Menggenjot Capacity Building UMKM

Selain permodalan, pelaku KUKM membutuhkan penguatan pada kualitas produk, mind set, dan aspek pemasaran dalam meningkatkan daya saing usaha. Apalagi pada tahun depan era MEA sudah menanti.

Sektor UMKM merupakan bidang usaha strategis yang terbukti mampu menjadi bantalan ekonomi nasional saat terjadi krisis beberapa waktu lalu. Sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja sekaligus mengurangi jumlah pengangguran. Sebagian besar pelaku usaha di Indonesia termasuk dalam segmen usaha ini. Sehingga wajar bila kemudian pemerintah memberikan perhatian penuh untuk meningkatkan skala usahanya.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggenjot kapasitas kelembagaan (capacity building) seperti dilakukan Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (LLP KUKM) yang bekerja sama dengan PT Trans Retail Indonesia,
Yayasan Duta Bangsa, dan Bank Mega Syariah.

Pelibatan mitra itu disesuaikan dengan fungsinya masing-masing. Ada yang bertindak sebagai motivator, kreator, marketing, dan pembiayaan. Sinergi dari hulu ke hilir ini akan memberi dampak positif bagi peserta pelatihan. Dengan begitu, pemahaman mereka terhadap proses bisnis modern akan lengkap.

Kerja sama dengan Yayayan Duta Bangsa dilakukan dalam bentuk pembekalan dan pengembangan keterampilan dalam membentuk mental usaha pelaku KUKM. Sebab, berbicara soal penguatan UMKM bukan hanya terbatas pada modal saja tetapi juga menanamkan mind set agar mereka punya daya saing dan mental mandiri. “Pola pikir itu merupakan hal mendasar yang harus dibangun agar KUKM kita dapat bersaing,” papar Ferdinand Damita beberapa waktu lalu.

Peningkatan daya saing menjadi relevan saat tahun depan sudah masuk era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dalam era itu, arus barang dan jasa dari kawasan ASEAN akan mengalir deras tanpa hambatan tarif. Sehingga produk KUKM harus siap bersaing dengan produk luar negeri tersebut.

Dengan jumlah penduduk yang terbesar, tentu saja Indonesia menjadi pasar yang sangat menarik bagi masuknya produk luar. Tanpa daya saing yang tinggi, niscaya negeri ini hanya akan menjadi konsumen setia produk luar.
Dalam pelatihan itu, kata Ferdinand, peserta dibekali tentang topik-topik mendasar agar produk KUKM bisa masuk pasar modern seperti pengemasan dan higienitas. Selain itu, peserta juga diberi pelatihan motivasi, konsep pengembangan usaha, dan cara mengakses layanan jasa keuangan. Ada pula pemberian informasi perihal pengurusan izin BPOM, Sertifikasi Izin Halal, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan pelatihan yang lain, setelahnya para peserta berkesempatan untuk memasarkan produknya ke pasar modern seperti Carrefour. Corporate Affair PT Trans Retail Indonesia (Carrefour) Adji Srihandoyo mengatakan setelah pembekalan tersebut, pihaknya membuka peluang agar produk-produk hasil KUKM ini dapat masuk ke Carrefour. “Kami akan membantu dalam sisi pemasarannya,” ungkap Adji.

 

Sebelum produk-produk KUKM itu masuk ke Carrefour. Mereka dipastikan siap dengan hygien-nya, kemasannya bagus, dan ada label halal. Sebab ritel modern terbesar ini memang sudah memiliki standard tersendiri dalam memasarkan produk-produknya.
Dengan masuknya produk KUKM ke pasar ritel modern, artinya usaha mereka telah naik kelas. Hal ini tentu saja akan menuntut kedisiplinan dalam segala hal seperti kualitas produk, sistem pembayaran, maupun keamanannya.

 

Adji menambahkan, pembekalan dan pelatihan yang telah diikuti tersebut akan efektif kalau pelaku KUKM langsung mempraktikkannya. Dengan begitu, mereka akan langsung merasakan iklim persaingan modern.

 

Yang menarik, pelatihan ini juga memfasilitasi pembiayaan kepada peserta dengan menggandeng Bank Mega Syariah. Manajemen Bank Mega Syariah siap mendukung pembiayaan kepada para pelaku KUKM tersebut.

Dengan adanya dukungan dari perbankan, maka lengkaplah pelatihan dan pembekalan tersebut. Sebab, jika hanya teoritis saja usaha mereka tidak akan meningkat. Sebaliknya jika hanya diberikan modal saja tanpa motivasi dan penguatan kapasitas kelembagaan juga akan sia-sia. Sudah banyak buktinya jika modal diberikan tanpa arahan akan habis untuk keperluan konsumsi pelaku usaha. Oleh karena itu, pelatihan yang lengkap ini dapat menjadi role model dalam pelatihan sejenis berikutnya.

Share This:

Next Post

Pro Kontra Rencana Kenaikan Harga BBM

Jum Sep 12 , 2014
Untuk memberikan ruang fiskal yang lebih besar, Presiden terpilih periode 2014-2019 berencana mengurangi subsidi BBM. Hal ini mendapatkan tanggapan, baik yang mendukung atau menolaknya. Wacana untuk menaikan harga bahan bakar bersubsidi (BBM) kembali mencuat setelah presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan hal tersebut kepada publik. Alasannya, anggaran subsidi energi dalam […]