Merauke, Tugu O Kilometer di Tumpak Timur

Kulit buaya menjadi salah satu industri rumah unggulan masyarakat Merauke. Biasanya, kerajinan kulit ini diolah menjadi dompet, ikat pinggang, sepatu, tas, bahkan tas golf yang cukup unik.

NAMANYA kerap nian disebut-sebut. Entah itu dalam pidato, retorika, upacara jargon, bahkan dalam lagu bernuansa kebangsaan. Merauke. Kota ini seakan melekat dengan Sabang—Sabang-Merauke—meski yang satu di ujung barat yang lainnya di ujung timur. Ekspose Kota Sabang relatif luas di media massa. Sedangkan Kota Merauke cenderung terdengar sebagai sekadar bunyi, yang pada dirinya dipikulkan simbol nasionalisme.

Kota Merauke terletak jauh di ujung paling timur Indonesia. Sekaligus merupakan titik terakhir wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Secara politis administratif, Kota Merauke merupakan pos pemerintah Belanda masa lalu, tempat transit bagi para republikan untuk menuju Boven Digoel. Setelah wilayah Irian Jaya berintegrasi dengan Pemerintah Belanda tahun 1963, Merauke ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten Dati II Merauke.

Memang, adalah pegawai pemerintah Belanda yang pertama menetap di kota ini. Mereka mencoba hidup di antara dua suku asli yaitu Marind Anim dan Sohoers. Mereka berjuang keras melawan keganasan alam (termasuk pemburu kepala). Lama kelamaan tempat ini tumbuh cepat sehingga jadi sebuah “kota”. Resminya, Merauke ditemukan tanggal 12 Februari 1902.

Nama “Merauke” sejatinya bermuasal dari salah paham. Ketika para pendatang menanyakan penduduk asli apa nama wilayah ini, mereka menjawab “Maro ka ehe” ( “Itu sungai Maro)”. Suku Marind tentu saja tidak paham bahasa Belanda. Sejak itulah wilayah tersebut dinamai  “Maro ka ehe”, yang lama kelamaan mengalami penyederhanaan yang elok didengar, menjadi Merauke.

Dalam pemikiran Orang Marind, menyebut Sungai Maro (yang lebarnya 500 meter) lebih penting daripada menyebut nama area khas di sebuah hutan yang disebut Gandin. Penduduk asli Papua sendiri menyebut area perkampungan yang mereka huni dengan mana “Ermasoek”.

Jika para wanita elite Eropa suka memakai hiasan bulu dari burung dari kayangan Cendrawasih, asalnya dari Merauke. Orang Indonesia, Eropa dan Cina, mulai untuk “menyerbu” hutan di selatan Nugini untuk memburu Cendrawasih. Ketika pemerintah Belanda melarang perburuan, mereka kembali ke Merauke untuk menghabiskan uang yang mereka dapatkan. Itu sebab Merauke seakan jadi kota untuk para pendatang (orang asing).

Saat ini, mulai banyak penduduk asli Papua yang menetap di Merauke. Kota ini unik karena posisi geografisnya. Di Distrik Sota berdiri tugu kembar. Tugu ini hanya ada dua di Indonesia, satu di Merauke dan lainnya di Sabang. Selain itu, di Taman Sota berdiri tugu penanda batas wilayah timur paling akhir Indonesia. Selain menjadi penanda wilayah Indonesia, tempat ini juga arena wisata bagi masyarakat sekitar.

Merauke juga punya tempat-tempat wisata menarik. Misalnya, Pantai Lampu Satu yang begitu luas. Dari pantai ini terlihat salah satu mercusuar. Tempat ini juga merupakan desa nelayan yang berisi masyarakat komunitas Bugis dan Makasar. Umumnya mereka pendatang.

Wisata alamnya juga mengasyikkan. Taman Nasional Wasur salah satu yang terpenting. Di dalam taman ini dapat disaksikan keaslian alam Merauke—perpaduan wilayah rawa dan padang savanna. Habitat bagi hewan-hewan khas Merauke seperti rusa dan wasur (sejenis kangguru kecil yang keberadaannya dilindungi), kasuari, cendrawasih, flora dan fauna langka Papua dan sarang rayap Musamus yang menjulang tinggi hingga 5 meter di sepanjang perjalanan ke Sota.

Cenderamata kerajinan khas Merauke adalah barang-barang yang berbahan dasar kulit buaya. Kulit buaya menjadi salah satu industri rumah unggulan masyarakat Merauke. Biasanya, kerajinan kulit ini dapat berupa dompet, ikat pinggang, sepatu, tas, bahkan tas golf yang cukup unik dan berharga cukup mahal.

Dalam sisi kuliner pun, Merauke mempunyai makanan yang cukup khas dan unik. Daging rusa, misalnya, banyak kita temui di Merauke dan diolah dalam berbagai macam jenis makanan. Kok bisa? Soalnya, rusa merupakan hewan yang mempunyai populasi sangat banyak di Merauke dan legal secara hukum sebagai hewan buruan.

Sebagai kota terujung di timur Indonesia, Kota Merauke cukup aman, tenang dan penduduknya yang hidup damai berdampingan Kini, Merauke terus mempercantik diri sebagai kota wisata ujung timur di Indonesia. Yang juga khas, Merauke menjaga dengan baik kearifan lokal, warisan budaya berabad-abad lampau. Masyarakat adat di sini bisa hidup rukun dengan warga lain.

Pantai dan laut di Kota Merauke Papua ini juga sangat sangat indah karena masih terjaga. Orang Merauke selalu merekomendasikan datang ke Pantai Lampu Satu. Jarak pantai indah ini dari kota Merauke hanya sekitar 4 kilometer. Di pantai ini bisa dikmati sunset yang indah sambil duduk-duduk atau bermain air di laut.

Di kejauhan tampak mercusuar yang berdiri tegak menghadap laut. Alam di Merauke pada umumnya masih perawan. Hijau dan asri. Bukan hanya hutan hijau yang bikin damai, fauna liar pun hidup berdampingan dengan manusia. Merauke adalah rumah untuk suku Marind, suku asli Merauke, walau populasi mereka makin berkurang. Adat suku Marind mengharuskan masyarakat Merauke menjaga hutan sebagai pesan suci para leluhur.●(dd)

Share This: