Mimpi Milineal Punya Rumah Semakin Terbatas

Generasi milineal  yang sebagian besar berkantong cekak diprediksi semakin sulit memiliki rumah karena timpangnya tingkat penghasilan dengan harga rumah. Dari sisi pasokan, hanya tersedia 5% properti di Jakarta dan sekitarnya yang bisa dijangkau kelompok ini.

Bukan hanya kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) saja yang sulit memiliki rumah tinggal. Kini, generasi yang lahir pada  awal 2000-an atau biasa disebut generasi milenial pun terancam tidak bisa punya rumah tinggal, kecuali jika diwariskan rumah oleh orangtuanya. Padahal generasi ini umumnya tergolong kelas menengah, sedikit lebih tinggi di atas kelompok MBR.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan World Bank yang dirilis Maret 2017, menunjukkan harga properti di Indonesia saat ini didominasi untuk penduduk yang berpenghasilan Rp12 juta ke atas. Sedangkan yang dapat dijangkau oleh pekerja berpenghasilan Rp 7-12 juta, suplainya hanya 5% dari total suplai rumah yang ada.  Populasi penduduk yang paling banyak adalah berpenghasilan  Rp5-10 juta (105 juta orang), penghasilan Rp3-5 juta sebanyak 65 juta orang, lebih dari Rp10 juta sebanyak 62,5 juta orang, dan dibawah Rp3 juta sebanyak 17,5 juta orang.

Problematika kepemilikan rumah bagi generasi  milenial dihadapi oleh generasi milineal di seluruh Indonesia, termasuk Jakarta sebagai barometer pertumbuhan ekonomi.  Kaum milineal merupakan 30% penduduk di Jakarta  atau sebanyak 2,8 juta orang menghadapi masalah pemenuhan rumah tinggal.

Riset Rumah123  menyebutkan, di ibukota negara itu 46% penghasilan milenial masih di bawah Rp4 juta.  Mereka yang tergolong dalam penghasilan kelompok ini hanya mampu membayar cicilan sekitar Rp1,3 juta perbulan. Padahal, 95% suplai properti di Jakarta paling banyak seharga Rp480 juta ke atas. Jelas, cicilan rumah dengan harga tersebut tidak bisa dipenuhi oleh mayoritas generasi milineal tersebut. Artinya, kelompok ini harus berebut 5% dari properti yang tersedia, dengan lokasi umumnya berada di pinggiran Jakarta.

Selain terbatasnya pasokan properti, generasi milenial dengan penghasilan pas-pasan ini juga masih harus dihadapkan pada kesulitan lain. Masih menurut riset yang sama, umumnya lokasi rumah di bawah Rp480 juta itu tinggi dengan angka kriminilitas, rawan banjir dan macet.  Pada sisi lain, hanya 6% dari generasi milineal yang berpenghasilan di atas Rp12 juta per bulan. Kelompok ini dinilai mampu mencicil rumah seharga Rp3,6 juta per bulan.

Sementara itu, harga rumah di daerah penyangga Jakarta seperti  Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi  (Bodetabe) sebanyak 75% berkisar lebih dari Rp 480 juta. Sedangkan yang kurang dari Rp 480 juta kurang sebanyak 22%. Harga rumah ini sangat mungkin terus membubung seiring dengan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol yang semakin giat dilakukan. Artinya, harapan generasi milineal untuk memiliki rumah yang nyaman di daerah sekitar Jakarta pun semakin berat.

Salah satu harapan bagi mereka untuk memiliki rumah selain dari program sejuta rumah yang sudah berjalan adalah dari Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Saat ini Komite Tapera sudah terbentuk dan proses aturan teknisnya sedang dibahas. Dengan tambahan dana masyarakat tersebut, diharapkan lebih banyak masyarakat yang dapat bantuan untuk menempati perumahan layak huni. (drajat).

Share This:

You may also like...