Lembah-lembah Fantastis di Nusantara

Khazanah lembah di haribaan Ibu Pertiwi amat kaya ragam. Ada yang mirip dengan lembah-lembah hebat di dunia. Ada pula yang tak dimiliki di belahan dunia mana pun, selain di sini. Berikut serba sekilas tentang lima lembah menakjubkan di Tanah Air.

 lembaj-yosemit

Bentangan Pasir Laut di Lembah Baliem

Suku Dani dan lainnya yang mendiami kawasan ini terus menjaga keasrian Lembah Baliem, Papua. Di sini tidak diizinkan sentuhan modernisasi yang dianggap merusak alam secara menyeluruh. Jika Anda berkunjung jelang milad kemerdekaan, Agustus, bisa disaksikan Festival Lembah Baliem. Yakni perang-perangan antara Suku Dani, Suku Lani, dan Suku Yali. Atraksi 2-3 hari ini bermakna ‘yogotak hubuluk motog hanaro‘ (harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini)

Festival digelar untuk melestarikan tradisi dan mempererat persaudaraan antarsuku. Mereka memelihara tradisi “bakar batu”. Apinya dibuat dengan menggesek-gesekkan 2 kayu, untuk membakar batu. Acara bakar batu ini butuh gotong royong yang solid antarsesama. Di lembah ini terdapat Wim Motok Mabel, mumi berusia 300-an tahun,  yang disimpan dalam pilamo (rumah laki-laki). Dialah panglima perang masa lalu.

Kegembiraan kolektif warga lembah diekspresikan dalam perayaan kelahiran, pernikahan, upacara kematian, syukuran, atau euforia setelah perang. Di masa lalu, ada tradisi potong jari (ikipalin). Ini ungkapan rasa sedih dan perih atas kehilangan sanak keluarga. Aksi potong jari itu kini makin ditinggalkan. Tapi aksi mandi lumpur tetap terpelihara. Maknanya, setiap manusia yang meninggal akan kembali ke tanah.

Agak jarang diketahui, masyarakat Distrik Walesi adalah pemeluk agama Islam terbesar di Tanah Papua. Di sini ada madrasah dan presantren tua. Maka, tradisi adat ‘bakar batu’ di kalangan Muslim menggunakan daging ayam, bukan babi. Di perbukitan hijau Lembah Baliem terlihat pemandangan seperti pantai dengan adanya pasir putih. Tekstur pasir putih itu sama persis dengan pasir di pantai dan bahkan terasa asin. Lembah ini juga dihiasi batu-batu granit yang menyembul dari tanah.

 

1.451 Batu Megalitikum di Lembah Bada

Lembah Bada adalah salah satu lembah dengan keunikan yang tak bisa ditemukan di seluruh Indonesia bahkan dunia. Letaknya di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Kab Poso, Prov Sulawesi Tengah. Di sini tersaji patung-patung Megalitikum yang mirip sekali dengan yang ada di Pulau Paskah. Bebatuannya berukuran besar, yang terbesar berdiameter 4 meter. Masyarakat memegang teguh adat istiadat Suku Lore.

Meski ditemukan pada 1908, hingga kini belum diketahui untuk apa patung-patung berusia 1.000—5.000 tahun itu dibuat. Yang paling terkenal adalah Watu Palindo (sang penghibur), selain Langka Bulawa. Tingginya mencapai 4 meter, dengan ukiran berbentuk tubuh oval, mata bulat, hidung besar memanjang ke bawah. Palindo, Torompana, Tarae Roe, dan Loga adalah penamaan oleh penduduk lokal untuk bebatuan kuno tersebut.

Batu-batu granit cantik tersebut menghiasi hamparan luas sawah dan rerumputan hijau. Jumlahnya 1.451 buah, t ersebar di Lembah Bada, Lembah Napu, Lembah Besoa dan Lembah Baso. Disinyalir, bebatuan tersebut lebih tua dari Candi Borobudur. Lokasinya di sebuah daerah yang relatif datar, yang dikelilingi perbukitan. Di tengah Lembah Bada mengalir Sungai Laeriang, yang menyatu dengan Sungai Malei.

Dari Kota Palu ke Kota Tantena bisa ditempuh 7-9 jam perjalanan. Dari Kota Tantena menuju Lembah Bada perlu 3 jam perjalanan. Sebaiknya Anda menggunakan kendaraan pribadi yangbenar-benar sehat. Sebab, akses jalan apabila hujan akan berlumpur tebal. Kabar bagusnya, warga suku Lore ini sangat ramah terhadap tetamu yang datang.

 

Dinding Alam Terjal di Lembah Anai

Di Kawasan Taman Nasional Lembah Anai terhampar Lembah Anai yang eksotis. Pesonanya makin menonjol dengan air terjun setinggi 35 meter yang mengalir sepanjang masa. Letak air terjun ini di pinggir jalan trans Sumatera yang padat. Ada tujuh air terjun di sana, sebenarnya. Keenam lainnya di dalam hutan yang lebat. Kawasan lembah Anai juga dilalui jalur kereta api kuno.

Air terjun ini merupakan bagian dari aliran Sungai Batang Lurah Dalam dari Gunung Singgalang yang menuju daerah patahan Anai.  Dua air terjun terdekat tertutup oleh lebatnya hutan. Yang ingin menyaksikan kedua air terjun tersebut dapat menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari lokasi Air Terjun Lembah Anai.

Menjelajahi Sumatera Barat melewati Padang Panjang, Bukittinggi, Batu Sangkar, Anda disuguhi pemandangan alam dengan sejumlah air terjun, lembah dan ngarai. Di dalam kawasan cagar alam Lembah Anai, pecinta keindahan alam dapat menempuh perjalanan trekking selama 2 jam untuk menyaksikan keenam air terjun lainnya dan boleh jadi bertemu flora yang jarang dijumpai di mana-mana.

Sangat mengesankan jika Anda mau berjalan kaki menyusuri cagar alam lembah ini selama kurang lebih dua jam. Deretan perbukitan hijau di kaki Gunung Singgalang tampak seakan menjadi dinding alam. Terlebih ketika menyaksikan pemandangan kabut dengan pelangi warna-warni saat tempat ini terpapar cahaya matahari.

Mungkin bukan kebetulan bahwa tempat ini menjadi jalur utama yang menghubungkan kota-kota besar di Provinsi Sumatera Barat. Yakni Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar, Padangpanjang dan Solok dengan kota-kota seperti Pariaman, Padang, Lubukbasung dan Painan.

 suku-pedalaman-irian

Lembah ‘Yosemite’ di Tebing Harau

Dijuluki Lembah Yosemite Indonesia karena kemiripannya, cagar alam Lembah Harau 669 ha ini sungguh memukau. Ia dihiasi tiga air terjun. Yang tertinggi, 100 meter, disebut Sarasah Bunta/Bunta Waterfall. Di kawasan nan elok ini, hamparan sawah berkolaborasi dengan aliran sungai yang meliuk memikat. Kawasan ini juga memiliki 200 spot pendakian yang siap dijelajahi para menyukai olahraga ekstrem. Saat ini Lembah Harau dikelola oleh 3 resort besar.

Lembah subur ini terletak di Kec Harau, Kab Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jaraknya 138 km dari Padang, 18 km dari Kota Payakumbuh, atau 2 km dari pusat pemerintahan Kab Lima Puluh Kota. Tempat ini dikelilingi pagar batu granit terjal kemerah-merahan setinggi 100—500 meter. Masyarakat setempat menyebutnya Sarasah Bunta.

Pesonanya tak kalah dibanding Taman Nasional Yosemite di Sierra, Nevada, California. dan telah terkenal ke seluruh dunia. Bersama tiga air terjun lainnya, Bunta Waterfall mengalirkan air tawar segar dari dataran tinggi ke lembah ini. Pemandangan itu makin indahan apabila terpancar sinar matahari. Warga lokal mengbaratkannya dengan bidadari sedang mandi.

Survei tim geologi Jerman tahun 1980 menemukan jenis batuan breksi dan konglomerat di daerah ini identik dengan yang ditemukan di dasar laut. Pagar tebing cadasnya yang curam menciptakan relief cantik sekaligus menantang terutama Anda yang menyukai olahraga panjat tebing. Kecuraman tebingnya 90 derajat, dengan ketinggian mencapai 150—200 meter.

Di Lembah Harau tersedia penginapan berupa homestay lengkap dengan fasilitasnya. Di sini penggemar olah raga panjat tebing dapat menemukan sorganya.

 

Ekuator Sumatera di Ngarai Sianok

Ngarai Sianok disebut juga “Dream Land of Sumatera”. Lembah ini merupakan patahan dengan dalam 100 meter. Disebut Patahan Semangko. Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah hijau—hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)—yang dialiri Batang Sianok (Minangkabau: sungai) yang airnya jernih.

Laksana selimut beludru hijau dikelilingi perbukitan asri, inilah penampakan Ngarai Siaok tambah indah bila dilihat dari ketinggian Taman Panorama. Pada bukit-bukit di Ngarai Sianok tumbuh tanaman langka seperti Rafflesia atau Bunga Bangkai, tanaman obat-obatan. Di dasar ngarai Anda bisa berjalan-jalan santai, menyapa penduduk setempat yang tinggal di area permukiman di sekitarnya.

wisata-lembah

Cekungan besar itu membelah dua Sumatera, membentang sepanjang 15 meter dan lebar 200 meter. Di tengah-tengahnya terhampar banyak sawah dan Sungai Sianok. Batang Sianok yang mengalir di Ngarai Sianok pun menambah keindahan lokasi wisata di Sumatera Barat. Airnya bermuara di Samudera Hindia, dan di sana sering digunakan untuk aktivitas olah raga air seperti, arung jeram, kayak, dan kano.

Keindahannya relatif bagus, meski mulai terifeksi virus modernisasi di sana sini. Batang Sianok kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak. Rutenya dari Nagari Lambah sampai Jorong Sitingkai Nagari Palupuh selama 3,5 jam. Fauna yang dapat dijumpai: monyet ekor panjang, siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul, dan tapir. Di masa lalu, banyak kerbau liar hidup bebas di dasar ngarai.

Menawarkan suasana purba, ngarai ini berlokasi di perbatasan Kota Bukittinggi, di Kec IV Koto, Kab Agam.●(Dody M.)

Share This:

You may also like...