Menhub Minta Maskapai Perhatikan Daya Beli  Masyarakat

 

Ilustrasi-Foto: Medium.

JAKARTA—-Menteri  Perhubungan  Budi Karya Sumadi mengatakan,  meskipun tekanan ekonomi global memaksa  maskapai penerbangan  menaikan tarif,  hendaknya kenaikan itu tetap pada batas kewajaran.

“Kenaikan tetap harus rasional dan memperhatikan daya beli masyarakat,”  ujar Budi di Kemenhub, Jakarta,  Rabu (13/2/2019).

Meskipun demikian Menhub mengakui banyak faktor yang membuat maskapai menaikan harga tiket, mulai dari avtur, pembelian pesawat, tenaga kerja  hingga  efesiensi. Menhub menyerahkan tariff  bawah dan tarif atas kepada Menko Kemaritiman, yakni perubahan dari 30 hingga 35 persen dari batas tarif atas .

“Saya juga  sudah  meminta Inaca (Asosiasi Penerbangan Indonesia) untuk menurunkan tarif pesawat,” ujar dia, seraya mengatakan mempersilahkan  Komisi Pengawas Persaingan Usaha untuk  menyelidiki  dugaan kartel dalam kenaikan yang terkesan bersamaan.

Sementara itu Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti menyebutkan pengaruh prosentase harga avtur  hanya 24 Spersen terhadap tarif pesawat. Nilai tersebut berdasarkan asumsi harga 2016 dengan asumsi pula load factor 65 persen.

Polana mengungkapkan  pihaknya melakukan sejumlah monitoring harga tiket dengan mengirim inspektur. Saat ini harga tiket dinilai masih di bawah koridor yang ditetapkan oleh PM 14/2016. Kemenhub  saat ini mengkaji  kembali komponen yang mempengaruhi tarif dasar, karena maskapai mengadukan kepada Presiden Joko Widodo komponen avtur mencapai 40 persen.

Kenaikan harga tiket pesawat domestik   berdampak pada sejumlah sektor.  Itu sebabnya beberapa waktu lalu   Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menemui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk membahas kenaikan tarif pesawat.  Kenaikan tarif dari maskapai domestik bisa menganggu rencana pemerintah untuk mendongkrak sektor pariwisata.

“Kenaikan tarif pesawat membawa dampak terhadap turunnya tingkat keterisian kamar hotel (okupansi) di beberapa daerah. Kenaikan juga berdampak pada turunnya kunjungan wisatawan nusantara (wisnus), sedangkan wisatawan mancanegara (wisman) tidak terganggu,” ungkap Arif.

 

 

Share This: