LAPAR

Dengar rintihan berjuta kepala
Waktu lapar menggila
Hamparan manusia tunggu mati
Nyawa tak ada arti
……

Bait pembuka lagu Ethiopia itu dinyanyikan Iwan Fals di tahun 1986. Ia berkisah tentang kelaparan massal yang merenggut 400 ribu lebih nyawa manusia.

Jumlah yang tidak bisa dibilang kecil itu menyentak nurani dunia, jutaan simpati mengalir ke negeri tengah bergejolak di tanduk Afrika itu. Sebelumnya, gerakan lebih massif diinisiasi musisi rock Irlandia, Bob Geldof dan Midge Ure melalui konser amal bertajuk Live Aid pada 23 Juli 1985 di Stadion Webley, London. Mereka tidak sendirian, deretan musisi kelas dunia lainnya ikut serta manggung tanpa bayaran. Di antaranya para legenda musik, David Bowie, Phil Collins, Elthon John dan sang fenomenal Freddie Mercury yang menghentak 90 ribu penonton di stadion Wembley lewat lagu Bohemian Rapsody. Konser yang ditonton via satelit internasional oleh sekitar 1,9 miliar manusia di seantero bumi itu mengumpulkan dana lebih dari 127 juta dollar AS. 

Keraguan sempat menyeruak ketika dana kemanusiaan itu diserahkan melalui otoritas

di Ethiopia. Apakah ia sampai kepada mereka yang lapar itu, atau sekadar berputar di kantong birokrasi penguasa. Geldof tak ambil pusing dengan pertanyaan itu, tetapi Ethiopia kala itu memang bukan ranah yang ramah. Perang sipil tengah berkecamuk, kudeta dan pemberontakan saling silih berganti, dan  kelaparan agaknya tidak hanya lantaran kekeringan alam, ia juga  berpotensi datang dari kerakusan manusia terhadap sesama. 

Pada bab pembuka Homo Deus, Yuval Noah Hariri menempatkan  kelaparan sebagai prioritas pertama dari tiga agenda besar umat manusia. Dua lainnya, wabah dan perang, yang akan terus menghantui generasi ke generasi. 

Di tahun 1958, Mao Tse Tung terobsesi menjadikan Cina mengungguli semua negara kapitalis dalam waktu singkat. Ia ingin Cina menjadi salah satu negara paling kaya, paling maju dan paling berkuasa di dunia. Lalu lahirlah program The Great Leap Forward  (Lompatan Besar ke Depan). Mao mengeksploitasi rakyat Cina dalam kamp-kamp kerja paksa yang sangat miris. Program utopian komunis itu pada gilirannya memperburuk produksi pertanian Cina, dan menimbulkan kemiskinan dan kelaparan massif.

 Jung Chang dan Jon Halliday dalam bukunya: Mao, The Unknow Story melukiskan getirnya derita rakyat Cina yang terpaksa memakan kotorannya sendiri guna mengatasi lapar. Ada yang menjadi gila karena tak sanggup menahan lapar dan sebagian lainnya jadi  kanibalis. Mao dengan sadar memang membiarkan puluhan juta rakyatnya mati kelaparan akibat bekerja terlalu keras tanpa asupan kalori memadai. Dalam empat tahun program Lompatan Besar,  Jung Chang menulis hampir 38 juta orang mati karena kelaparan. Angka lainnya menyebutkan Mao bertanggung jawab atas tewasnya  70 juta orang selama 1958-1960.  “Kami siap mengorbankan 300 juta rakyat Cina kemenangan revolusi dunia,” tekad Mao saat  memulai program Lompatan Besar. Ia seperti layaknya Thanos dalam film Avengers: Invinity War. Musuh bersama para super hero itu membasmi setengah jumlah penduduk bumi lantaran semesta butuh keseimbangan. Sisi gelap peradaban manusia di sepanjang sejarah agaknya tragedi kelaparan itu sendiri, ia tak memilih tempat dan waktu dan yang menyesakkan bukan karena murka alam tetapi oleh pengisapan manusia yang satu terhadap yang lainnya. Lamat-lamat kita dengar lagi lirik lagu Ethiopia yang lirih itu: Selaksa doa penjuru dunia, Mengapa tak rubah bencana.  (Irsyad Muchtar)

Share This: