Membangun Koperasi Modern Berbasis Teknologi

Djabaruddin Djohan

Di Tengah kesemrawutan perkembangan koperasi, yang tidak diketahui ujung pangkalnya dari mana hendak diurai, kemunculan KOPKUN (Koperasi Kampus Unsoed) pada 18 Oktober 2006 dan terus berkembang hingga saat ini memberi harapan baru bagi kebangkitan gerakan Koperasi Indonesia. Jika pada akhir abad ke 19 Purwokerto menjadi saksi sejarah munculnya gagasan berkoperasi di Indonesia, maka banyak pihak yang berharap (dan mendoakan) Purwokerto akan menjadi saksi sejarah bagi munculnya koperasi modern, yang berbeda dengan “koperasi-koperasi konvensional” yang dikembangkan selama ini. Kegiatan usaha/pelayanannya yang sejak awal pendiriannya sudah menjadikan bisnis ritel sebagai pilihannya, boleh dibilang “melawan arus utama” perkoperasian di Indonesia, yang mayoritas berjenis simpan pinjam.

Dari Koperasi Kampus Menjadi Koperasi Masyarakat

Diawali dengan pembentukan Koperasi Mahasiswa (Koperma) Unsoed pada 1978, melalui beberapa fase transformasi, pada mulanya menjadi Koperasi “Koperma Unsoed” (1998) dalam rangka menyesuaikan Anggaran Dasarnya dengan Jatidiri Koperasi ICA 1995. Kemudian pada 2003 berubah kembali menjadi Koperasi Soedirman, terutama yang berkaitan dengan status keanggotaan yang semula bersifat otomatis (stelsel pasif) bagi setiap mahasiswa, kini menjadi bersifat “terbuka dan sukarela” (stelsel aktif). Di tengah arus kegiatan koperasi mahasiswa ini, melalui beberapa kali diskusi, seminar dan lokakarya, dibentuklah KOPKUN pada 16 Oktober 2005 oleh unsur-unsur dosen, mahasiswa dan karyawan Universitas Soedirman. Koperma Soedirmanpun kemudian beramalgamasi dengan KOPKUN pada 6 Januari 2007.

Dengan statusnya yang sudah terlepas sama sekali dari kampus Universitas Soedirman dan menjadi koperasi masyarakat, maka kepanjangan KOPKUN  sejak 2017 menjadi Koperasi Karya Utama Nusantara, dengan singkatan tetap KOPKUN. Dengan statusnya sebagai koperasi masyarakat, maka keanggotaanya bersifat terbuka bagi semua orang, bukan saja bagi masyarakat Purwokerto, tetapi juga bagi masyarakat se kabupaten Banyumas.

Dalam kondisi keterbukaan seperti ini maka keanggotaan Kopkun menjadi amat plural. Inilah komposisi keanggotaan Kopkun pada 2018: PNS 378 orang, karyawan swasta 136 orang, wiraswasta 100 orang, mahasiswa 454 orang dan lain-lain 276 orang. “Pata tahun 2019 ini jumlah anggota sudah menembus angka 1.400 orang,” ujar Herliana, Ketua Kopkun.

Untuk menjadi anggota KOPKUN setiap calon anggota harus mengikuti pendidikan dasar dan proses orientasi dengan keharusan untuk menghayati isi Buku Saku 5 menit yang memuat tentang seluk beluk Kopkun, termasuk hak dan kewajiban anggota.

Digitalisasi Usaha Pelayanan Anggota

Pada saat ini, KOPKUN dalam upaya untuk melayani anggotanya, telah memiliki 3 (tiga) toko ritel swalayan, satu dalam bentuk supermarket, dua dalam bentuk minimarket. Diawaki oleh 43 orang karyawan, ketiga toko swalayan ini rata-rata beromset lebih dari Rp60 juta perhari, sehingga pertahunnya dapat mencapai omset Rp22 miliar. “Untungnya, berkat omset sebesar itu, menjadi sebesar Rp25 miliar dan sekaligus juga ikut mendongkrak aset Kopkun menjadi Rp27 milyar ”, ujar Berliana.

Dengan bangunan gedung yang cukup representatif dan ruang penjualan seluas 1.200 meter persegi yang terletak di jalan strategis (Prof DR HR Bumyamin), maka Kopkun Swalayan (Supermarket) ini cukup menarik banyak konsumen, baik anggota maupun masyarakat. Barang-barang yang dijual tidak hanya  produk pabrik, tetapi juga produk UKM yang ada di Kabupaten Banyumas. Khusus terhadap anggota yang sudah aktif menggunakan jasa swalayan, tercatat sekitar 60%,” jelas Berliana.

Sementara terhadap masyarakat umum yang berbelanjapun tercatat dengan baik, untuk menjaring konsumen yang berpotensi sebagai anggota. “Dengan kondisi swalayan koperasi seperti ini, boleh jadi tidak ada lagi swalayan koperasi yang mampu menandingi Swalayan Kopkun,” ujar Berliana dengan bangga. Di samping pelayanan melalui toko swalayan Kopkun  juga telah mengembangkan 2 unit Simpan Pinjam (SIMPIN). Melalui Microfinance Service (MICROS), SIMPIN juga melayani para Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pelaku usaha mikro lainnya.

Baik pelayanan kepada anggota melalui ketiga toko swalayan maupun melalui 2 unit Simpin, Kopkun telah menggunakan sistem online yang berbasis internet. Untuk berbelanja di supermarket maupun minimarket, melalui aplikasi Mycoop, anggota/konsumen bisa berbelanja berbagai kebutuhan rumah tangganya dengan hanya memanfaatkan ‘merchant’ mitra dari Kopkun. 

Sama halnya dengan toko swalayan, pada unit Simpan Pinjam (SIMPIN) juga telah diterapkan sistem online berbasis internet, di mana karyawan/staf dapat melayani anggota melalui ponsel masing-masing. Bagi karyawan sistem ini memudahkan tugasnya. Mereka tak perlu menulis transaksi-transaksinya secara manual.

Targetnya, anggota yang  berbelanja di swalayan cukup dengan memindai QR Code yang disediakan. Lalu kemudian secara otomatis akan autodebet dari saldo simpanannya. Untuk 2019 ada dua rencana pengembangan usaha Kopkun, yaitu pembukaan minimarket baru. serta pengembangan jaringan warung anggota. 

Penggunaan sistem online berbasis internet juga dilakukan dalam Akuntansi KOPKUN. Sistem tersebut membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Transaksi hari ini langsung terbukukan dalam jurnal dan bahkan dalam neraca.

Kopkun Institute

Selain usaha pelayanan dalam bentuk toko swalayan dan simpan pinjam, Kopkun juga menaruh perhatian besar pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Kegiatan mengenai bidang SDM ini diwadahi dalam Kopkun Intsitute, yang didipimpin oleh trenaga milenial juga, Firdaus Putra Aditama. Sebagai Direktur. 

Berbagai kegiatan telah dilakukan, antara lain: Lokakarya Bimbingan Tehnik Pengembangan Usaha Koperasi, Lokakarya Koperasi Perubahan, Pelatihan Ritel Moidern untuk Koperasi, dsb. Pada tingkat internasional mengikuti ICA Global Conference and General Assembly di Malaysia. Reputasinya dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan ini, rupanya menarik perhatian Bappenas, sehingga instansi perencanaan pembangunan negara ini menunjuk Kopkun Institute dalam tim perumusan background study Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPMJN) periode 2019-2024 Bidang Koperasi. “Saat ini sudah masuk ke tahap penyelarasan akhir”, ujar Firdaus Putra.

Dalam upaya pemberdayaan sosial, Kopkun Institute antara lain telah membantu penyadap air nira kelapa di Desa Ketanda, Sumpiuh, Purwokerto, membentuk Koperasi Argo Mulyo Jati (AMJ) agar terlepas dari jerat tengkulak. “Hampir di setiap desa, petani dan pedagang kecil terjerat utang dengan tengkulak. Sudah mengakar puluhan tahun, sampai banyak yang menganggap pola mitra dengan jerat utang itu wajar,” kata Firdaus.  Dia menambahkan, dengan skema pendanaan dari tabungan anggota bernama “Celengan Bambu”. pendampingan Kopkun Institute membuat kehidupan anggota AMJ membaik.

 Jaga Optimisme

Sungguh menggembirakan dapat menyaksikan anak-anak muda milenial dengan optimis  mengembangkan koperasi disertai dengan kemampuan menggunakan tehnologi yang cukup canggih, yang dimanfaatkan untuk  mengefektifkan pelayanan kepada anggota dan konsumen pada umumnya. Dengan demikian terjadi hubungan timbal balik (reciprocal) anttara pengurus/manajemen dan  anggota. Singkatnya, koperasi tetap berada dalam koridor jatidirinya. 

Itulah koperasi ideal yang layak diharapkan kepada Kopkun. Tentulah harapan ini bukan mimpi di siang bolong, apabila kinerja yang selama ini telah dilakukan bisa dilanjutkan dan ditingkatkan dengan konsisten.

Dengan sikap optimis ini, maka wajar jika Firdaus Putra, Direktur Kopkun Institute berharap: “Berawal dari Purwokerto, inovasi-inovasi koperasi ini semakin tumbuh berkembang hingga ke tingkat nasional,”

Share This: