MODEL BMI SYARIAH DENGAN NORMA DAN NILAI

Pengelolaan SDM yang profesional memberikan kesempatan yang sama kepada setiap karyawan Kopsyah BMI untuk naik kelas. 5 Pilar Pemberdayaan juga konsisten dilakukan untuk mencapai kemaslahatan.

Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) telah memiliki panduan yang jelas dalam menjalankan usahanya berupa norma dan nilai. Normanya berupa kebijakan yang solutif dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong. Nilai yang diusung adalah kegiatan sosial pemberdayaan dengan semangat pemerataan ekonomi untuk kemaslahatan.

Kamaruddin Batubara, Presiden Direktur Kopsyah BMI mengatakan norma dan nilai tersebut bukan sebatas jargon tanpa makna melainkan dilaksanakan secara konkrit. “Norma dan nilai yang dimiliki telah dijalankan dalam kegiatan usaha Koperasi,” ujar Kamaruddin.

Realisasi norma untuk tujuan berkoperasi diwujudkan melalui 5 Instrumen Pemberdayaan Kopsyah BMI yaitu sedekah, pinjaman, pembiayaan, simpanan dan investasi. Sedangkan tujuan berkoperasi dimplementasikan melalui 5 Pilar Pemberdayaan Kopsyah BMI yakni ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan spiritual.

Sementara realisasi Nilai berupa kegiatan sosial yang memberdayakan melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) dan penyisihan keuntungan untuk mewujudkan 5 Pilar Pemberdayaan. Keseimbangan pelaksanaan Norma dan Nilai telah membawa Kopsyah BMI sebagai salah satu Koperasi yang paling moncer dalam urusan kinerja ekonomi dan sosial.

Kamaruddin menambahkan, keberhasilan Kopsyah BMI dalam menjalankan Norma dan Nilai tersebut terletak pada pengelolaan sumber daya manusia (SDM) mulai tahap rekrutmen sampai masa pensiun. “SDM dikelola secara transparan dan profesional sehingga dapat memberi pelayanan terbaik sesuai dengan Norma dan Nilai yang kami usung,” katanya.

Pada tahap rekrutmen, Pengurus memprioritaskan calon karyawan yang berasal dari anak anggota. Ini bertujuan untuk lebih mengenal karakter calon karyawan sekaligus sebagai bentuk apresiasi keanggotaan.

Selanjutnya proses jenjang karir melalui berbagai tahap mulai dari Staf Lapang, Asisten Manajer, Manajer KCP, Manajer Bidang di Cabang, Manajer Cabang, SPI dan Manajer Pusat. Untuk promosi dilakukan melalui serangkaian tes dan persyaratan lainnya. Dengan prinsip transparansi dan berbasis kinerja, setiap karyawan memiliki potensi yang sama untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi.

Sampai masa pensiun, Kopsyah BMI telah memiliki kebijakan yang dapat menjamin kemaslahatan karyawan setelah purna tugas. Ada 3 tunjangan pensiunan berupa asuransi yaitu Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Dana Pensiun BPJS Ketenagakerjaan, dan Dana Pensiun Lama Kerja.

Karyawan Naik Kelas

Penilaian karyawan berbasis kompetensi dan kinerja bukan hanya isapan jempol belaka. Ini dibuktikan adanya beberapa karyawan yang naik kelas, bahkan dari level office boy (OB). Seperti dialami Didin, Manajer Bidang Pembiayaan Cabang. Ia mulai bekerja di Kopsyah BMI sejak 2008 sebagai OB. Sejak awal ia tidak pernah merasa malu dengan posisinya tersebut. Dengan tekun ia mengerjakan seluruh tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Bahkan, kata Didin, proses bekerja dengan semangat kekeluargaan yang kental di BMI sangat menyenangkan. “Alhamdulilah, saya merasa bersyukur dengan posisi sekarang yang bisa disebut from zero to hero,” ungkapnya.

Berkaca dari pengalaman karirnya yang meningkat, Didin memiliki pesan kepada yuniornya. Bekerja dengan ikhlas, terus belajar, menjaga integritas, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Dengan begitu, peningkatan karir bukanlah suatu hal yang mustahil. Ke depan, ia akan tetap menjalankan prinsip kerja 5 AS (kerja kerAS, kerja cerdAS, kerja ikhlAS, kerja tuntAS, dan kerja berkualitAS).

Pengalaman serupa dialami oleh Superi, mantan OB yang kini berhasil menjabat Manajer KCP Kopsyah BMI. Karirnya dimulai dari OB (2009), staf lapang (2010), Asisten Manajer (2014) dan pada tahun ini menjadi Manajer. “Pengalaman paling menyenangkan selama bekerja di BMI adalah ketika bisa memberi solusi yang dihadapi oleh anggota,” ujar Superi.

Setelah naik kelas, Superi tidak lantas berpuas diri. Ia terus meningkatkan kualitas diri dengan memperbanyak wawasan perkoperasian, menjalankan SOP dengan benar, serta berinovasi. Atas pencapaiannya kini, ia berharap dapat menjadi inspirasi bagi karyawan lainnya.

Selain Didin dan Superi ada Achmad Safikri Batubara. Yang menarik Safikri adalah adik dari Kamaruddin, sang komandan Kopsyah BMI. Meski memiliki pertalian darah dengan Presdir, namun karirnya dimulai dari bawah, OB pada 2010. Setelah melalui proses, sejak tahun lalu ia kini dipercaya sebagai Manajer KCP. “Rasanya tidak percaya bisa menjadi Manajer. Saya merasa bangga dan tersanjung dengan amanah yang diberikan,” ungkap Safikri.

Ada pengalaman unik yang dirasakannya selama bekerja di Kopsyah BMI. Ceritanya, setiap mau tugas ke rembug pusat, ia selalu dipanggil “Bapak”. Padahal, ia merasa usianya jauh lebih muda dibanding anggota. Selain itu, ia pun dapat mencicipi fasilitas hotel saat diikutsertakan dalam pelatihan-pelatihan. Berkat kerja di BMI, ia akhirnya bisa naik pesawat pertama kalinya ke Bali.

Dengan pencapaiannya saat ini, Safikri merasa berutang budi kepada Kopsyah BMI.  Oleh karenanya ia berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dan mengajak kepada rekan maupun kenalannya untuk menjadi anggota.

WISUDA SISWA PAKET C

Bertempat di Gerai Tangerang Gemilang, pada 25 Juli 2019, Kopsyah BMI melaksanakan acara pelepasan Siswa Paket C Tahun Ajaran 2018-2019 yang diikuti oleh sebanyak 246 peserta. Ini merupakan salah satu wujud pelaksanaan 5 Pilar Pemberdayaan khususnya di sektor pendidikan.

Kamaruddin Batubara dalam sambutannya mengatakan, program bantuan pendidikan Paket C sudah dilakukan sejak 2011. Hingga kini sudah meluluskan sebanyak 2.339 siswa. “Kopsyah BMI terus berkomitmen melaksanakan 5 Pilar Pemberdayaan untuk kemaslahatan,” ujar Kamaruddin.

Acara Pelepasan Siswa Paket C turut dihadiri oleh Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Talkah Badrus, jajaran Muspida Kab. Tangerang, dan para undangan lainnya.

Peserta program Paket C merupakan anak anggota Kopsyah BMI. Dalam program ini, Koperasi memberikan subsidi sebesar Rp1,5 juta per siswa dari total biaya Rp2 juta. Sehingga setiap siswa hanya membayar Rp500 ribu hingga mendapatkan ijazah. Program ini bekerja sama dengan beberapa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ada di wilayah kerja BMI.

Beberapa lulusan Paket C sudah diterima menjadi karyawan Kopsyah BMI dengan berbagai posisi. Ada yang menjadi Satpam, administrasi dan lainnya. “Dengan modal ijazah Paket C para peserta berkesempatan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” pungkas Kamaruddin.

Share This:

You may also like...