Menyemai benih wirausaha dengan modal hibah

 

Program bantuan modal untuk wirausaha pemula ditengarai acapkali tak tepat sasaran karena tolok ukurnya yang bias, antara memberi dana untuk belajar berwirausaha atau suntikan modal kerja kepada usahawan pemula. Namun pemerintah tetap ngotot melansir program ini demi untuk mencetak (hanya) 2% wirausaha dari total jumlah penduduk Indonesia.

Program massif bernama gerakan kewirausahaan nasional (GKN) itu kembali digelar menjelang tutup tahun 2014 lalu di Denpasar, Bali. Pesertanya tercatat sebanyak 1000 calon wirausaha muda, baik dari kalangan mahasiswa, keluarga petani, keluarga nelayan, serta kelompok strategis lainnya. Program ini, kata Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga, sangat positif lantaran Indonesia masih kekurangan para pelopor di bidang kewirausahaan. “Wirausaha kita masih 1,65% dari 240 juta penduduk, masih kecil, kita perlu minimal 2%,” katanya seraya mengingatkan ancaman pasar bebas di era MEA jika Indonesia tidak berhasil menggenjot jumlah wirausahanya.

menyemai benih usaha

Sejak dilansir pada 2010, program bantuan dana bagi wirausaha pemula dimaksudkan untuk menyemai tumbuhnya semangat bisnis di tengah masyarakat. Sasaran yang juga penting adalah lembaga perkoperasian yang dianggap punya potensi besar dalam menghimpun pelaku usaha. Selain itu, animo berkoperasi sepanjang tahun terus meningkat dimana hingga Oktober 2014 jumlah koperasi sebanyak 206.834 unit dengan anggota mencapai 34,68 juta orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 29,79% tidak aktif.  Sementara itu, jumlah UMKM pada 2013 tercatat sebanyak 57.72 juta UMKM, yang sebagian besar menemui hambatan di aspek kelembagaan, aspek produksi, aspek pembiayaan, aspek pemasaran dan aspek kapasitas SDM. Karenanya, pemberdayaan koperasi dan UKM melalui perkuatan modal dinilai mendesak dan salah satunya melalui Program Bantuan Dana Bagi Wirausaha Pemula.

Masalahnya berapa besar akurasi maupun implikasi bantuan modal tersebut mampu mendorong tumbuhnya semangat kewirausahaan? Saat meninjau sejumlah wirausaha pemula dan koperasi penerima bantuan dana stimulus itu di provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah, memang banyak yang merasa tertolong oleh program bantuan dana hibah itu, kendati tak sedikit pula yang gagal memanfaatkannya.

Bagi Kadek Dwi Putrayasa (43), misalnya, bantuan permodalan itu sangat bermanfaat bagi kelangsungan usaha dan ekonomi keluarganya. Perempuan beranak dua yang membuka toko tas kulit di Tabanan Bali ini mengenal program tersebut dari Dinas Koperasi saat berlangsung acara Gerakan Koperasi Nasional di Bali pada April 2014. Diapun langsung menindaklanjuti dan berhasil memperoleh bantuan dana sebesar Rp 21 juta. “Dana tersebut saya pakai untuk modal usaha tas kulit, sedangkan untuk laporan dan evaluasi keuangannya ke Kementerian Koperasi dan UKM saya kirim via email,” cetus Kadek kepada PELUANG Desember lalu. Dengan bantuan dana yang diterimanya pada November 2014 itu, Kadek bisa menambah stok bahan baku kulit untuk usahanya.

Sebelum menerima bantuan, Kadek sudah memulai usaha pembuatan tas dari kulit sapi dan kambing itu sejak 2012. Pemasaran produknnya semula dilakukan via online, karena banyak yang nanya dan melihat secara langsung maka sejak 2013 mantan pekerja di LSM asing ini membuka toko tas kulit dengan nama Le-D di Tabanan.

KIni dengan usahanya yang masih berusia muda itu, Kadek sudah mempekerjakan dua orang karyawan, dan omset rata-rata Rp1,5 juta per hari. Dia bertekad ingin lebih mandiri dengan target segera memiliki toko sendiri.

 

Informasi via internet

Jika Kadek mengetahui info bantuan dana hibah itu melalui kantor dinas koperasi, tidak demikian dengan I Made Putri Udayani. Mahasiswi S2 Universitas Udayana,  Bali, program lingkungan ini mengetahui bantuan permodalan dari internet. Informasi itu ditindaklanjuti dengan membuat proposal dan dikirimkan via email ke Kementerian Koperasi dan UKM.  Pertengahan 2013, dia mendapat bantuan modal sebesar Rp 25 juta yang digunakan untuk budidaya lele dan kambing.

“Untuk pemasaran saya tidak pusing, karena sudah ada pengepul yang datang. Setiap 2-3 mingguan panen sebanyak 250 kg, harga per kg nya Rp16 ribu. Saya sudah lima kali panen sejak menerima bantuan modal,”  ungkap Putri yang kini masuk semester tiga. Putri yang tinggal di Kelurahan Peguyangan, Banjar Pesari, Denpasar ini mengaku bisa mengantongi omset perbulan Rp12 juta. Belum dipootong untuk biaya dua pegawai dan

pakan. Dia bersyukur bisa membiayai sendiri kuliahnya dan membuka lapangan kerja. “Meskipun sedikit tapi bermanfaat,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Lambertus Jeharu, Ketua Pengawas Koperasi Wanita Setia Janji, Manggarai Barat, NTT. Koperasi kredit dengan anggota 166 orang kaum wanita ini menerima dana hibah Kementerian Koperasi dan UKM sebesar Rp 50 juta pada tahun 2010. “Hingga saat ini dana itu berhasil kami putar dan berkembang menjadi Rp 110 juta,” ujarnya seraya menambahkan untuk mengontrol perkembangan dana tersebut koperasi ini membuat sistem pembukuan tersendiri, terpisah dari dana koperasi yang sudah mencapai aset sekitar Rp 600 juta. Hibah Rp 50 juta itu, sambung Lambertus lagi mungkin relatif kecil nilainya di perkotaan di P Jawa. Namun, di Labuan Bajo sangat berarti, terlebih di Kopwan Setia Janji yang kebanyakan beranggotakan pedagang mikro kecil dan kalangan ibu rumah tangga.

 

 

 

Menurut Asisten Deputi Permodalan, Deputi Pembiayaan Kemenkop UKM, Herustiati, penyaluran dana hibah tersebut ke koperasi lebih terkontrol ketimbang bantuan untuk perorangan, karena umumnya koperasi sudah memiliki sistem pembukuan yang cukup rapi walaupun masih sederhana. Untuk menjaga tingkat keberhasilan pemanfaatan dana tersebut, sambung Herustiati, Kemenkop dan UKM memberikan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (bimteksos) bagi wirausaha pemula yang lolos pendanaan dalam Penyusunan Rencana Usaha. Bimteksos itu sebagai upaya peningkatan kapasitas wirausaha pemula berupa pendampingan setelah mendapat bantuan modal usaha dari pemerintah.

Menyoal penyimpangan terhadap penggunaan dana hibah itu, menurut Herustiati yang terjadi adalah kegagalan para wirausaha dalam mengembangkan usahanya. “Kalau dananya diselewengkan dalam artian dibawa kabur tidak ada, tapi kalau ada usaha yang tidak berhasil ya wajar, karena memang tidak mudah memulai wirausaha yang butuh kesabaran dan tahan banting,” tuturnya. Itu sebabnya, untuk menekan angka kegagalan wirausaha, dilakukan bimteksos agar wirausaha pemula tidak kebingungan untuk memanfaatkan uang bantuan modal sehingga pemanfaatannya tidak tepat guna,” ujarnya.

Berdasar kunjungan terhadap wirausaha di Jateng, kasus wirausaha pemula yang gagal di awal start itu memang cukup banyak. Dari 47 daftar penerima dana usaha pemula yang kami kontak melalui SMS, hanya enam orang yang menjawab. Selebihnya bungkam.

 

Agus Suwandi (24) yang kami hubungi mengaku sudah mendapat dana hibah tersebut Rp 18 juta setelah mengikuti program GKN 2013 di Jakarta. Dana tersebut digunakannya untuk bisnis aksesoris handphone yang sebelumnya memang sudah ia rintis. Sebagai wirausaha pemula, mahasiswa UIN Walisongo Semarang ini melakukan usahanya dengan cara gethok tular dari kampus ke kampus di kota Semarang.   “Dulu saya cuma punya modal Rp 100 ribu dan ketika saya mendapat kesempatan untuk mengajukan proposal ternyata dikabulkan sebesar Rp 18 juta. Langsung saya belikan barang mulai darigrosir di Semarang hingga Jakarta,” tukasnya. Awalnya usaha Agus laris manis berkat pergaulannya yang luas sebagai aktivis Kopma (Koperasi Mahasiswa), bahkan belum genap setahun ia sudah bisa membeli sepeda motor. Namun memasuki tahun pertama, usahanya mulai ngadat lantaran barang-barang yang dibelinya berkualitas buruk. “Pelanggan mulai komplain karena barang yang mereka beli baru tiga hari sudah rusak. Ternyata kebanyakan para grosir itu menipu saya, barang-barang yang rusak tidak bisa diganti,” kenang Agus yang mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 11 juta. Sebenarnya ia cukup sabar dan cepat bangkit menghadapi musibah bisnis itu, pengalamannya di Kopma yang juga acap gagal menjadi modal kuat baginya untuk terus bertahan. Namun sebagai mahasiswa semester akhir ia juga dituntut harus segera lulus disamping itu modal untuk melanjutkan bisnis aksesoris Hp nya sudah habis. Usaha itupun ditinggalkannya begitu saja.

Setali tiga uang, Ahmad Saefudin juga tidak siap fokus. Usaha kayu yang ditekuninya diserahkannya kepada temannya lantaran kalah bersaing dengan pemodal kayu besar. Mantan pekerja bangunan di Jakarta ini mengaku dapat dana hibah Kemenkop dan UKM sebesar Rp 20 juta. Awalnya dengan dana yang diakses melalui internet itu, ia berharap bisa mengubah nasibnya yang melulu hanya jadi kuli bangunan di Jakarta. Maka lelaki 54 tahun ini pulang ke kampung halamannya dan membuka usaha kayu di kota Cilacap. Tetapi agaknya ia kurang pandai memutar modal tersebut sehingga stok kayu yang dimilikinya tak mampu menghadapi persaingan pasar. Ayah tiga anak ini mencoba banting stir jadi pedagang kain, tetapi tetap saja peruntungannya pahit. “Saya kini bertani saja, sambil menunggu pekerjaan panggilan bangun ru mah di Jakarta,” jawabnya enteng

Lain halnya dengan Lilis Sukmawati, mahasiswi IAIN Surakarta Program Diploma Sastra Inggris semester V. “Mendapatkan dana tanpa adanya bimbingan dalam membuka usaha memberikan kebingungan tersendiri bagi saya. Tanpa adanya bekal pengetahuan dan bimbingan di bidang usaha, saya hanya menjalankan usaha berdasarkan naluri,” ujar penerima bantuan dana hibah tahun 2013 sebesar Rp12,5 juta ini.

Pilihan bisnisnya adalah menjual pudding biscas yang dimulai dengan pengetahuan seadanya. Produknya kemudian dijual dari kelas ke kelas dengan menggunakan keranjang makanan. Hasilnya cukup lumayan, bahkan Lilis berniat untuk menyewa tempat berjualan pudding biscanya, namun dananya masih cekak sehingga kembali ia berjualan door to door.

Mendapat dana hibah itu bagi Lilis tampaknya menjadi beban tersendiri, antara harus menyelesaikan kuliah dan perasaan bersalah karena menerima dana yang ia tidak siap menerimanya. Usahanya pun tak berjalan kontinyu. Jika ada waktu luang ia bikin pudding, jika sibuk kuliah ia pun stop berporduksi, lantaran tidak ada tim yang menggantikannya membuat dan sekaligus menjual pudding. Hasilnya, bisa ditebak. Lilis kembali melanjutkan kuliah bahasa Ingrisnya dan menunda sementara mimpinya menjadi pengusaha sukses pudding biscas.

IMG-20150104-WA0000

Para wirausaha pemula lainnya yang gagal membangun mimpi suksesnya punya jawaban beragam. Adi Dermawan di Salatiga yang mencoba peruntungannya dengan membuka usaha minuman wedang jahe, menutup usahanya begitu saja lantaran bosan. Sementara Bahrul Ulum di Demak yang ingin berbisnis Kambing Etawa malah mengaku belum mendapat dana hibah itu sama sekali, padahal ia sudah dipanggil untuk tandatangan mengambil dana sebesar Rp 24 juta.

Tentu saja terselip mutiara di sela para wirausaha yang sulit menerjemahkan arti penting fokus dalam menjalankan usaha. Eny Farida Nurhayati (54) di Semarang, agaknya bisa dibilang salah seorang penyelamat program wirausaha lantaran ketekunannya menjalankan bisnis batik rumahan. Mantan pekerja LSM ini tidak hanya menjual batik tetapi sekaligus membentuk komunitas batik khas Semarang dengan warna alami. “Program wirausaha pemula itu saya lihat di internet, saya coba ikut ternyata dipanggil ke Jakarta,” kenang sarjana jebolan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro 1986 ini. Dana yang diterimanya sebesar Rp 10 juta pada Maret 2013, langsung dibelikan alat membatik. Ini adalah pekerjaan yang sejak lama diimpikannya. “Sejak masih bekerja di LSM Proyek Pengembangan sapi perah di Batu Raden saya memang punya cita-cita ingin wirausaha dengan buka usaha batik, makanya saya sempatkan kursus membatik pada 2005,” ujarnya lagi. Sebagai pemula, Eny mengaku tidak mudah menjalankan usaha, apalagi ia belum punya pengalaman di bidang usaha. Tetapi tekadnya yang kuat untuk mandiri, membuat usahanya hingga saat ini berjalan lancar. Selain menjual di rumahnya sendiri, di bilangan Gajah Mungkur Kota Semarang, produk batiknya dengan merk Nurhayati itu juga ia titipkan di sejumlah hotel di Semarang. Setiap bulan ia bisa meraup omset hingga Rp 2 juta, memang bukan jumlah yang besar. Namun semangat Eny yang gigih dalam mengembangkan komunitas batik warna alami Jateng patut dipuji. “Saya hanya butuh akses untuk mengenalkan batik warna alami Jateng,” pungkasnya. Bagaimana menjadikan bantuan dana hibah ini tepat sasaran? Agaknya jadi tugas yang tidak ringan bagi Kementerian Koperasi dan UKM

Lantaran selama ini nyaris tidak ada feedback terhadap mereka yang telah menerima dana tersebut. Seperti yang terjadi pada Agus Suwandi, Ahmad Saefuddin atau Lilis Sukmawati yang melenggang begitu saja ketika usaha coba-coba mereka menjadi wirausaha menemui jalan buntu.

Sepanjang 2014 lalu, kucuran dana untuk program ini mencapai Rp 51,5 miliar yang disalurkan kepada 4.400 wirausaha pemula. Angka ini lebih rendah dibanding program 2013 sebesar 5.860 wirauwaha pemula dari seluruh tanah air. Monitoring dan  evaluasi pada 2013, menurut Herustiati dilakukan melalui email saja. Selain banyak dari peserta yang hanya mencantumkan alamat rumahnya saja ketimbang alamat usaha, para penerima dana juga sangat beragam tersebar di seluruh tanah air dengan kondisi geografis berbeda-beda.

Share This:

You may also like...