Mahasiswa UKSW Ubah Kulit Singkong Jadi Plastik Alternatif

Ilustrasi-Foto: Jatengpos.

SALATIGA—Tiga mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang tergabung dalam tim inovator CASPEEA membuat inovasi membuat produk bioplastik berbahan dasar kulit singkong. Bioplastik ini diklaim ramah lingkungan dibanding dengan plastik yang tidak bisa terurai.

Ketiganya, I Gede Kesha Aditya Kameswara, M. Sulthan Arkana, keduanya mahasiswa program studi Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM). Serta Pambayun Pulung Manekung Stri Sinandang mahasiswi prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) UKSW.

Mereka prihatin, plastik menjadi salah satu sampah yang jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut laporan PBB, setiap tahunnya plastik membunuh satu juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, serta ikan dan penyu yang tak terhingga jumlahnya.

Ungkap I Gede Kesha Aditya Kameswara, kulit singkong dapat diubah jadi bioplastik lantaran mengandung sekitar 60 persen polisakarida berupa pati, yang selama ini hanya menjadi limbah dan belum banyak dimanfaatkan.

“Selama ini kulit singkong kerap menjadi pakan ternak atau dibuang begitu saja,” kata Kesha seperti dikutip dari Radar Semarang, Selasa (18/2/20).

Lanjut dia, Indonesia sebagai salah satu produsen singkong terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 21 juta ton setiap tahun menjadikan kulit singkong sebagai kandidat kuat sebagai bahan utama pembuatan bioplastik, karena memiliki keberlangsungan (sustainability) yang baik.

Produk inovasi ini bertajuk “CASPEEA: A Bioplastic Made from Cassava Peel Wastage to Combat Plastic Waste Crisis Worldwide” ini diklaim memiliki ketahanan terhadap beban hingga mencapai 15 Mpa. Sementara produk bioplastik lainnya hanya dapat menahan beban sebesar 9 Mpa.

“Kalau plastik biasa yang diproduksi oleh pabrik dapat menahan beban berkisar 20 hingga 30 Mpa. Hal ini membuat kami yakin kalau produk bioplastik yang kami hasilkan mampu bersaing dengan plastik biasa,” ucap Kesha yakin.

Kesha juga mengatakan, produk ini food grade meskipun ada campuran bahan kimia. Kesha sebelumnya pernah bereksperimen dengan popok bayi dari kulit singkong tersebut.

Untuk kemampuan terurainya, Kesha menyebut bioplastik yang mereka hasilkan dapat terurai sebesar 34,56 persen selama 3 hari waktu penimbunan di dalam tanah. Produk kompetitor hanya sebesar 18 persen.   Sementara  plastik biasa tidak dapat terurai sama sekali.

Proses produksi dari bioplastik ini dilakukan dengan merendam kulit singkong ke dalam larutan garam CR (Cyano Reduction) untuk menghilangkan sianida yang terdapat pada kulit singkong.

Proses berikutnya adalah mengeringkan sekaligus menghaluskan kulit singkong tersebut hingga bentuknya berubah menjadi tepung kulit singkong . Selanjutnya tepung dicampurkan dengan asam laktat untuk meningkatkan ketahanan terhadap panas (fire resistant).

Setelah itu, campuran tersebut dicuci dengan aseton untuk memperoleh butiran bioplastik. Selanjutnya, butiran dicampurkan dengan polivinil alkohol (PVA) dan bahan penambah lainnya untuk memproduksi bioplastik yang memiliki nilai kuat tarik yang tinggi.

Lewat penemuannya, ketiga mahasiswa ini menyumbangkan medali perak bagi UKSW pada ajang “Thailand Inventor’s Day 2020” di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC), Bangkok, Thailand pada 2-6 Februari lalu.

Share This: