Menanti Kiprah Koperasi Di Era Fintech

fintech-singapore

Fintech bisa menjadi mesin pertumbuhan baru di masa depan. Untuk bisa menjadi penyelenggaranya, koperasi perlu menyiapkan modal disetor sebesar Rp2,5 miliar. Menguntungkan atau membebani ?

Perkembangan teknologi digital bukan hanya  semakin memudahkan aktivitas keseharian, tetapi telah menimbulkan gangguan (disrupsi) pada industri yang selama ini mapan. Misalnya di industri transportasi, kehadiran ojek/taksi online mampu menggusur armada taksi konvensional berbasis argo. Begitu pula di industri perhotelan, adanya aplikasi Airbnb menurunkan omzet pengusaha perhotelan. Hal yang sama kini sedang mengancam industri keuangan seperti perbankan dengan kemunculan financial technology (fintech). Secara global, transaksi bisnis fintech mencapai 14,5 miliar dollar AS atau 0,6% dari total transaksi dunia yang mencapai 355,9 miliar dollar AS.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membagi fintech (solusi keuangan berbasis aplikasi digital) menjadi 2 bagian yaitu fintech 2.0 dan fintech 3.0. Yang pertama adalah produk berbasis teknologi yang dihasilkan bank dan institusi keuangan lainnya yang terdaftar. Sedangkan jenis kedua adalah produk seputar solusi finansial yang dikeluarkan oleh perusahaan rintisan (start up) yang bukan perusahaan keuangan resmi seperti perbankan. OJK menaksir saat ini ada lebih dari 100 start up Fintech yang sudah beroperasi di Indonesia. Sebut saja seperti DoKu, Kartuku, Modalku, Koinworks, dan lain-lain.

Dalam perkembangannya, fintech Indonesia memiliki banyak jenis, antara lain start up pembayaran, pinjaman, perencanaan keuangan, investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, dan riset keuangan.

Untuk mengatur industri fintech agar sehat dan stabil, OJK pada 28 Desember 2016, mengeluarkan Peraturan OJK Nomor 77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Dalam aturan teranyar ini, koperasi dimungkinkan menjadi fintech.

Agar bisa menjadi fintech, Koperasi wajib memiliki modal sendiri sebesar Rp1 miliar dan modal disetor sebesar Rp2,5 miliar pada saat mengajukan permohonan perizinan menjadi fintech. Sedangkan pemberian pinjaman  maksimum sebesar Rp2 miliar.  Secara operasional, jika berminat menjadi penyelenggara fintech koperasi bisa bekerja sama dengan perusahaan lain seperti vendor IT.

Setidaknya ada dua alasan yang bisa dipertimbangkan koperasi untuk menjadi perusahaan fintech. Pertama,  perilaku generasi milineal. Secara fisik, generasi ini lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980-an hingga tahun 2000 atau biasa disebut Gen Y sebagai antitesa dari Gen X. Namun dalam perkembangannya, milineal sudah menjadi gaya hidup (life style) melebihi batas-batas usia. Generasi milineal tidak bisa dilepaskan dari internet mulai dari pola belanja, akses informasi, mencari tempat hang out, sampai memilih jodoh. Jumlah milineal semakin besar dan perilakunya seperti virus yang cepat menyebar. Ambil contoh, fenomena om telolet om, bisa jadi bukti betapa ampuhnya mereka menjadi trensetter.

Perilaku generasi ini ditopang oleh penetrasi internet di Indonesia yang dalam survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016, jumlahnya sudah lebih dari setengah populasi penduduk Indonesia. Di era digital ini, kata kuncinya adalah sharing dan kolaborasi. Dengan kolaborasi, tanpa harus memiliki aset tetap bisa menghasilkan fulus.

Kedua, masih rendahnya penetrasi lembaga keuangan di Indonesia, termasuk perbankan. Jumlah nasabah perbankan/lembaga keuangan masih dikisaran 20%, jauh lebih rendah daripada konsumen seluler. Bahkan, umum dijumpai 1 orang memiliki 2-3 nomor seluler. Aplikasi fintech juga terkait dengan perkembangan telekomunikasi.

Fintech menjanjikan potensi bisnis yang besar. Kesiapan infrastruktur IT, modal, dan SDM menjadi kunci untuk bisa bersaing di era digital. Kini tergantung koperasi apakah ingin mengubah model bisnisnya sesuai dengan tren zaman atau tetap bertahan dengan pola lama. (drajat).

 

 

Share This:

Next Post

Tetap Tumbuh di Tengah Perlambatan Ekonomi

Sel Jan 3 , 2017
Kodanua melakukan terobosan dengan menaikan batas pinjaman menjadi Rp 2 miliar dengan tenor 2 tahun. Ekspektasi perekonomian di awal 2016 ternyata berbeda dengan realisasi. Sepanjang tahun lalu, perekonomian nasional melambat meski masih tumbuh positif. Hal  ini berdampak terhadap daya beli masyarakat, termasuk anggota koperasi. Soepriyono, Ketua Umum KSP Kodanua mengatakan, […]