Momentum Garap Energi Terbarukan

Tahun 2020 diperkirakan cadangan bahan bakar minyak (BBM)  yang bersumber dari fosil bumi Indonesia akan habis. Jika tidak menyiapkan sumber energi dari luar bahan fosil bumi, kita akan mengimpor BBM 100%.

Inilah yang dikhawatirkan banyak kalangan. Untuk itu, banyak pihak  mendesak Pemerintah untuk mengarahkan kebijakan  tentang energi dari ketergantungan pada bahan bakar fosil bumi ke sumber energi terbarukan yang potensinya sangat besar.

Salah satu sumber energi yang masih sangat potensial dikembangkan yakni energi panas bumi. Indonesia yang berada pada jalur cincin api (ring of fire) dan memiliki sekitar 150 gunung berapi, menyimpang sekitar 40% sumber energi panas bumi atau terbesar di dunia.

Potensi geotermal yang terkandung mencapai 29.000 MW mengalahkan Amerika Serikat (23.000 MW) dan Jepang (20.000 MW). Sayangnya, pemanfaatnya masih rendah. Indonesia berada di urutan ketiga di bawah Amerika dan Filipina.

Pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau PLTP menang tak semudah pembangkit lainnya. Selain biaya pengeboran yang relatif mahal, pembebasan lahan untuk PLTP pun perlu membutuhkan biaya sangat tinggi.

Indonesia juga  memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia. Diperkirakan, sumber energi panas bumi mampu menghasilkan hingga 29.835 Megawatt tenaga listrik. Namun sampai saat ini, pemanfaatan panas bumi sebagai energi alternatif belum optimal.

Lantas potensi energi yang berasal dari sumber angina juga masih terabaikan.  Dari data yang dihimpun, sebanyak 166 titik di Indonesia telah dilakukan pengukuran terhadap potensi energi angin yang dimiliki  terdapat 69 titik lokasi yang memiliki potensi cukup bagus untukpengembangan listrik tenaga angin. Sementara pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro (PLTMH) di wilayah timur Indonesia akan terus dioptimalkan. Pasalnya, potensi sumber energi tersebut sangat tinggi.

Salah satu penyebab mengapa energi terbarukan itu tidak maksmal digarap karena  harga BBM fosil yang murah. Ini yang  menghambat munculnya energi alternatif  yang berbasis  bahan bakar nabati, etanol maupun CPO.  Bahan bakar alternatif seperti gas tidak berkesempatan tumbuh karena harganya relatif dekat dengan BBM bersubsidi.

Munculnya kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi Juni bulan ini, diharapkan dijadikan momentum untuk mengarahkan penggarapan energi terbarukan. Tapi ini baru bisa kalau Pemerintah memang punya  kebijakan politik energi ke arah itu. (Yon AG).

Share This:

You may also like...