Legiki, Minum Jamu Bagaikan Limun

Eryani Kusuma Ningrum menunjukan produk Legiki-Foto: Dokumentasi Pribadi.

JAKARTA-–Dalam Bahasa Jawa “Legiki” artinya ini manis. Dengan keyakinan manis juga  seorang ibu bernama Endang Varida menangkap peluang dari teman-temannya di kantor yang menginginkan minuman yang berbeda dari biasanya.

Kemudian ibu itu iseng membuat minuman dari sinom (daun asam muda) sebanyak dua botol dengan isi 1500 ml di bawah ke kantor.  Ternyata disukai. Mereka minum jamu bagaikan limun.

Dari sana teman-teman ibu itu mulai memesan minuman dengan kemasan botol kecil 350 ml dengan harga Rp10 ribu per botol. Dengan modal Rp350.000 per botol,  Endang kemudian membuat 50 botol dengan bahan utama kunyit asem, daun sinom, gula jawa, gula batu dan racikan lainnya.

“Dari bahan-bahan itu varian utama rasa Sinom, Jahsre (jahe sereh), Kunyit Asam dan Rapet Wangi,” kata  Eryani Kusuma Ningrum, putri dari Endang kepada Peluang, Senin (20/8/2018).

Menurut Eryani Legiki  mulai berjalan  pada Januari 2018 dengan persiapan cetak stiker dan persiapan botol yang sesuai. Usaha ini benar-benar hanya usaha rumahan dengan batuan  dua  orang , yaitu Eryani sendiri,  adiknya seorang mahasiswa fakultas pariwisata sebuah universitas  di bidang makanan.

“Jadi ia dan ibu sangat telaten meracik bahan-bahannya dengan takaran sesuai dan higienis. Sementara untuk pengemasan dibantu oleh sepupu dan saya sendiri sampai kepada pemasarannya,” tutur alumni Universitas Negeri Jakarta.

Lanjut Eryani, mungkin ada yang bertanya apa perbedaan sinom dengan kunyit asem. Sinom terdiri dari 70% daun asem muda dan 30% racikan kunyit menghasilkan rasa asam segar dan manis dengan pemakaian gula batu.

Bisnis ini lancar sampai saat ini dengan produksi 60 botol setiap 4 hari sekali atau jika ada pesanan dalam jumlah besar akan langsung diproduksi keesokan harinya. Ketahanan jamu botolan ini bertahan sampai 7 hari di dalam lemari es atau 2 hari dalam suhu ruangan.

“Omzetnya bisa sampai 50% dari modal dan akan bertambah jika ada yang memesan sampai 100 botol ke atas yang biasanya karena adanya event. Peminatnya bukan saja orang dewasa, anak-anak saja menyukainya,” ujar perempuan kelahiran 1989 ini.

Cara pemasaran Legiki cukup sederhana.  Perbincangan langsung dengan teman lalu memberikan tester per botol, kemudian menitipkan ke kantin kantor Sang Ibu, sebanyak setiap 3 hari dengan 25 botol (pasti habis) dan 25 botol lainnya.

“Saya bawa untuk saya jualkan antar teman di sekolah tempat saya mengajar. Saya juga membuat instagram yang memang efektif untuk memasarkan via medsos dan puji syukur dari medsos ada seorang Ibu yg memesan 10 botol untuk dibawa sebagai oleh-oleh ke kampung halamannya di Yogyakarta,” kata Eryani.

ProdukLegiki-Foto: Dokumetasi Pribadi.

Dikatakan Eryani, ke depannya   Legiki membuka pemasaran dengan menghubungkan varian ini dengan koneksi GoFood dan mengiklankan via pamflet dan tentu bantuan medsos (Irvan Sjafari).

 

Share This:

You may also like...