Muhammad Hanif Dakhiri, “Kantor Saya Sekarang Warung Kopi”

Hanif Dakhiri-Foto:Beritaagar.

JAKARTA—-Hari-hari Muhammad Hanif Dakhiri kini banyak diisi “kopi darat” dengan teman-teman, kenalan, serta handai taulan yang selama menjadi menteri sulit mendapatkan waktu luang. Kalau pun bisa bercakap hanya melalui chat dengan WhatsApp.

“Kini banyak waktu untuk ketemuan, boleh dibilang saya sekarang ngantor di warung kopi,” selorohnya di depan para blogger dan warganet dalam acara talkshow dengan  Kompasianival di One Bell Park, Jakarta Selatan, Sabtu (23/11/19). Hanif tampil sebagai pembicara bersama mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Berbicara terkait media sosial dan blog, Hanif mengaku lebih leluasa untuk berkomunikasi  via Instagram, Twitter bahkan kembali menekuni hobinya nge-blog. Pria kelahiran Semarang 6 Juni 1972 selalu menyempatkan menjawab sendiri chatnya dan tidak menggunakan bantuan admin.

“Kalau dulu waktu menjabat komentar ada yang mengkritik dan tidak suka kepada kebijakan. Kini semua positif,” kata peraih Magister Ilmu Politik Universitas Nasional ini.

Apa kritik Pak Menteri jawab? Tanya moderator kepada Hanif. “Tidak dijawab saya capture dan saya sampaikan kepada stafnya. Kalau tidak benar dilupakan, kalau benar ditindaklanjuti,” imbuhnya, seraya mengatakan selalu membaca setiap komentar di media sosialnya.

Selama menjadi Menteri Tenaga Kerja, Hanif juga meneladani Presiden Joko Widodo bekerja keras, termasuk juga di akhir pekan. Boleh dibilang dari empat akhir pekan dalam sebulan, hanya satu untuk keluarga. “ Itu pun suka tidak terwujud,” ucap dia.

Selain punya waktu sosial yang lebih banyak, kini Hanif bisa mewujudkan obesesinya menulis novel percintaan.  Judulnya The President Love Story”. Sayangnya, Hanif mengelak pertanyaan moderator soal isinya. “Tunggu saja novel itu hadir.”

Hanif Dakhiri (tengah) dan Ignasius Jonan (kanan) di Kompasianival-Foto: Irvan Sjafari

Kebetulan ayah dari tiga anak ini juga punya hobi menulis catatan harian. Yang ditulisnya juga termasuk agenda lima tahun menjadi menterii.  

“Saya mengutip ucapan Pramudya, menulis adalah  bekerja  untuk keabadian,” tutup dia (van).

Share This:

You may also like...