Menyusuri Misteri Situs Gunung Padang

CERITA tentang situs megalitikum Gunung Padang, di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sungguh menggugah rasa ingin tahu. Apakah benar situs tersebut berbentuk piramida, berusia lebih tua dan lebih luas dari Candi Borobudur,  ada peninggalan teknologi tinggi di situs tersebut? Segudang pertanyaan lain menghantarkan saya mengunjungi situs megalitik pada 21 September 2014.

Situs megalitik Gunung Padang berjarak 45 kilometer dari Kota Cianjur. Dari alun-alun Kota Cianjur, dapat ditempuh selama  1,5 jam dalam kondisi normal (tidak macet). Dari Jakarta jaraknya 165 kilometer, dari tol  jagorawi bisa mengambil arah melalui puncak atau Sukabumi. Jika anda menyukai kuliner, sebaiknya mengambil jalur melalui puncak.

Dari Bandung, berjarak  sektar 110 kilometer. Perjalanan melalui jalur naik-turun, kadang aspalnya mulus dan kadang jalanan berlubang dan berbatu. Cara praktis untuk menuju lokasi ini adalah dengan menyewa mobil dari Jakarta atau Bandung.

Ada dua rute perjalanan yang mudah ditempuh menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat, yaitu melalui Pal Dua dan Tegal Sereh. Melalui jalur Pal Dua ditempuh melewati Jalan Raya Cianjur-Sukabumi, dari Desa Warungkondang maka berbeloklah ke kanan menuju ke Cipadang – Cibokor – Lampegan- Pal Dua – Ciwangin –  Cimanggu dan Gunung Padang.

Medan yang ditempuh berkelok-kelok dan bervariasi, melewati pemandangan indah perkebunan teh Gunung Manik. Hati-hati saat mengemudi,, khususnya bila berpapasan dengan kendaraan lain. Sebab jalannya sempit dengan jurang terjal disamping kiri anda. Apabila Anda melalui Jalan Tegal Sereh maka melalui rute Jalan Raya Cianjur – Sukabumi, dari Sukaraja belok ke kiri Cireungas – Cibanteng – Rawabesar – Sukamukti – Cipanggulaan – Gunung Padang. Banyak lokasi yang pas untuk berfoto dengan latarbelakang pegunungan seperti, Gunung Gede dan Pangrango.

Di sekitar situs Gunung Padang, ada pula tempat wisata sejarah bernama Stasiun Lampegan. Stasiun ini bisa menjadi pintu masuk ke situs megalitukum tersebut.

 

Jalur Kereta ke Gunung Padang

 

Jika anda ingin melengkapi wisata sejarah, sebaiknya mencoba jalur kereta api menuju situs Gunung Padang.. Rute ini belum banyak yang tahu, masyarakat hanya tahu  kereta api ekonomi KA Argo Peuyeum jurusan Bandung-Cianjur berhenti di Stasiun Cikidang (Cianjur) saja. Sebab pada 2001, jalur menuju Stasiun Lampegan ditutup akibat longsor.

Baru pada 2009, PT Kerera Api membuka jalur  tersebut dan singgah di Stasiun Lampegan.  Stasiun Lampegan adalah salah satu jejak sejarah perkeretaapian di Indonesia. Dibangun pada tahun 1882 di masa pemerintahan Belanda. Oleh pemerintah saat itu, jalur kereta ini dibangun untuk mengangkut hasil bumi seperti palawija, kopi, dan rempah-rempah.

Salah satu keunikan stasiun ini adalah setiap kereta api harus melintasi terowongan Lampegan. Berdasarkan literatur yang ada, terowongan kereta api Lampegan adalah terowongan kereta api pertama di Jawa Barat. Awalnya terowongan ini dibangun sepanjang 686 meter. Namun akibat rusak yang disebabkan gempa bumi, terowongan kini panjangnya menjadi 415 meter.

Selain suasana esotik masa lalu yang dihadirkan Stasiun dan Terowongan Lampegan, juga cerita heroik pembangunan terowongan di perut Gunung Kancana dengan cara diledakan. “Saat itu, pekerjaan membuat terowongan yang dilakukan para orang tua dan pemuda menjadi tontonan, apalagi saat diledakan bom (dinamit) untuk mempercepat pengerjaan,” ujar Eep, warga sekitar Stasiun Lampegan.

Tidak kalah menariknya adalah cerita mistik Nyi Ronggeng Sadea. Cerita raibnya Nyi Ronggeng Sadea secara turun menurun hingga kini terus berkembang dimasyarakat sekitar Kamp Lampegan, Desa Cibokor Kec. Cibeber, Cianjur

Diceritakan pada tahun 1882 Terowongan Lampegan selesai dibangun, untuk menghibur pejabat Belanda dan menak-menak Priangan, diundang Nyi Sadea, seorang ronggeng terkenal waktu itu. Usai pertunjukan, menjelang dinihari Nyi Sadea diantar pulang oleh seorang pria melalui terowongan yang baru diresmikan. Sejak itu Nyi Sadea hilang dan tidak diketahui keberadaannya.

Jika anda memilih jalur kereta, bisa melalui Stasiun Kota atau jalur kereta comutter line (dulu disebut KRL Jabodetabek), naik jurusan Bogor. Dari Stasiun Bogor, perjalanan dilanjutkan dengan kereta api jurusan Sukabumi – Cianjur. Jadwal keberangkatan kereta SUkabumi – Cianjur  ada. 3 kali keberangkatan per hari. Tarif kelas bisnis Rp40.000,- (promosi) dan ekonomi Rp20.000,- Pemandangan alam yang eksotis bisa anda jumpai selama perjalanan dengan kereta api.

 

Situs Megalitikum Gunung Padang

 

Jika anda ke Gunung Padang menempuh dengan kereta api,turun di Stasiun Lampegan, Dari stasiun banyak ojek yang siap mengantar ke lokasi dengan tarif bervariasi antara Rp25 ribu hingga Rp50 ribu, tergantung seberapa pintar anda menawar. Sekitar 30 menit anda sudah tiba dilokasi situs megalikum Gunung Padang.

Lokasinya berbukit curam dengan kemiringan sekitar 75 derajat. Tarif masuk hanya Rp 2.000, untuk mencapai puncak setinggi 100 meter,  telah tersedia anak tangga. Tangga tersebut tersusun dari 468 anak tangga dari batu andesit yang direkonstruksi ulang. Ada dua bagian anak tangga, satu tangga berbahan batu alami, ini jalur asli dan tercepat namun menguras tenaga ekstra. Jalur lainnya, anak tangga berbahan semen, rutenya lebih landai dan tidak perlu menguras tenaga, hanya jalurnya memutar.

Gunung Padang merupakan  lokasi peninggalan megalitik punden berundak. Tersusun dari batuan kekar kolom berupa balok menjadi teras berundak lima. Situs ini pertamakali ditemukan oleh Nicolaas Johannes Krom pada 1914. Krom dalam Rapporten Outdheidkundige Dienst (semacam jurnal ilmiah)  melaporkan bahwa di puncak Gunung Padang yang berdekatan dengan Gunung Melati terdapat empat teras yang disusun dari batu kasar dan dihiasi batu andesit  berbentuk lingga. Di setiap teras terdapat gundukan tanah yang ditiumbuni batu.

Struktur bangunan dari susunan batu-batu kolom berdiameter sampai 50 cm dengan panjang bisa lebih dari 1 meter ini sudah spektakuler. Bagaimana masyarakat dulu menyusunnya. Dari serangkaian penelitian diketahui babhwa Gunung Padang dibangun antara abad IV – XVI oleh masyarakat penganut tradisi megalitik. Berdasarkan naskah Sunda kuno, tempat suci sepertidi Gunung Padang disebut kabuyutan . Tradisi megalitik ini terus berlanjut ke masa Hindu-Budha.

Selain  merasakan kejayaan masa lalu, dari ketinggian situs Gunung Padang anda bisa menikmati panorama saat matahari terbit dan terbenam. Penginapan yang layak belum ada disekitar situs. Bagi anda yang ingin menginap, ada beberap rumah penduduk yang bisa dijadikan tempat untuk menginap. Soal tariff, anda bisa tawar menawar. berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per malam untuk satu orang. Makanan cukup tersedia dengan menu sederhana. Untuk menikmati wisata sejarah Gunung Padang, disarankan tidak membawa anak kecil. Karena lokasi yang cukup berat.

Share This:

Next Post

Antara Ambisi Lumbung Padi dan Gelegar Engine Industri

Sen Okt 13 , 2014
Letaknya strategis, di kawasan industri dan jalur lintas “urat nadi” perekonomian trans-Jakarta. Mudah dimengerti jika Karawang—lumbung padi nasional sejak zaman Kerajaan Mataram—melalui gairah industri, terpacu menjadi kota modern berwawasan internasional. KEDUDUKAN Karawang sebagai lumbung padi provinsi bahkan nasional tengah gamang. Musim panen memang masih berlangsung dua kali dalam setahun. Namun, […]