Menimba Kemandirian dari Sosok Ibunda

Bendera Elva Primandiri Grup semakin berkibar di jagat bisnis Tanah Air. Ratusan properti dan proyek infrastruktur dasar telah dibangunnya. Sukses itu dibangun Elva Waniza melalui tekad amat kuat, dengan menyikapi kemandirian sosok ibundanya.

elva-waniza

Dalamnya lautan bisa diukur, tetapi perjalanan takdir tak ada yang bisa menduga. Seperti dialami Elva Waniza, pemilik PT Elva Primandiri Grup, perusahaan konstruksi dan pengembang properti yang kini tengah naik daun. Wanita kelahiran Nagari Kamang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 17 Februari 1961 ini tak pernah membayangkan menikmati hidup yang berkecukupan materi seperti sekarang. Pasalnya, ia terlahir dari keluarga sederhana.

Sekitar tahun 80-an, publik mengenal Elva Waniza sebagai bintang film dan model. Nama dan popularitasnya boleh dibilang cukup laris. Namun, karier di kancah entertainment ternyata membuatnya cepat bosan. Dunia panggung dan kemilau blitz pun segera kehilangan daya tarik. Darah Minang yang mengalir di tubuhnya menuntun Elva ke profesi yang tipikal Minang. Ia terjun ke dunia usaha, bidang yang umumnya lebih banyak diminati kalangan pria.

Bagi Elva, dunia usaha sudah menantang sejak ia kecil. Keteladanan dan idola itu terpatri kuat pada sosok ibunya sendiri, seorang pegawai negeri sipil di daerah kelahirannya. Ibunda yang single parent adalah sosok wanita mandiri yang pantang menyerah. Seusai menunaikan rutinitasnya sebagai abdi negara, sang ibu masih harus nyambi sebagai penyiar radio. Tegarnya sang bunda yang merangkap peran ayah dalam membesarkan Elva, tertempa karena Elva sudah yatim semenjak bayi.

Dari etos kerja yang ditunjukkan ibunya sehari-hari, Elva memetik pelajaran bahwa (untuk mencapai) kehidupan yang layak harus diperjuangkan. Bahwa sukses dimulai dari mimpi yang diikhtiarkan dengan sungguh-sungguh. Benih-benih tekad inilah yang mendorongnya hijrah setamat sekolah menengah atas. Dari sebuah dusun kecil ia melanglang ke kota besar Jakarta pada era ’80-an.

Seperti fenomena umum di kalangan kaum urban, tidak ada bekal melimpah yang dibawanya untuk memulai perjuangannya di Jakarta. Elva muda hanya punya semangat dan sedikit keahlian bahasa Inggris yang diperolehnya saat sekolah. Beruntung ia tak harus menyewa tempat kos-kosan untuk tempat tinggal. Ia menumpang di rumah tantenya, yang kondisi ekonominya juga pas-pasan.

Sebelum memasuki kerasnya persaingan dunia kerja di kota besar, ia mendaftar kelas ekstensi di Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia (ASMI). Baru tiga bulan kuliah, sebuah iklan perusahaan perfilman membelokkan langkah Elva. Ia jajal kemungkinan mengisi tawaran jadi pemain pemeran pembantu dalam sebuah produksi film. Ratusan mahasiswa yang mendaftar, Elva mengikuti seleksi. Ia berharap, siapa tahu, dunia layar lebar menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam kariernya. Ia terpilih dan langsung ikut syuting. Film itu berjudul “Dokter Siti Pertiwi Kembali ke Desa”.

Di film ini ia menimba sekaliguis beradu akting dengan bintang top yang jadi lawan mainnya, seperti Christine Hakim, Joice Erna, El Manik dan Adi Kurdi. “Setelah syuting saya ikut elementer atau pendalaman tentang perfilman di Kuningan, Jakarta Selatan. Begitu di tes analisa skenario, yang aku tulis mendapat nilai 10,” tuturnya.

elva-w

Lepas Film, Jadi Manajer

Usai bermain di film perdananya itu, berbagai tawaran datang menghampiri. Namun, setelah bermain di beberapa film, batinnya bergolak. Ia merasa tidak bisa selamanya hidup di industri perfilman. Atas tawaran sang pemilik (Safari Film), Bucuk Suharto, ia diminta tetap bergabung meski tidak lagi bermain film. Elva memilih bekerja di divisi periklanan dengan jabatan sekretaris. Lantaran hasil kerjanya dinilai baik, ia dipromosikan ke level manajer. Padahal, saat itu usianya masih sangat muda, 19 tahun.

Saat menjadi manajer di usia belia itu, ia dihadapkan pada sebuah pengalaman cukup pelik. Waktu itu ada order dari perusahaan rokok untuk syuting di bandara. Namun, pihak pengelola bandara tidak memberi izin. Padahal, kru dari Singapura–sang pemesan order–sudah datang dengan izin tinggal terbatas. Jalan keluarnya? Elva melobi manajemen bandara. Dengan diplomasi yang menyentuh, ia yakinkan bahwa syuting ini proyeknya pertama dan sangat menentukan prospek karier dirinya. Entah karena iba atau alasan lain, izin pun didapat. “Itu pengalaman pertama saya sebagai manajer yang paling berkesan,” ujarnya.

Komunikasi yang intensif dengan pihak bandara justru berbuah jauh lebih manis dari sekadar izin syuting. Atas tertanggulanginya kesulitan di awal melangkah ia memperoleh ganjaran yang sama sekali tak terduga. Pihak Bandara Soekarno Hatta malah menawari Elva menjadi pemasok alat tulis kantor (ATK). Tanpa pikir panjang, ia kontan menerima tawaran tersebut. Seakan memperoleh durian runtuh, hasil dari usaha ‘sampingan’ ini justru lebih besar dari pekerjaan pokoknya.

Merasa usaha barunya itu punya prospek cerah, Elva memutuskan tarik diri dari Safari Film. Resign Eva tidak langsung disetujui pihak perusahaan. Ia ddibujuk dan iminta tetap bertahan pada posisi manajer, dengan iming-iming kenaikan gaji dan fasiltas. Namun, Eva melihat inilah saatnya untuk mentransfer semangat kemandirian ibunda selama ini ke dalam diriinya secara utuh. Ini saat untuk mengibarkan bendera sendiri. Dan pada 1985, di usia 24 tahun, ia mendirikan perusahaan miliknya sendiri, PT Elva Primandiri.

 

Kunci Sukses

Perlahan dan pasti, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan properti itu tumbuh dan bertahan hingga kini. Sudah banyak gedung-gedung dan infrastruktur yang dikerjakannya. Salah satu proyek yang jadi kebanggakaan Elva adalah pekerjaan taman di sepanjang tol Tanjung Priok-Pondok Indah. Tanaman yang jadi simbol Hollywood di kiri kanan jalan tol itu pohon tumbuh subur dan merata. Padahal, tanah urug tempat palm itu tumbuh menanggung beban guncangan sangat kuat dari kendaraan yang berlalu lalang tiap saat.

Sukses palm tersebut mengundang perhatian sebuah stasiun televisi Malaysia. Dalam wawancara dengan TV asal negeri jiran itu, ia menceritakan rahasia kecil bagaimana pohon tersebut bisa tumbuh secara merata. Palm itu ternyata dibibitkan terlebih dahulu, sehingga proses tumbuh kembangnya setara satu sama lain. Hasilnya, sampai sekarang, kondisi tanaman itu masih bagus. “Itu proyek yang membanggakan,” ujar Elva Waniza yang pernah meraih penghargaan The Best Dress ASEAN.

Dalam mengerjakan sebuah proyek, pihaknya selalu mengutamakan kualitas dan kenyamanan. Dengan komitmen seperti itu, klien akan merasa puas. Benar bahwa persaingan di dunia bisnis merupakan kenyataan yang tak terelakkan. Bagi Elva, yang namanya bersaing tak perlulah sampai harus berdarah-darah. “Asalkan punya prinsip mengutamakan kualitas, rezeki tidak akan lari ke mana-mana”. Baginya, komitmen yang tinggi terhadap kualitas dalam semua proyek merupakan keniscayaan. Selain menghasilkan kepuasaan klien, terbangunnya proyek berkualitas merupakan sumbangan nyata bagi kemajuan negeri ini.

 

Mengembangkan Jiwa Sosial

Setelah puluhan tahun menggeluti dunia bisnis, Elva menyadari kini waktunya menurunkan intensitas keterlibatannya secara penuh. Di usianya yang 55 tahun, udah saatnya Elva mempersiapkan langkah regenerasi yang mulus. Ia tengah mematangkan rencana penyerahan tongkat estafet kepemimpinan bisnis yang dibangunnya tiga dasawarsa silam itu kepada anak-anaknya. Elva akan memfokuskan diri pada kegiatan sosial kemasyarakatan, melalui jalur Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi).

Dalam misinya dinyatakan, Ipemi membantu pengembangan usaha para muslimah. Keberlangsungan dunia usaha yang sehat akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bangunan ekonomi para jamaah pengajian maupun komunitas Islami lainnya bertambah kuat. Sehingga, mereka pun berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional. Sebagai wadah penting bagi para pengusaha muslimah, di Ipemi inilah mereka bersinergi mengembangkan jaringan dan meningkatkan daya saing sebagai upaua kolektif menghadapi tantangan ekonomi global.

Melalui perjuangan panjang dan berliku, diiringi keyakinan, kini Elva Waniza sukses mewujudkan mimpi masa kecilnya. Ia meletakkan pondasi bisnis yang kokoh kuat yang inshaa Allah dilanjutkan dan ditingkatkan pencapaiannya oleh generasi penerus Elva. Anak-anak sebagai ahli waris perlu mencamkan kiat ibu mereka belajar dan menimba kemandirian dari sang nenek. Dari Kemang, nagari kecil di Bukittinggi, Elva sudah menaklukkan ibukota yang kerap tidak ramah kepada kaum urban. Tugas dan tantangan selanjutnya terbeban di pundak anak-anak Elva sebagai generasi pewaris. Semoga mereka mampu.●(Yuni—Red.)

Share This:

You may also like...