Menanti Inovasi Koperasi

Peringatan Harkopnas ke-66 menjadi momentum untuk mengukur keberhasilan koperasi Indonesia. Meski belum ada satu pun koperasi yang masuk dalam 300 Koperasi Besar Dunia namun upaya meningkatkan kualitas koperasi tidak pernah padam.
Memasuki usianya yang ke-66 pada tahun ini, peran koperasi sebagai soko guru perekonomian rakyat masih sangat diharapkan. Terlebih ketika globalisasi sebagai anak kandung kapitalisme mendominasi perekonomian global, termasuk di Indonesia. Meningkatnya jumlah kelas menengah ternyata diikuti dengan kesenjangan sosial ekonomi yang makin lebar.
Untuk itulah, koperasi dan UKM seharusnya lebih berperan dalam mencegah jurang kesenjangan. Dengan basis ekonomi kerakyatan yang menjadi ciri khas koperasi, gap antara si kaya dan si miskin dapat diperkecil. Harapan ini disampaikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-66 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. “Untuk mencegah makin melebarnya kesenjangan perekonomian global, dengan cara lebih peduli, lebih berpihak, dan lebih menggerakkan ekonomi yang berbasis pada rakyat, yakni koperasi dan UKM,” kata Presiden.
Kesenjangan perekonomian global melahirkan keragaman yang sangat dirasakan terutama oleh kaum miskin. Mekanisme pasar yang selama ini diagung-agungkan oleh sistem kapitalis ternyata tidak berjalan sempurna. Terjadinya informasi yang asimetris menjadi salah satu sebab dominannya satu kelompok atas sebagian besar lainnya.
Presiden menambahkan, jika diserahkan pada hukum pasar yang berlaku dalam perekonomian dunia seperti saat ini maka yang dikhawatirkan adalah ekonomi makin tumbuh di seluruh dunia, tapi pertumbuhan itu kurang adil dan kurang merata. “Kalau itu terjadi maka kesenjangan antara yang kuat dan lemah, antara kaya dan miskin, antara yang maju dan belum maju akan semakin melebar,” ujarnya.
Pesan yang disampaikan oleh Presiden tersebut secara normatif memang ideal. Namun, secara realitas kontribusi koperasi terhadap perekonian nasional masih minim. Cita-cita untuk membawa koperasi Indonesia ke pentas global pun masih jauh panggang dari api.
Sejumlah persoalan klasik seperti permodalan menjadi ganjalan bagi koperasi untuk melakukan ekspansi usaha. Apalagi kini lembaga keuangan seperti perbankan pun kian agresif menyalurkan pembiayaannya ke sektor usaha kecil dan mikro yang selama ini menjadi lahan utama koperasi.
Selain aspek permodalan, kualitas manejerial, sumber daya manusia (SDM) dan teknologi informasi (TI) juga masih menjadi tantangan yang mesti dijawab oleh gerakan koperasi di Tanah Air. Lahirnya regulasi baru tentang perkoperasian juga tidak serta merta dapat melambungkan koperasi ke pentas global.
Melihat realitas perkoperasian tersebut, Presiden berpesan agar pengelola koperasi lebih inovasi dalam menjalankan usahanya. “Kepada para penggiat gerakan koperasi di seluruh Tanah Air, saya mengajak saudara-saudara untuk mengedepankan daya kreativitas dan inovasi dalam mengelola koperasi. Tingkatkan koperasi yang saudara kelola, agar dapat tumbuh dan berkembang makin besar, makin maju, dan makin berdaya saing,” kata Presiden.
Pada Harkopnas yang bertema “Sejahtera Bersama Koperasi” ini, Presiden juga memberikan penghargaan bidang koperasi pada pemerintah daerah setempat. Di antaranya Satya Lencana Pembangunan bidang koperasi kepada pemda, Koperasi Award untuk pengelola koperasi teladan serta Bhakti Koperasi dan UKM pada pemerintah kabupaten/kota.
NTB meraih penghargaan dari pemerintah pusat sebagai salah satu provinsi terbaik pendukung pengembangan koperasi di Tanah Air. Dinas Koperasi dan UKM NTB mencatat, sejauh ini sudah terbentuk 3.512 unit koperasi dengan jumlah anggota lebih dari 628 ribu orang, dengan total aset sebesar Rp 1,14 triliun, mengalami peningkatan sebesar 14 persen dibanding tahun sebelumnya.
SBY pun berharap Pemda NTB dapat terus memajukan daerah itu melalui koperasi yang dijalankan saat ini. “Kepada para penerima penghargaan dalam rangka peringatan Hari Koperasi tahun ini, saya ucapkan selamat atas keberhasilan saudara-saudara. Semoga penghargaan ini menjadi pendorong tumbuhnya semangat baru yang lebih besar, bagi upaya pemberdayaan koperasi di daerah saudara,” ungkap Presiden.
Tentu, pesan dan harapan Presiden tersebut bukan sekadar basa-basi di acara seremonial yang diselenggarakan setiap tahunnya. Arahan tersebut mesti ditindaklanjuti oleh seluruh stakeholders koperasi di Indonesia agar cita-cita untuk sokoguru perekonomian tidak hanya lips service semata.
Para pelaku koperasi Indonesia seyogyanya mencontoh beberapa koperasi besar dunia yang sukses berkat usaha sendiri. Secara best practices, koperasi-koperasi skala global tumbuh dalam persaingan pasar dan tidak mengharap belas kasih pemerintah. Saat ini, sudah bukan waktunya lagi berharap bantuan dari pemerintah. Koperasi harus inovatif dan kreatif agar bisa tetap eksis. (Kur).

Share This:

Next Post

BBM Naik, Infrastruktur Meningkat ?

Sen Sep 23 , 2013
Setelah tertunda, rencana pemerintah menaikkkan harga BBM bersubsidi tampaknya bakal menjadi kenyataan pada bulan ini. Berbagai program diluncurkan untuk meringankan beban masyarakat miskin akibat kenaikan BBM. Efektifkah? Pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi pada Juni ini. Pengurangan subsidi ini dinilai akan meringankan beban APBN. Dana hasil dari pengurangan subsidi BBM […]