Mama  Siwang  Angkat Kuliner Cirebon hingga  Eropa

Yani Rohyani-Foto: Dokumen Pribadi.

CIREBON—-Sejak masa Sunan Gunung Jati orang Cirebon mengenal kudapan untuk pelengkap makanan yang disebut siwang, perpaduan bawang  goreng dan teras udang disangrai. Pada masa dahulu orang  makan nasi ditemani siwang.

Untuk mengangkat dan ikut  mendukung Siwang  sebagai ikon  kuliner Cirebon, Yani Rohyani mendirikan Mama Siwang, memproduksi siwang dalam kemasan botol pada April 2015 dengan modal awal Rp200 ribu dan  produksi pertama 200 botol.

Mama Siwang punya  cara agar produk awet,  yaitu dengan memasukan bawang goreng ke dalam mesin pengering, jadi tidak ada lagi minyak yang tersisa sehingga produk akan awet, tidak melempem dan tidak ada minyak yang mengendap di bawah. Mama Siwang tidak memasukkan bahan pengawet  dalam produknya.

“Penjualan kami dibantu  oleh para reseller dari berapa kota dan dari  Cirebon sendiri,” kata Yani kepada Peluang, Kamis (31/1/2019).

Produksi  Mama Siwang ternyata  mendapat sambutan pasar yang  besar.  Sayangnya sejumlah oknum mengkopi label miliknya.  Untungnya pengaruhnya tidak signifikan.  Hanya saja persaingan dari brand  lain juga ketat.

Pada  Januari  2019 produksi hanya mencapai 150 botol, tidak seramai tahun kemarin. Meskipun demikian kata Yani, omzet tertinggi pernah diraih mencapai Rp15 juta per bulan.

“Penjualannya di dalam kota, luar kota, bahkan sudah sampai luar negeri: Thailand, Arab Saudi, Hongkong dan beberapa negara Eropa,” tutur dia.

Ke depannya Mama Siwang  meningkatkan kualitas. Dia  juga mengakui produsen siwang seperti  dia menghadapi kendala  bahan baku serba mahal,  sedangkan harga siwang tetap tidak boleh dinaikan  (Irvan  Sjafari).

Share This:

You may also like...