Lombok

BENCANA alam datang tanpa bisa diprediksi. Ada prediksi sangat umum, tapi tanpa presisi waktu. Misteri abadi rahasia Ilahi. Dan itulah yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Praktis sepanjang Agustus, berawal 29 Juli, gempa darat berkekuatan 6,4 Skala Richter/SR sontak mengguncang. Serial berikutnya: 5 dan 19 Agustus (7,0 SR dan 6,2 SR). Ibu Pertiwi menangis, jelang hari jadinya yang ke-73, bertumpang tindih dengan perhelatan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang.

Guncangan gempa bumi ini dirasakan di seluruh wilayah Pulau Lombok, Bali, Sumba, dan  Sumbawa. Ribuan bangunan di Provinsi Seribu Masjid itu rubuh dan berderai, diikuti tsunami kecil. Rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan data Badan Meteorolodi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, wilayah Lombok sudah 1.973 kali diguncang gempa susulan hingga 29 Agustus—terhitung sejak gempa besar 5 Agustus 2018. Lima puluh kali di antaranya dirasakan masyarakat. Total jenderal, bumi NTB bergetar 1.973 kali

Dampaknya yang paling spontan adalah 390.529 orang mengungsi. Eksodus warga tersebar di Kabupaten Lombok Utara 134.235 orang, Lombok Barat 116.453 orang, Lombok Timur 104.060 orang, Lombok Tengah 13.887 orang, dan Kota Mataram 18.894 orang. Mereka perlu bantuan logistik dan aneka kebutuhan standar tanggap darurat.

Tak kurang dari 17.400 rumah rusak ringan, sedang dan berat. BNPB memprediksi, jumlah tersebut bakal bertambah. Bersama Pemprov NTB, pihaknya masih melakukan pendataan lanjutan. Berapa estimasi kerugian? Dalam hitungan sementara BNPB, dikuantifikasi sekira Rp8,8 triliun.

Meski Pusat enggan melabeli status bencana nasional—karena khawatir pemberlakuan travel warning dari negara-negara wisman potensial—toh donasi dari berbagai pihak. Misalnya, gratis biaya kirim pakaian seken layak pakai via PT Pos Indonesia 1-16 Agustus; sumbangan perorangan dari Sandiaga Uno hingga Lalu Mohammad Zohri; Forum Komunikasi Koperasi Besar Indonesia mendermakan Rp777 juta melalui Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi, yang langsung diserahkan kepada Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar; plus bantuan fisik lainnya berupa tenda, selimut dan mainan anak-anak.

Terpeliharanya bentuk-bentuk kepedulian spontan seperti itu membuktikan kita tak kehilangan etos gotong royong dan kerja sama. Yang mampu mengulurkan tangan kepada yang butuh. Yang dari kejauhan hanya mendengar bisa bersimpati dan berempati dengan menghibahkan sesuatu. Inilah wujud nyata solidaritas sosial (mekanik dan organik) yang disebut sosiolog Emile Durkheim pada 1858. Jalinan gemeinschaft yang seyogianya dilestarikan secara ajeg.

Patut disebut di sini, bumi Lombok tak sekali dua diguncang gempa tektonik. Benar bahwa ini yang terbesar. Sebelumnya, enam gempa bertenaga >6,0 SR terjadi pada 25 Juli 1856, berlanjut seabad kemudian 21-24 Desember 1970, lalu tiga gempa beruntun pada dekade 70-an; 28 Mei 1972, 10 April 1978,30 Mei 1979, dan 1 Januari 2000.

 

Salam,

Irsyad Muchtar

Share This: