Membangun Papua Dengan Karya

Menjadikan Papua sejajar dengan daerah lain di Indonesia merupakan obsesinya sejak kecil. Kesetaraan inilah yang mendorong Alin untuk merintis usaha konstruksi di Bumi Cenderawasih. Dengan begitu, ia merasa turut memajukan pembangunan di daerah.

alin

Bagi sebagian orang di seantero Nusantara,  kota Jakarta menjadi tujuan utama untuk mengubah peruntungan nasib. Bayangan memperoleh gaji besar dengan segudang fasilitas yang bakal diterima menjadi magnet utamanya. Sehingga tidak heran, arus urbanisasi terkonsentrasi di ibukota negara ini. Namun demikian, hal ini tidak berlaku bagi  Alawinsia Alinda Megawati biasa disapa Alin. Saat ribuan sarjana sejawatnya melayangkan surat lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan, wanita kelahiran Papua ini memilih pulang kampung setelah menamatkan studinya. Rasa cintanya terhadap Bumi Cendrawasih lebih besar ketimbang iming-iming bekerja di ibu kota negara.

Ada memori masa kecil yang mendorongnya untuk memajukan daerah Papua. Ceritanya, saat masih duduk dibangku SMP tahun ’80-an ia mendapat kesempatan ke Jakarta dengan menaiki pesawat TNI-AU Hercules. Alin kecil melihat pembangunan di Jakarta sangat berbeda jauh dengan di kampung halamannya. Ketimpangannya ibarat bumi dan langit. Dari sini, dalam hati ia ingin menjadi pebisnis agar bisa memajukan daerah.

Selepas SMA ia melanjutkan studi ke sebuah perguruan tinggi perbankan di kota Semarang. Selama kuliah, Alin mengasah jiwa bisnisnya dan sekaligus menyalurkan hobbynya dengan membuka usaha salon kecantikan.  Dengan dibantu sejumlah tenaga kerja yang ia rekrut dari warga setempat, usaha salon Alin berjalan cukup lumayan hingga ia lulus kuliah.

Saat harus kembali ke Biak, otomatis usaha salon di kota Atlas  diserahkan pengelolaannya kepada pekerja yang telah lama membantunya.  Namun passion nya di dunia bisnis  melekat kuat, sehingga ia lebih tertarik mencari berbagai peluang usaha ketimbang melamar kerja di kantor pemerintahan maupun swasta.  Usaha pertama yang dirintisnya memang masih seputar bisnis kecantikan, namun Alin juga jeli mengintip bisnis lainnya yang prospektif seperti sektor jasa, pertambangan,  kelautan dan infrastruktur.

Belakangan putri sulung dari empat bersaudara ini  mulai fokus pada sektor infrastruktur,  dan bersama adiknya, yang memang insinyur, mendirikan perusahaan di bidang infrastruktur dasar. Puluhan tahun silam kondisi Papua berbeda dengan sekarang. Infrastruktur dasar seperti jembatan, jalan raya, gedung pendidikan masih sangat minim. Kendala tersebut membuat  konektivitas antar wilayah menjadi terhalang sehingga kemajuan daerah terhambat. Menyadari hal ini, pemda setempat ngebut mengejar ketertinggalan di bidang infrastruktur.

Ibarat pucuk dicinta ulam tiba, rencana pengembangan wilayah itu justru sangat pas dengan usaha Alin yang bergerak di sektor infrastruktur, pembangunan jalan dan jembatan. Proyek yang dikerjakannya beragam, mulai dari pembangunan drainase sampai jalan raya.

Pada awal usaha ia  hanya ditunjuk sebagai subkontraktor, namun ia bisa menunjukkan hasil kerja yang baik dan profesional. Sudah menjadi komitmennya untuk senantiasa menjaga mutu pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati.

Seiring perkembangan usaha, Alin pun menambah jumlah tenaga kerja di perusahannya, di antaranya sang adik nomor tiga, sarjana ekonomi yang ilmu manajemennya memang sangat dibutuhkan. Perusahaannya pun mulai dipercaya oleh pemerintah, tidak hanya sebagai subkontraktor tetapi sudah menjadi kontraktor utama (main contractor) dalam pengerjaan infrastruktur di Papua dan Papua Barat. Mulai dari Kabupaten Teluk Cendrawasih, Nabire, Serui, Manokwari, sampai Bintuni.

Bukan hal mudah untuk mengembangkan proyek di Papua. Selain medannya masih dipenuhi dengan hutan alami, kondisi sosial budayanya cukup unik, terutama dalam urusan jual beli tanah. Sebagai putri daerah, Alin tahu benar kondisi tersebut. Oleh karenanya, ia juga melakukan pendekatan sosial budaya dalam mengembangkan usahanya.

Selama 22 tahun menjalani usaha konstruksi, ada satu pengalaman yang paling berkesan bagi Alin, yaitu ketika mengerjakan proyek konstruksi di tengah hutan Papua yang masih “perawan”. Tanpa sinyal telepon dan fasilitas komunikasi modern lainnya. Dalam situasi tersebut, seluruh pekerja dari latar belakang etnis, agama, dan keahlian yang berbeda berbaur menjadi satu layaknya sebuah keluarga. Eratnya suasana kekeluargaan ini punya kesan mendalam baginya.

Untuk menjaga kelangsungan usaha, Alin berupaya meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan karyawannya yang kini berjumlah 200-an pekerja. Peningkatan kompetensi dilakukan dengan mengikutsertakan karyawan dalam program sertifikasi profesi. Cara ini terbukti efektif yang ditunjukkan dengan tingkat turn over karyawan di perusahaannya yang terbilang rendah.

alin-papua

Maksimalkan Peran Wanita

Salah satu obsesi Alin yang hingga kini masih diperjuangkannya adalah memajukan peran wanita Papua agar bisa tampil sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. “Posisi tawar wanita Papua selama ini sangat lemah, dan hanya dianggap sebagai penjaga rumah dan perawat anak-anaknya saja. Memang tidak salah, tetapi bagi mereka yang punya talenta bisnis tentunya harus diberdayakan,” ujar Alin yang juga Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Papua. Alin menyanggupi permintaan untuk menjabat Ketua Iwapi karena merasa ada tanggung jawab moral untuk meningkatkan peran wanita dalam dunia usaha. Apalagi, jumlah pengusaha wanita di Papua masih minim. Saat ini, jumlah anggota IWAPI Papua sekitar 300-an orang. Usahanya beragam seperti penjual pinang, nasi kuning, butik, travel, jasa konstruksi, dan lain- lain.

Untuk meningkatkan peran wanita di sektor usaha, Alin rutin mengadakan pelatihan wirausaha dan  koperasi. “Wanita punya potensi bisnis yang tidak kalah dari kaum pria, potensi ini  harusnya  dilihat oleh pemerintah sebagai aset berharga dalam pembangunan daerah,” ujarnya.

Alin berharap, semakin   banyak wanita Papua yang terjun ke dunia  usaha. Dengan begitu, selain dapat membantu ekonomi keluarga, kemajuan Papua pun akan lebih cepat tercapai. Ini bukan sekadar omong kosong belaka, namun sudah dibuktikan oleh istri dari Hendrik Anggrek ini, yang boleh dibilang telah merambah seluruh pelosok Papua bahkan hingga ke Jakarta dalam rangka pembangunan infrastruktur.

Kini, obsesi Alin ketika berkunjung ke Jakarta saat SMP dulu sedikit banyak sudah tercapai. Infrastruktur Papua sudah berkembang dan menjadi salah satu tujuan investasi.   (Drajat/Irm)

Share This: