Mbah Broto, Perajin Wayang Kulit Kukuh di Tengah Pandemi

Mbah Broto-Foto: Humas Kabupaten Kediri.

KEDIRI—Subroto tetap tersenyum di tengah pandemi Covid-19. Perajin wayang kulit dari Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri Jawa Timur ini tetap kebanjiran pesanan dari berbagai kota di Jawa Timur.

Resepnya hanya  mempertahankan kualitas produk, banyak pembeli maupun kolektor wayang yang memburu hasil buatan Subroto.  Perajin ini bekerja dalam  sebuah ruangan seluas 4 x 4 meter, dengan beberapa peralatan penunjang pembuatan wayang kulit.

Uniknya tiap kali membuat wayang, Mbah Broto panggilan akrabnya, selalu menggunakan pakaian batik ditemani alunan musik campur sari dari sebuah radio kecil di sebelahnya.

Hal yang pertama dia lakukan adalah menatah kulit lembu yang ia dapat dari Blitar menggunakan alat besi. Kemudian dilanjutkan dengan proses mengecat menggunakan kuas.

Mbah Broto sudah mulai mulai membuat wayang sejak masih berusia 15 tahun, atau sejak 1960. Ia Ayahnya juga adalah pembuat wayang kulit sekaligus dalang.

Kecintaannya terhadap wayang kulit juga karena sang ayah selalu mengajaknya untuk membuat wayang kulit bersama, sambil menceritakan tentang kisah-kisah wayang yang sedang mereka buat.

“Dulu ilmu pembuatan wayang diwariskan oleh orang tua saya, kemudian saya mulai belajar hingga keterampilan ini saya asah terus hingga mampu membuat membuat 1 buah wayang. Setelah bapak meninggal, usaha ini mulai saya tekuni dan teruskan hingga sekarang,” paparnya dalam keterangan tertulis, Rabu (17/2/21).

Seiring berjalannya waktu, wayang kulit buatannya semakin dikenal oleh masyarakat luas, mulai dari Kediri sampai Sulawesi karena kualitasnya yang bagus. Penjualan yang naik turun sudah biasa, namun Mbah Broto tetap konsisten membuat wayang kulit berapapun pesanan yang ia terima.

Sebelum masa pandemi, Mbah Broto bisa menjual hingga 50 lembar wayang kulit dengan berbagai ukuran. Omzetnya menembus  tujuh juta per  bulan. Ketika pandemi mulai melanda dan mempengaruhi sektor perekonomian, Mbah Broto mulai mencari cara agar wayang kulitnya tetap dipesan oleh pelanggan.

Cara yang paling efektif ternyata adalah dengan menurunkan harganya. Jika sebelum pandemi dia menjual dengan harga Rp400.000 untuk wayang ukuran kecil, maka selama pandemi dia menjualnya dengan harga Rp300.000 per wayang. Sedangkan yang paling mahal harganya mencapai Rp 2.500.000 per wayang.

“Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan wayang tersebut,” kata pria kelahiran tahun 1945 tersebut.

Dengan turunnya harga, banyak pelanggan yang menganggap ini sebagai aji mumpung. Mereka buru-buru memesan sebelum harganya naik lagi. Contohnya saja seorang dalang asal Kota Blitar yang langsung memesan 150 wayang kulit untuk menggantikan wayangnya yang lama.

“Mumpung harganya sedang turun, para dalang dan seniman akhirnya banyak yang pesan. Jika dihitung-hitung, pendapatan saya bisa Rp 10 juta per bulan selama masa pandemi,” katanya.

Besar harapan Mbah Broto kepada para pemuda saat ini, terutama pada generasi milenial untuk tidak lupa tentang sejarah. Yang tidak kalah pentingharus ada generasi penggantinya kelak agar salah satu tradisi peninggalan dari nenek moyang tetap terjaga.

“Saya berharap generasi muda jangan sampai melupakan seni wayang kulit ini karena sudah menjadi peninggalan jaman kuno dan sangat perlu dilestarikan,” pungkasnya.

Share This:

One Comment on “Mbah Broto, Perajin Wayang Kulit Kukuh di Tengah Pandemi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *