saya sudah intens mengontak para atase perdagangan kita di luar negeri terutama di kawasan Eropa untuk ikut mengembangkan pasar ekspor produk perkayuan kita di negara mereka bertugas. Itu rencana saya di sektor produksi kayu, tetapi kita juga secara intensif juga mengembangkan usaha lain di sektor non kayu

APAKAH PROSPEKNYA CUKUP MENJANJIKAN?

 

Ya pastilah, yang jadi andalan kita adalah pabrik derivatif gondorukem terpentin di Pemalang berkapasitas 24.000 ton per tahun. Pabrik dengan investasi Rp 200 miliar Ini akan beroperasi pada 2015.   Kedepan memang diharapkan pendapatan dari sektor non kayu lebih besar dari kayu. Yang saya maksudkan dengan kayu adalah log. Kayu log ini 50% akan kita olah sendiri menjadi industri kayu yang berkualitas ekspor. Perhutani harus menjadi likuid sektor industri kayu kalau sementara ini kita menjadi follower. Sekarang posisi kayu dan non kayu 48% dan 52%.

USAHA NON KAYU LAINNYA SELAIN GONDORUKEM APA SAJA ?

 

Non kayu itu termasuk air, madu, objek wisata yang selama ini sudah berjalan dan akan terus kita kembangkan. Ini kan tidak perlu mengeksploitasi hutan terlalu tetapi menguntungkan dan berkesinambungan. Misalnya, wisata untuk turis — disamping travel dan transportation — yang memang tidak akan pernah padam. Masalahnya   bagaimana kita mengembangkannya sebaik dan senyaman mungkin sehingga turis yang datang tidak hanya dari dalam negeri (lokal) tapi kita juga akan menyasar para turis mancanegara.

 

MAKSUD ANDA, PERHUTANI AKAN MENGEMBANGKAN ECO-TOURISM YANG MENYUGUHKAN BERBAGAI OBJEK ALAM YANG SELAMA INI BELUM TERGALI?

 

Itu yang sedang saya pikirkan, bagaimana caranya mengembangkan wisata alam yang menarik, yang tidak hanya menjual keindahan alamnya saja tapi juga dilengkapi dengan sarana dan prasarana bertaraf internasional, seperti fasilitas hotel, transportasi maupun keramahtamahan lingkungannya sehingga kita bisa sebanyak mungkin menggaet turis asing. Dengan demikian Perhutani bisa menyumbang devisa lebih banyak sekaligus menghidupi masyarakat di sekitar objek wisata.

 

USAHA DI SEKTOR KAYU RENCANANYA APA SAJA YANG AKAN DIKEMBANGKAN?

 

Saat ini kita sedang sedang mengembangkan pabrik plywood berkapasitas 24 ribu meterkubik yang dibangun tahun lalu di Kediri Jawa Timur. Untuk tahun 2015 akan kita bangun lagi pabrik kayu di dua tempat, yaitu di Kuningan dan Banyumas.

TARGET KEUNTUNGAN ANDA TAHUN 2015?

Kita akan meningkatkan pendapatan dari sektor industri sebesar Rp 775 miliar dari pendapatan tahun 2014 sebesar Rp 554 miliar. Itu baru dari sektor industrinya saja belum dari log maupun perusahaan baru. Jika dari keseluruhan usaha kita akan mematok pendapatan sekitar Rp 5 triliun dengan laba Rp 300 miliar.

Share This:

You may also like...