Mantan Produsen, Kini Pengimpor Murni Minyak Bumi

Masa jaya minyak tinggal sejarah. Sumur-sumur lama menua dan meranggas. Penemuan cadangan baru langka. Konsumsi dalam negeri terus membengkak. Sekian lama jadi negara produsen, bahkan anggota OPEC, kini kita jadi pembeli/pengimpor, sedikitnya 635 ribu bph.

 

PERIODEgemilang produksi minyak Indonesia telah berlalu. Bahkan sudah empat dekade lampau. Puncak keberlimpahruahan itu terjadi pada 1977, tatkala Indonesia menemukan minyak dari lapangan Minas dan Duri yang dikelola Caltex (kini Chevron). Produksi minyak dalam negeri kala itu mencapai 1,68 juta bph. Jauh melampaui angka konsumsi BBM domestik yang 300 ribu bph. Realitas ini yang menyebabkan Indonesia masuk dalam organiasasi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries).

Kejayaan Pertamina di era 1970-an sama sekali tak ada hubungannya dengan kinerja kepemimpinan Ibnu Soetowo—meski Soetowo sempat menorehkan langkah besar dengan membeli saham Shell yang saat itu ragu terhadap situasi politik Indonesia. Lagipula, jasa terbesar Soetowo bukan di minyak, melainkan keberhasilannya ‘memaksa’ pulang BJ Habibie dari Jerman.Waktu itu Habibie sangat nyaman dalam posisinya di Divisi Metode dan Teknologi Pesawat Terbang Komersial dan Militer MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen, 1969-1973.

tanki timbun

Masa keemasan minyak Indonesia terjadi karena harga minyak dunia melonjak tajam. Periode Sutowo bahkan tercatat menjadi salah satu babaksuram dalam sejarah Pertamina. Harian Indonesia Raya pimpinan, Mochtar Lubis, edisi 30 Januari 1970, memberitakan dugaan korupsi sang Dirut yang memiliki rekening Rp 90,48 miliar (kurs US$1=Rp 400). Presiden Soeharto sendirisampai gerah dan membentuk tim khusus menguak korupsi tersebut. Pada 1975, Pertamina ambruk terlilit krisis utang, dan Sutowo hengkang sebelum kasusnya terbongkar.

Seiring berjalannya waktu, dan penurunan alami sumur-sumur minyak, produksi minyak Indonesia terus melorot. Lampukuning mulai menyala pada 2003, ketika status Indonesia berubah drastis dari produsen menjadi pengimpor.Kini, produksi yang disumbangkan berbagai kilang tinggal 857.000 bph, sedangkan kebutuhan BBM 1,5 juta bph. Kita pun mengimpor 700-800 ribubph.(1 barrel = 42 gallon,1 gallon = 2,785 liter;maka1 barrel = 159,987 liter).Untukdiketahui, dari produksi lebih dari 800.000 bph tersebut, separuh di antaranya diekspor karena milik KKKS asing atau kerja sama.

Pada tahun 2008, Indonesia resmi keluar dari OPEC. Pasalnya, sejak 2003 itu kuota produksi yang ditetapkan OPECtaklagiterpenuhi.Konsumsi minyak pada 2012 tercatat 45 juta kiloliter, yang meningkat jadi 50 juta kiloliter pada 2013. Pada saat yang sama, kemampuan produksi minyak dalam negeri tak beranjak dari kisaran 840-850 bph. Per September 2014, angkakonsumsi sudah 1,5 juta bph. Betapa tidak? Sepeda motor bertambah 9 juta unit/tahun, mobil 1,2 juta unit/tahun. Di sisilain, kemampuanproduksimerosotlagijadi779 ribu bph.

“Pada 2018, diprediksi Indonesia menjadi negara importir minyak terbesar di dunia. Pada saat itu, Amerika Serikat dan Meksiko disebut-sebut sebagai negara eksportir minyak terbesar,” tuturArdhy N Mokobombang, Vice President of New Venture Business Development Investment Planning and Risk Management PT Pertamina (Persero),.

Produksi minyak pada 2019 diperkirakan hanya akan mencapai 600.000 bph jika tidak ditemukan cadangan baru. Dalam APBNP 2015, lifting minyak dipatok 825.000 bph. “Pada 2020, impor bisa tiga kali lipat dibanding tahun ini. Bagaimana mau bicaraketahanan energi,sedangkanrefinary tidak tumbuh?” Ardhymenyoal.Posisiriilnet importerdiprediksiterjadipada 2024. “Impact baru akan muncul 10 tahun mendatang, kita bisa jadi net impoter tahun 2024,” ujar Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi, Rovicky Dwi Putrohari.Pada 2025, menurutStaf Khusus Kementerian ESDM, Said Didu, produksi itu hanya di level 300.000 bph.

Masa depan ketahanan energi nasional kita sejatinya dalam keadaan terancam.Tanpa penemuan cadangan baru, sebagus apapun lembaganya, yang bisa dikerjakan bisa jadi hanya 100.000 bph,” kata Said Didu.Tapi, fenomenainitidaklahkhas Indonesia.Banyak negara Asia Pasifik mengalami pertumbuhan permintaan, tetapi juga tidak menambah kapasitas produksi dengan membangun kilang minyak. “Hanya beberapa yang membangun, seperti Cina, India, dan Timur Tengah,” kata Ardhy Mokobombang.

Upaya mewujudkan ketahanan energi dimulai dari itikad pemerintah. Regulasi pemerintah sejauhini tidak mendukung kegiatan pencarian cadangan minyak baru. “Kita lebih banyak memikirkan produksi tapi kurang mengeksplorasi. Regulasi yang ada saat ini hanya bicaraproduksi,”ujarSaid. Kegiatan eksplorasi sering terkendala karenalambannya perizinan dari SKK Migas. Proses izinnya bisa sampai setahun, padahal eksplorasinya cuma tiga bulan. Sedangkan untuk mengeksplorasi satu sumur saja menelan biaya US$100-200 juta.

Padahemat Said Didu, di tengahfaktakemerosotanproduksi, membengkaknyapkonsumsi, beleidregulasi yang takmemihakpadakhalayak/menyebalterhadapkonstitusinegara, pemerintah hanyapunya dua opsi, “Pertama, SKK Migas digabung dengan PT Pertamina. Kedua, SKK Migas bisa menjadi BUMN Khusus, sedangkan Pertamina tetap menjadi operator. Tentu ini dengan berbagai pro-kontra”.

Secarade facto, Pertamina hanya memiliki 6 kilang pengolahan minyak.Yaitu Kilang Dumai, Plaju, Balikpapan, Cilacap, Balongan dan Sorong. Kilang terakhir yang dibangun adalah kilang Balongan pada 1994. “Setelah itu, tidak ada kilang dibangun,” ujar Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara.

Nota kesepahaman (MoU) yang sudahditandatangani untukmembangun kilang baru—plus kesiapan paramitra: Jepang, Iran, Saudi Arabia dan Kuwait—tidak pernahadasatu pun yang dieksekusi. “Dulu alasannya biaya besar dan margin kecil. Belakangan, setelah banyak peminat investasi, isu beralih ke insentif tax holiday dan pembebasan bea masuk yang diminta investor. Adapun aturan tax holiday bea masuk yang sebenarnyasudah ada saja tidak jalan hingga kini,” lanjut Marwan.

Lambat dan bahkan terhentinya penambahan kilang minyakdi Indonesia bukan cuma lantaran rendahnya political will pemerintah. Menurut Marwan Batubara, hal itu tak lepas dari pengaruh mafia migas yang menangguk keuntungan gurihdari aktivitas impor BBM di Tanah Air. “MestinyaIndonesia mencontoh India, yang dalam tiga tahun bisa membangun kilang besar dengan kapasitas 1,1 juta bph”. Proyek tersebut,hebatnya lagi, dibangun olehperusahaan lokal.India sekarang punya kompleks kilang minyak terbesar di dunia.

Share This:

Next Post

Tumbangnya Teori/Mitos Fosil Organik?

Rab Mei 6 , 2015
Benarkahminyak berasal dari fosil plankton dan alga yang terkubur jutaan tahun di dasar laut?Kajiansejumlahilmuwan menunjukkanhasilberbeda.Teori/mitos fosiltersebut, konon,sengajadikembangbiakkan demi mengawetkan status quo.Versidalilterbaru, jika mampu mengebor pada kedalaman lebih dari 30 ribu kaki, deposit minyak sebenarnya berlimpah.   SEJAK pertengahan 1950-an, minyak bumi merupakan sumber energi paling penting. Sebelum itu, manusia menggunakan […]