Makin Loyal dengan Buah Lokal

Kampanye mencintai dan mengonsumsi buah lokal mulai menampakkan hasil. Sejumlah produsen buah lokal mulai kewalahan menerima permintaan. Agar usaha ini tetap kondusif, kebijakan memperketat buah impor perlu terus dilakukan.

Tingkat permintaan masyarakat terhadap buah dan sayuran lokal terus meningkat setiap tahun. Apalagi sejak adanya kampanye cinta buah dan sayuran lokal. Produsen dan distributor pun menyambut gembira pemrintaan pasar yang membuat omzet mereka naik.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar buah dan sayuran lokal, PT Sewu Segar Nusantara (SSN), perusahaan distribusi dan pemasaran buah lokal dan impor melakukan kemitraan dengan petani. Sedikitnya perusahaan dengan brand Sunpride ini telah menggandeng 500 petani buah dan sayuran di seluruh Indonesia. “Kita gandeng 500 petani buah dan sayur di Indonesia dan diberikan SOP serta teknologi inovasi,” ujar CEO Sunpride Martin M. Widjaya di acara Indonesia Fruit Summit di Jakarta. .
Selain menggenjot sisi produksi dengan memoles petani, pihaknya juga menggarap penuh lahan buah dan sayuran di Lampung. Sunpride mempunyai 3.500 hektar lahan di Lampung, di mana baru 1/3 lahan yang sudah digunakan untuk memproduksi buah-buahan seperti nanas dan pisang.
“Pisang, nanas, dan buah tropis kita produksi di lahan 3.500 hektar di Lampung. Tiga tahun ke depan seluruh lahan itu kita akan garap,” imbuhnya.
Perusahaan ini juga menambah kapasitas layanan distribusi buah dan sayuran di seluruh Indonesia. Tahun ini, Sunpride akan mengoperasikan 250 kendaraan lengkap dengan cold storage (pendingin). Sampai saat ini, Sunpride telah menjual dan meendistribusikan 20 produk hortikultura. Sunpride menjamin 80% buah dan sayuran yang dijualnya berasal dari lokal sedangkan hanya 20% impor. “Produk hortikultura kita sudah 20 jenis, hanya 20% yang impor itu pun yang tidak diproduksi di Indonesia seperti kiwi dan pir,” cetusnya.

Dengan meningkatnya akan permintaan buah lokal., perusahaan itu, optimis omzet penjualan tahun ini akan naik 30% dibandingkan dengan tahun lalu. Nilai omzetnya diperkirakan masih di bawah Rp 1 triliun.
Menurutnya, pasar buah di Indonesia sangat besar. Sewu Segar, bersedia bermitra dengan petani buah untuk memasarkan produknya. Ia menguraikan volume penjualan pisang cavendish, katanya, mencapai 2 juta boks yang berisi masing-masing boks 13 kg, sehingga total setahun sekitar 26.000 ton. Menurutnya, harga pisang cavendish dari PT Sewu Segar Rp13.500 per kg, sehingga omzet mencapai Rp351 miliar atau sekitar 50% dari total omzet penjualan.
Prospek Bagus
Pengalaman senada juga durasakan H. Kadul, pemasok berbagai jenis buah lokal ke berbagai toko swalayan. Jenis buah-buahan yang ia pasok antara lain buah lokal seperti belimbing manis, berbagai jenis jambu air, jambu biji merah, duku, sawo, sirsak, kedondong super, manggis, dan buah langkah seperti alkesah, dan jambu bol. Pemasokan ini, setiap hari ke Giant Super Market.
Selain itu, ia juga menerima pesanan dari rekannya sesama pemasok untuk mengisi swalayan lain, di antaranya Carrefour, Pasar Raya, Indomart, Alfamart, dan Ramayana. Di samping itu, seminggu sekali, ia mengirim ke Taman Buah Mekarsari. Di luar ini, ia juga menyediakan kebutuhan pedagang buah di pasar dan kios buah khususnya di Pasar Minggu.
H.Kadul mendapatkan buah-buah itu langsung ke petani buah di berbagai tempat seperti Pondok Petir (Tangerang Selatan), Depok, juga Gunung Sindur, Citayam, dan Bojong Gede (Bogor). Dulu bahkan sampai Tasikmalaya, Solo, Ungaran, dan daerah lain di Jawa. Namun sekarang ia hanya menerima kiriman dari daerah -daerah tersebut.
Kadul lebih lanjut menjelaskan, tidak semua jenis buah bisa disediakan secara komplit. Hal ini karena ketergantungannya dengan musim, kecuali belimbing manis dan jambu biji merah yang tidak mengenal musim. Jadi jenis buah inilah yang tersedia setiap saat.
Kalau pemasokan harian jumlahnya tergantung permintaan. Misalnya ke Giant Swalayan, untuk belimbing manis, saat musim buah rata-rata tiga kuintal sehari. Di luar musim buah rata-rata mencapai lima kuintal sehari. Sedangkan total pengiriman ke semua pelanggannya bisa dua mobil bak terbuka yang bobot totalnya satu ton lebih.
Dalam kondisi musim buah, harga belimbing manis turun menjadi turun. Soal sistem harga ini disepakati bersama agar buah bisa cepat laku dan tidak terlampau lama disimpan di gudang. Sebab, hampir semua jenis buah tidak tahan disimpan lama karena gampang membusuk.
Lalu bagaimana dengan sisa buah yang tidak mampu ditampung swalayan ? Ia menjelaskan, buah-buah itu dilempar ke pemesan lain dan ke para pedagang buah di pasar untuk dijual secara eceran oleh pedagang buah kaki lima (K-5) dan kios buah.

Share This:

You may also like...