Metropolitan tanpa Kebanggaan

Tanggal 22 Juni 2017, Jakarta memperingati hari jadinya yang ke-489 Masalah yang melilit ibukota Republik Indoneaia makin runyam dari waktu ke waktu. Beban tradisional yang diidap Jakarta tetap sama, sebagaimana ditanggungkan kota-kota besar lainnya: macet, lapangan kerja, sampah, kriminalitas, dan banjir. Introspeksi kali ini berfokus pada dua hal signifikan. Pertama, soal kemacetan yang skalanya telah kelewat parah. Kedua, kasus reklamasi 17 pulau imitasi di Teluk Jakarta; yang ‘menambah’ wilayah Jakarta 5.100 ha. Keputusan semberono Gubernur DKI yang mantan Bupati Belitung Timur (daerah pemekaran 2003 seluas 2.507 km²), termasuk penggusuran penduduk secara niradab, berbuntut sejumlah kerumitan. Baik yang telah maupun yang akan timbul.

banjir macet sampah

Share This:

Next Post

Gusur Paksa di Kota Beradab

Kam Jun 2 , 2016
Langsung atau tidak langsung, penggusuran paksa penduduk miskin Jakarta itu langkah awal. Sebuah skenario tak sehat bisa dikaitkan dengan reklamasi di Teluk Jakarta. Secara perlahan, pribumi tersingkir seperti suku Aborigin.             Tragedi kemanusiaan di jantung Republik tak semestinya terjadi. Nyatanya tak demikian. Nyatanya, penggusuran demi penggusuran warga miskin terus berlangsung. […]