Menciptakan Pasar ala Abdurrahman bin Auf

Seorang Yahudi menguasai sumur ruumah, satu-satunya sumber air penduduk Madinah. Warga harus membayar. Utsman bin Affan datang ke sana dengan jawaban. Kiatnya, dengan membeli ‘separo’ sumur. Abdurrahman bin Auf melakukan hal yang pada prinsipnya mirip.

 Kabilah arab

Di dunia Islam, Abdurrahman bin Auf adalah ikon pebisnis. Di zamannya, 14 abad silam, ia saudagar superkaya. Lebih dari itu, ia sahabat Rasulullah SAW yang ketaatannya luar biasa. Keterampilannya sebagai entrepreneur amat mumpuni. Salah satu warisan penting dari karakter bisnis Abdurrahman bin Auf adalah strategi dan taktik dagangnya. Kiat dia menyiasati dan “menciptakan” pasar bukan saja relevan melainkan klasik dalam upaya memenangi persaingan.

Pasar pada masa itu tempat perputaran ekonomi utama. Seluruh pedagang dan pembeli berkumpul di sana. Siapa yang mampu menguasai pasar, dialah yang menguasai ekonomi. Di pasar Madinah itu berlangsung praktek eksploitasi. Para pedagang diharuskan membayar di muka harga sewa kios kepada pihak pengelola pasar. Parahnya, biaya sewa terus meningkat. Dengan beban biaya semacam ini, kebanyakan pedagang susah menjual barang/jasa dengan harga ekonomis. Padahal, berniaga belum tentu manghasilkan keuntungan. Kemungkinan rugi  selalu ada.

Menyaksikan kondisi tidak fair tersebut, Abdurrahman bin Auf tak tinggal diam. Ia singsingkan baju, dan gunakan jurus unik. Dengan bantuan saudara anshar-nya, ia beli tanah di dekat pasar dan dirikan kios. Para pedagang dipersilakan berjualan di sana. Ia juga mengubah sistem pembayaran. Sewa di muka dihapuskan, diganti dengan sistem bagi hasil. Sistem ini lebih sehat, manusiawi dan tentu saja berkah. Sebab, dalam hal merugi sekalipun, pedagang tidak menanggungnya sendirian. Jika hari itu pedangang tidak untung, biaya sewa gratis.

Sistem bagi hasil sangat membantu para pedagang. Dengan turunnya beban biaya sewa kios, harga jual dagangan mereka pun bisa diturunkan. Karenanya,. Perniagaan mereka semakin laku. Secara umum, keuntungan para pedagang di pasar Abdurrahman bin Auf lebih meningkat. Pada sisi lain, pendapatan Abdurrahman sendiri ikut meningkat dari sistem bagi hasil tersebut. Alhasil, kedua pihak sama-sama menikmati profit dan benefit dari praktik sistem bagi hasil tersebut.

Dari kisah sahabat Rasulullah yang tajir ini, dapat dipetik beberapa pelajaran. Bahwa dalam kondisi dan konteks kekinian pun, selalu ada jurus dan langkah untuk menciptakan pasar baru. Katakanlag “wujud” yang disebut pasar itu mengalami perubahan sedemikian radikal—dari format fisik menjadi sesuatu yang abstrak dan maya—ceruk untuk kreativitas tidaklah benar-benar tergembok rapat.

Pertama, pelajarai secara cermat kondisi pasar yang sedang berlaku. Kedua, perhatikan dan catat yang terkait dengan proses yang tidak/belum efisien. Jika kelemahan tersebut diperbaiki, itu akan meningkatkan output dan menurunkan kebutuhan input. Ketiga, fokus untuk pembenahan hal yang tidak/belum efisien tersebut. Jika dirinci, fokus dalam konteks ini mencakup empat pilar. Yakni, fokus memasarkan produk berkualitas. Jika Anda sudah memiliki produk, pastikan produk itu memiliki kualitas di bidangnya; fokus mendengarkan kemauan konsumen; fokus mengedukasi konsumen; dan fokus melihat permintaan yang terus tumbuh di sektor usaha yang Anda tekuni.●(dd)

 

Share This: