Menangkap Peluang Bisnis Energi Terbarukan

Selain dapat menopang hidup yang berkelanjutan, energi terbarukan juga menjanjikan keuntungan bisnis. Meski butuh investasi yang besar, prospeknya diyakini cerah pada masa mendatang.

Indonesia termasuk salah satu negara yang menyimpan potensi energi terbarukan sangat besar. Misalnya, cadangan geotermal yang merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, dengan perkiraan di 27 titik dengan total kapasitas listrik sampai mencapai 27 Gigawatt (GW). Hydro energy, terutama di wilayah Indonesia Tengah dan Timur memiliki total kapasitas sekitar 20 GW.

Biomassa yang merupakan limbah dari sebagian besar industri jugamemiliki potensi besar sekaligus menjadi solusi. Wilayah geografis pantai Indonesia sepanjang 81 ribu km juga memiliki potensi energi angin sangat besar. Begitu juga dengan energi matahari.

Sayangnya, semua itu masih merupakan potensi yang tetap “tersimpan”, dan tak terolahkan. Pemerintah belum memberikan perhatian serius pada energi terbarukan yang cukup berlimpah ini. Dalam proyek 10 ribu MW tahap D yang menurut rencana selesai pada 2015, sebagian besar pembangkit listrik masih dialokasikan untuk PLTU. Sedangkan pembangkit listrik berbahan bakar renewable energy hanya difokuskan pada panas bumi, tenaga air, dan tenaga matahari.

Dari sisi biaya, PLTU memang lebih ekonomis dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar renewable energy. Selain itu, dari sisi harga listrik per kWh-nya, secara agregat harga listrik dari PLTU untuk setiap kWh lebih murah dibandingkan dengan energi terbarukan tersebut di atas.

Ini terutama disebabkan banyak biaya tak langsung (indirect cost) yang tidak dimasukkan ke dalam perhitungan tersebut. Tapi, ketika berbagai biaya langsung, terutama transportasi batubara dan kendala cuaca, dimasukkan ke dalam perhitungan biaya per kWh, maka harga relatif berimbang.

Hanya saja ada sebuah masalah yang kerap muncul terkait investasi di bidang energi terbarukan tersebut yakni perizinan. Untuk proyek panas bumi, misalnya, dibutuhkan waktu empat tahun hanya untuk urusan izin saja. Inilah yang membuat para investor enggan masuk ke bisnis panas bumi. Padahal dari sisi minat tak sedikit investor yang siap menggelontorkan dana lebih dari US$ 1 miliar untuk menggarap energi panas bumi.
Roadmap Perubahan Iklim
Dari perhitungan bisnis murni, pengembangan energi terbarukan memang menguntungkan. Masalahnya, banyak pihak, termasuk pemerintah belum sesungguhnya menyadari keuntungan dari energi terbarukan tersebut.

Selain keuntungan dari sisi bisnis, ada potensi keuntungan yang tersembunyi dari atas bisnis renewable energy. Keuntungan tersebut adalah pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan tidak menimbulkan emisi karbon.
Sesuai kesepakatan Protokol Kyoto, untuk karbon kredit sendiri memang hanya akan diakui sampai akhir 2012. Namun, banyak pihak yang meyakini bahwa kegagalan perpanjangan perolehan karbon kredit dalam skema Clean Development Mechanism (CDM) pada KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen Denmark, beberapa waktu lalu, akan bisa diperbaiki pada KTT Perubahan Iklim tahun ini.

Ini semua tak terlepas dari kondisi perekonomian global yang sudah relatif jauh membaik dibandingkan tahun 2009. Dengan demikian negara-negara maju hanya akan menyiapkan danannya untuk membeli karbon kredit yang dihasilkan oleh berbagai industri, terutama daii negara-negara berkembang.

Ijebih dari segalanya, pengembangan energi terbarukan juga sesuai dengan peta jalan (roadmap) perubahan iklim yang beberapa waktu lalu telah dikeluarkan oleh pemerintah. Walaupun roadmap perubahan iklim masih memiliki berbagai celah kelemahan, memasukkan pengembangan energi terbarukan dalam program pemerintah akan sangat relevan dengan kebijakan berbagai negara di dunia tentang perubahan iklim.

Jadi, tampak jelas bahwa menjalankan bisnis dalam rangka mengurangi dampak perubahan iklim bukan lagi membebani kinerja keuangan perusahaan (cost center), tapi justru memberikan keuntungan yang jumlahnya bisa sangat besar (profit center).

Angin adalah salah satu bentuk energi yang tersedia di alam, Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLT Bayu/PLTB) mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin.

Pemanfaatan energi angin merupakan pemanfaatan energi terbarukan yang paling berkembang saat ini. Kapasitas terpasang di seluruh dunia sampai dengan akhir 2010 sebesar 194.390 Gigawatt (GW), dengan urutan negara pengguna terbesar yaitu China, Amerika Serikat (USA), Jerman, Spanyol dan India. Sedangkan di Indonesia baru mencapai sekitar 1,8 Megawatt (MW).

Lalu, bagaimana peluang dan tantangan pengembangan energi angin tersebut di Indonesia? Peluang pengembangan PLTB di Indonesia didukung oleh adanya potensi energi angin di beberapa wilayah Indonesia, kebutuhan energi yang belum terpenuhi, terutama di daerah pulau-pulau dan lokasi terpencil serta potensi angin, tuntutan global untuk mengurangi penggunaan energi yang menghasilkan polutan, makin menurunnya cadangan bahan bakar energi fosil yang memerlukan subtitusi dari sumber energi lain (EBT) terakhir telah diterbitkannya berbagai regulasi yang mendukung pengembangan EBT.

Namun, pengembangan energi angin tersebut dihalau oleh tantangan-tantangan yang harus dilalui diantaranya belum tersedia peta potensi angin dan data angin yang komperehensif, lokasi potensial energi angin umumnya terletak di daerah yang miskin dan kebutuhan energi rendah serta terisolir.

Faktor lain, belum ada pihak swasta yang melakukan investasi dalam pembangunan PLTB, belum ada mekanisme insentif untuk pengguna energi terbarukan dan pengembangan industri yang berorientasi pada pemanfaatan khususnya PLTB, investasi pembangkit PLTB relatif tinggi di bandingkan dengan investasi pembangkit konvensional, belum terdapat kelembagaan yang memadai dan belum ada keseragaman kebijakan diantara departemen untuk pengelolaan penerapan PLTB serta masih kurang edukasi maupun sosialisasi aplikasi PLTB ke masyarakat.

Penghematan bahan bakar sebetulnya dapat kita gerakkan sejak dahulu karena pasokan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi adalah sumber energi fosil tidak dapat diperbarui (unrenewable), sedangkan permintaan naik terus, demikian pula harganya sehingga tidak ada stabilitas keseimbangan permintaan dan penawaran.

Sumber energi alternatif cukup tersedia, misal energi matahari di musim kemarau atau musim kering, energi angin dan air. Tenaga air memang paling banyak dimanfaatkan dalam bentuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), namun bagi sumber energi lain belum kelihatan secara signifikan.

Energi terbarukan lain yang dapat dihasilkan dengan teknologi tepat guna dan sesuai untuk wilayah Indonesia dengan kekayaan biomassa melimpah, adalah energi biogas. Dengan memproses limbah bio atau bio massa di dalam alat kedap udara yang disebut digester, pembangunan instalasi biogas, bio elektrik dan pupuk telah terbukti menghasilkan gas metan, yang ketika diproses dalam alat pemurnian (biogas purifikasi) akan menghasilkan biogas murni. Biomassa berupa limbah organik dapat berupa kotoran ternak, tinja manusia (feces), sisa-sisa panenan seperti jerami, sekam dan daun-daunan sortiran sayur, sampah domestik rumah tangga, gulma air seperti eceng gondok dan sebagainya.

 

Gas methan terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri methan atau disebut juga bakteri anaerobik dan bakteri biogas yang mengurangi sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik (biomassa) sehingga terbentuk gas methan (CH4) yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas.  Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik.

 

Dari Limbah Ternak

 

Pada dasarnya bahan bakar alternatif berupa biogas sangat cocok jika dikembangkan di daerah terpencil ataupun kawasan pedesaan. Target pasar yang bisa Anda bidik adalah masyarakat menengah ke bawah yang wilayahnya belum dialiri listrik maupun daerah terpencil yang pasokan BBMnya masih sangat terbatas. Terlebih lagi di daerah pedesaan terdapat banyak hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, kerbau, dan sebagainya, sehingga peluang bisnis energi biogas dari limbah ternak ini sangat potensial jika dikembangkan di sekitar daerah tersebut.

Energi alternatif biogas sebenarnya bukan hal yang baru lagi bagi beberapa negara tetangga. Teknologi ini sudah dikembangkan sejak puluhan tahun yang lalu di negara Inggris, Rusia, Amerika Serikat, serta beberapa negara di benua Asia seperti Taiwan, Cina, Korea, dan lain sebagainya.

Biogas sendiri didefinisikan sebagai gas campuran metana (CH4), karbondioksida (CO2) dan gas lainnya yang dihasilkan dari penguraian material organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia, jerami, sekam, dan daun-daun hasil sortiran sayur yang difermentasi atau mengalami proses metanisasi dengan bantuan biodigester. Proses penguraian material organik dilakukan dengan sistem anaerob (tanpa oksigen), dan biogas akan terbentuk pada hari ke 4-5 setelah biodigester terisi penuh. Biasanya biogas yang dihasilkan biodigester terdiri dari campuran metana (50-75%), CO2 (25-45%), serta sejumlah gas kecil lainnya seperti H2, N2,dan H2S. (Yon).
Box

Membuat Biogas Dari Limbah Ternak

  1. Persiapkan reaktor biogas (biodigester) dengan membuat lubang reaktor berukuran (panjang 4 m, lebar 1,1 m dan kedalaman 1,2 m). Sedangkan meja tabung plastik penampung gas berukuran (panjang 3 m, lebar 1,2 m dan diameter 1,2 m). Siapkan drum untuk tempat pencampuran kotoran sapi dengan air (perbandingan 1 : 1).
  2. Setelah perlengkapan telah siap, selanjutnya buat campuran kotoran ternak 2000 liter yang dicampur dengan air (perbandingan 1 : 1).
  3. Masukan bahan biogas ke dalam reaktor melalui tempat pengisian, selanjutnya akan berlangsung proses produksi biogas dalam reaktor (secara anaerob). Usahakan temperatur, pH, pengadukan, dan bahan-bahan penghambat, diperhatikan dengan baik. Proses ini sebaiknya berlangsung pada kisaran suhu 5°C – 55°C, adapun suhu temperatur optimum untuk menghasilkan biogas yaitu 35°C.
  4. Setelah kurang lebih 10 hari, reaktor biogas dan penampung biogas akan terlihat mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang dihasilkan. Dan biogas pun sudah dapat digunakan untuk menghidupkan kompor biogas.
  5. Sekali-kali reaktor biogas digoyangkan agar terjadi penguraian yang sempurna dan gas yang terbentuk di bagian bawah naik ke atas.
  6. Pengisian bahan biogas selanjutnya bisa dilakukan setiap hari, sebanyak ±40 liter setiap pagi dan sore. Sisa pengolahan bahan biogas yang berupa lumpur secara otomatis akan keluar dari reaktor setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas. Limbah tersebut bisa Anda gunakan sebagai pupuk organik, baik dalam keadaan basah maupun kering.

Share This:

You may also like...