Minim Riset, Wisata Halal Belum Punya Arah

Ilustrasi Masjid Sultan Badaruddin di Palembang-Foto: Irvan Sjafari.

DEPOK—-Riset secara komprehensif di Indonesia dalam menentukan arah kebijakan masih minim, termasuk dalam industri wisata halal.  Akibatnya masing-masing pelaku wisata halal  jalan  sendiri-sendiri, tanpa adanya kesamaan strategi. Padahal harus dilakukan lintas lembaga.

Demikian diungkapkan   Wakil Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (Inhalec), Jetti Rosila Hadi dalam sebuah diskusi di  di STEI SEBI, Depok, Jawa Barat, Sabtu (23/3/2019).

“Saya  melihat hingga saat ini  industri wisata halal di Indonesia belum mengalami kemajuan. Hal itu dikarenakan belum adanya pemetaan dan strategi konkret dalam mengembangkan dan mempromosikan destinasi wisata halal di Indonesia,” ujar Jetti.

Dia kemudian  memberikan  contoh bandara memiliki fungsi strategis sebagai pintu masuk wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal ke destinasi wisata tujuan.  Suatu bandara seharusnya menjadi media promosi wisata halal untuk lebih mengoptimalkan promosi wisata.

“Keberadaan transportasi umum di suatu kawasan harus dibenah untuk menarik kunjungan wisatawan,” ucap Jetti.

Mengutip Peta Jalan Ekonomi Halal Indonesia yang dirilis oleh Inhalec bersama lembaga riset kenamaan AS, DinarStandard, wisata halal menjadi satu dari enam sektor industri halal yang harus diprioritaskan.

Pada  2017, penduduk Indonesia menghabiskan dana hingga 10 miliar dolar AS untuk berwisata. Di level dunia, turis asal Indonesia merupakan menduduki peringkat kelima terbesar yang sering melakukan perjalanan wisata.

Pada  2025 mendatang, Inhalec memprediksi nilai ekonomi yang dihasilkan dari industri wisata halal bisa mencapai 18 miliar dolar AS atau naik 7,7 persen dari posisi 2017.

Staf  pengajar Ekonomi Islam dari  Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia Nurkholis  pernah   menyampaikan bahwa komponen terpenting dalam halal tourism ada 5 yaitu Halal Hotels, Halal Transportations, Halal Foods, Halal Tour Packages dan Halal Finance.

“Hotel yang halal seperti hotel yang tidak menyediakan minuman beralkohol atau hanya menyediakan makanan-makanan yang halal saja. Selain itu, hotel tersebut juga menyediakan fasilitas seperti Al-Qur’an dan petunjuk arah kiblat pada setiap kamar hotel.” ujar dia di sebuah seminar di Yogyakarta berapa waktu lalu.

Nurkholis juga menggarisbawahi pentingnya media sosial sebagai ajang untuk memperkenalkan suatu destinasi wisata, khususnya Halal Tourism baik berupa produk maupun jasanya.

 

Share This: