Mendulang Omzet Rp1,8 Triliun

Implementasi layanan berbasis IT terus digenjot sebagai bagian dari inovasi pelayanan kepada anggota. Pengurus menargetkan pertumbuhan usaha meski dihadapkan pada stagnannya harga komoditas karet yang menjadi sumber penghasilan sebagian besar anggota.

PROVINSI Kalimantan Barat dikenal sebagai salah satu lahan subur bagi tumbuh kembangnya koperasi kredit  (Kopdit). Perpaduan antara legitimasi keagamaan dan ikatan sosial masyarakat yang kuat dan bergotong royong menjadikan Kopdit sebagai lembaga ekonomi  yang diperhitungkan.

Kopdit Lantang Tipo yang berlokasi di Kabupaten Sanggau merupakan yang terbesar tidak saja di Kalbar tetapi di bumi Borneo. Hal ini tidak lepas dari luasnya jaringan kantor pelayanan yang tersebar di seantero daerah Seribu Sungai ini. Wilayah kerjanya selain di Kabupaten Sanggau meliputi Kabupaten Melawi, Putussibau, Sintang, Sekadau, Ketapang, Landak, Bengkayang, dan Kubu Raya.

Pada 2016, di tengah melambatnya situasi perekonomian nasional, Lantang Tipo mampu membukukan kinerja yang bertumbuh. Koperasi yang diinisiasi oleh guru-guru Katolik ini menyalurkan pinjaman sebesar Rp1,79 triliun, naik dibanding tahun sebelumnya Rp1,68 triliun. Besaran pinjaman yang digelontorkan koperasi baru sekitar 1% dari perputaran roda ekonomi di Kalbar yang mencapai Rp161,49 triliun.

Kenaikan dana yang disalurkan diimbangi dengan meningkatnya simpanan menjadi Rp2,28 triliun, atau tumbuh 7,7% dari 2015. Peningkatan simpanan dan pinjaman yang disalurkan berpengaruh pada naiknya aset menjadi Rp2,59 triliun.

Selain menunjukkan performa keuangan yang membiru, Lantang Tipo juga tetap dipercaya masyarakat.

Hal ini terbukti dari meningkatnya jumlah anggota menjadi 182.587 orang dari tahun sebelumnya 177.684 orang.

Loyalitas anggota terhadap koperasi berkat pelayanan dan inovasi yang dilakukan. Selain itu, juga konsistensi dalam menyelenggarakan pendidikan untuk anggota. Pendidikan terbukti dapat menumbuhkan ikatan emosional yang kuat terhadap eksistensi koperasi selain mengembangkan wawasan dan pengetahuan.

Lantang Tipo yang kelahirannya berawal dari kegelisahan guru-guru Katolik karena merasa Koperasi Belanja Bersama yang sudah ada tidak dapat memenuhi kebutuhannya ini terus berbenah. Implementasi teknologi informasi (IT) terus dikembangkan untuk memacu kualitas layanan.

Menurut Thomas, Ketua Pengurus Lantang Tipo, seluruh kantor cabang sudah terhubung secara online, termasuk memiliki fasilitas auto debet dan 9 kantor cabang sudah punya ATM. “Fasilitas layanan berbasis IT sangat membantu anggota dalam melakukan transaksi,” ujarnya seperti dikutip dari buku Laporan Tahunan Lantang Tipo Tahun 2016.

Meski demikian, utilisasi dari IT ini masih terbilang rendah karena anggota belum dapat memanfaatkannya secara optimal. Oleh karenanya, Pengurus akan terus melakukan sosialisasi agar anggota dapat menggunakan fasilitas ATM ataupun autodebet yang dimiliki koperasi.

Lantang Tipo sendiri diambil dari bahasa Dayak Hibun dan Pandu (sub suku Dayak di daerah Kecamatan Parindu). Lantang artinya tunas, tumbuhan muda yang baru muncul sedangkan Tipo (Zingiberaceae Family) adalah nama tumbuhan hutan yang mirip lengkuas atau laos yang selalu tumbuh berumpun. Tumbuhan Tipo memiliki semangat hidup yang tinggi. Bila Tipo dipancung atau dipotong, maka akan segera muncul tunasnya kembali. Dengan demikian Lantang Tipo juga berarti semangat kebersamaan untuk terus bertumbuh, berkembang, dan ingin maju dalam segala hal kehidupan menuju kesejahteraan.

Koperasi Lantang Tipo berdiri pada 2 Februari 1976, dengan pembimbing Pastor Ewald Beck yang pada saat itu sebagai Pastor Paroki Pusat Damai. Kesepakatan yang dihasilkan meliputi Pemilihan Badan Pengurus, Penetapan Nominal Saham Sebesar Rp250/saham, Penetapan Bunga Pinjaman 2% perangsuran. Koperasi ini berpedoman pada prinsip dasar “bukan mencari untung melainkan pelayanan yang diutamakan”.

Dalam perkembangannya, Lantang Tipo terbuka untuk semua golongan, suku, agama, dan latar belakang sosial. Yang paling penting siapa saja yang memiliki itikad baik untuk bisa saling percaya dan bekerjasama, dan mau secara mandiri mengelola hidup agar hari esok lebih baik daripada hari ini.

Pada tahun ini, Pengurus menargetkan pertumbuhan aset menjadi Rp2,82 triliun, penyaluran dana sebesar Rp2,09 triliun, dan pendapatan Rp283,54 miliar. Selain itu, menambah jumlah anggota sebanyak 13.072 orang.

Dalam upaya menggenjot pertumbuhan, Koperasi menghadapi tantangan berupa stagnannya harga komoditas seperti karet yang menjadi sumber penghasilan sebagian besar anggotanya. Oleh karenanya, Pengurus menghimbau anggota untuk melakukan diversifikasi usaha dan efisiensi pengelolaan dana pinjaman.

Pengurus juga mendesak kepada Pemda setempat untuk mengembangkan hilirisasi industri agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah. Dengan begitu, daya beli masyarakat dapat terangkat yang pada gilirannya akan menggairahkan usaha koperasi.

Lantang Tipo sebagai kopdit dengan anggota terbesar di Tanah Air dapat menjadi contoh terbaik dalam pengembangan usaha koperasi. Interaksi koperasi dengan anggota bukan hanya terkait dengan kegiatan simpan pinjam saja, tetapi memberikan pengetahuan dan keterampilan melalui penyelenggaraan pendidikan. Anggota yang loyal merupakan kekuatan koperasi dalam menghadapi gempuran pemodal besar yang kian merangsek sistem perekonomian.   (Drajat)

Share This:

You may also like...