Loyo Industrinya, Rentan Rupiahnya

Untuk nilai tukar yang lebih stabil, Pemerintah perlu mempersempit defisit transaksi berjalan. Perbaikan di sektor manufaktur menjadi kunci utama.

Wabah virus corona (covid-19) dituding banyak pihak sebagai biang kerok pelemahan ekonomi global. Indonesia pun terkena dampak yang dengan lesunya nilai tukar rupiah dihadapan dolar AS pada akhir pekan Februari lalu.

Deputi Direktur INDEF, Eko Listiyanto mengatakan, investor memang cemas terhadap penyebaran covid-19, termasuk di Indonesia. Akibatnya, banyak dana asing yang keluar dari bursa saham. “Investor akan mencermati penanganan covid-19 oleh Pemerintah sebelum menanamkan dananya di dalam negeri,” ujar Eko.

Namun demikian, ia menilai ada faktor penting lainnnya yang harusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah. Untuk mengatasi pelemahan rupiah dalam jangka menengah panjang, Pemerintah harus melakukan perbaikan struktural dalam perekonomian. Caranya, dengan menggenjot industri manufaktur.

Selama ini pelemahan rupiah selalu diatasi dengan operasi moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Ini memang sudah menjadi tugas utama BI yaitu melakukan stabilisasi moneter. Namun Eko mengingatkan, terjunnya BI ke pasar bukan tanpa biaya. Ada triliunan dana cadangan devisa yang pasti tersedot untuk menjaga rupiah tetap bugar. “Iya kalo cadangan devisanya lagi bagus, kalau lagi tipis juga bagaimana,” ujarnya setengah bertanya.

Bukan tanpa alasan ekonomi INDEF itu menyoroti kinerja industri. Sebab, turunnya industri manufaktur mengerek nilai impor yang berdampak terhadap defisit transaksi berjalan (current acoount deficit/CAD). Dengan defisit yang semakin melebar, fundamental perekonomian rentan terhadap gejolak nilai tukar.

Bank Indonesia (BI) mencatat CAD pada akhir tahun lalu diperkirakan pada level 2,7% dari produk domestik bruto (PDB). Kondisi ini agak melebar dari kuartal III/2019 yang sempat menyempit sebesar 2,6% dari PDB.

BI meyakini Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal IV/2019 tetap akan surplus. Hal ini mengingat tren cadangan devisa yang meningkat dari kuartal III/2019. Dengan membaiknya NPI maka akan menopang ketahanan sektor eksternal. Hal ini dipengaruhi oleh surplus transaksi modal dan finansial, serta defisit transaksi berjalan yang terkendali.

Alasannya, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik pada Oktober-November 2019 tercatat neto sebesar USD6,20 miliar, lebih tinggi dari perkembangan pada kuartal sebelumnya sebesar neto US$4,85 miliar.

Defisit yang terkendali ini dipengaruhi kenaikan impor barang konsumsi sesuai pola musiman jelang akhir tahun dan kebutuhan impor untuk kegiatan produktif, di tengah kinerja ekspor yang belum kuat sejalan kondisi global yang melambat.

Untuk diketahui, Transaksi Berjalan terdiri dari empat bagian atau neraca, yaitu Barang, Jasa-jasa, Pendapatan Primer, dan Pendapatan Sekunder.  Pendapatan Primer mencatat balas jasa atas penggunaan faktor modal dan finansial. Transaksi yang berupa pembayaran (outflow) antara lain adalah kompensasi langsung kepada pekerja asing, keuntungan dari investasi langsung asing, pembayaran bunga surat utang pemerintah yang dimiliki nonresiden, pembayaran bunga pinjaman luar negeri, pembayaran bunga atas simpanan nonresiden pada Lembaga keuangan domestik, dan lain-lain yang sejenisnya. Pada 2019, Pendapatan Primer mengalami defisit sebesar USD33,77 miliar.

Defisit Pendapatan Primer terkait erat dengan arus investasi. Arus masuk dan keluar dari investasi itu sendiri tercatat dalam Transaksi Finansial dan bukan dalam Transaksi Berjalan. Transaksi Finansial Indonesia dalam catatan ekonom Awalil Rizky cenderung membukukan arus masuk bersih. Pada 2019, tercatat arus masuk bersih mencapai USD36,34 miliar. Ini dikarenakan Arus keluar modal finansial milik penduduk Indonesia sebesar USD14,47 miliar. Sedangkan arus masuk milik asing sebesar USD50,81 miliar.

Kinerja Manufaktur

Data BI mencatat kinerja industri pengolahan pada kuartal IV 2019 tumbuh melambat dibandingkan dengan kinerja pada kuartal sebelumnya. Hal ini terindikasi dari Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 51,50% pada kuartal IV 2019, lebih rendah dari 52,04% pada kuartal III 2019.

“Ekspansi kinerja industri pengolahan terjadi pada sebagian besar subsektor, dengan ekspansi tertinggi pada industri semen dan barang galian non logam yang didorong oleh ekspansi volume produksi dan pesanan barang input,” tulis BI dalam laporan perkembangan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) awal tahun ini.

Berdasarkan komponen pembentuk PMI-BI, ekspansi yang terjadi pada kuartal IV 2019 ditunjang oleh ekspansi pada berbagai komponen seperti volume produksi (53,42%), volume pesanan (53,27%) dan volume persediaan barang jadi (52,56%) meskipun indeks ketiganya cenderung lebih rendah daripada kuartal sebelumnya.

Namun demikian, terdapat dua komponen yang mengalami kontraksi yaitu kecepatan penerimaan barang input (49,71%) dan penggunaan jumlah tenaga kerja (47,23%). Sementara itu, indeks volume produksi PMI-BI pada kuartal IV 2019 sebesar 53,42%, lebih rendah dari 53,64% pada kuartal sebelumnya. Ini sejalan dengan indikasi menurunnya permintaan.

Diperkirakan pada kuartal I 2020, indeks volume produksi akan meningkat, dengan indeks sebesar 55,95 %, lebih tinggi dari 53,42% pada kuartal IV 2019, sebagai antisipasi tingginya permintaan pada periode Ramadhan dan Idul Fitri pada kuartal II 2020.

Oleh karenanya, agar rupiah tetap perkasa, jangan melulu mengandalkan intervensi BI. Selain bisa menguras cadangan devisa, itu juga menunjukkan kerentanan perekonomian. Perbaikan struktural dengan menyehatkan transaksi berjalan perlu terus dilakukan dan bukan hanya lips service belaka. (Kur).

Share This: