Kulonprogo Merintis Korporasi Pertanian Bawang Merah

Ilustrasi=Panen bawang merah Kulonprogo-Foto: Humas Dirjen Horti.

KULONPROGO—Keberhasilan Kabupaten Kulonprogo menjadi salah satu sentra penghasil bawang merah membuat Kementerian Pertanian mendorong  tumbuhnya korporasi petani bawang merah di derah itu.

Petani Kulonprogo mengembangkan varietas bawang merah Tajuk dan varietas lokal Srikayang yang telah terdaftar di Kementerian Pertanian.

Bupati Kulonprogo, H Sutedjo pada saat melakukan panen raya bawang merah di sentra Srikayangan, Sentolo beberpa waktu lalu mengungkapkan,  menyampaikan hasil ubinan basahnya bisa sampai 20 ton per hektar.

“Harga jual di lahan bisa sampai Rp 25 ribu per kilo atau Rp 40 juta per seribu meter persegi,” ujar Sutedjo seperti dikutip dari siaran persnya, Kamis (22/10/20).

Sutedjo meminta  petani bawang merah Kulonprogo untuk semakin dinamis dan berwawasan nasional. Petani harus mampu mengelola hilirnya dan korporasi petani menjadi alternatif yang bagus.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kulonprogo, M Aris Nugroho menyampaikan daerahnya merupakan sentra utama bawang merah selain cabai merah yang lebih dulu eksis. Luas tanam bawang merah Kulonprogo pada 2019 mencapai 628 ha dan tahun 2020 sampai Oktober saja sudah naik menjadi 879 ha. 

“Sentra terbesarnya di desa Srikayangan ini yang mencapai 255 hektar,”  tambah Aris.

Omzet bawang merah di Desa Srikayangan mencapai Rp66 miliar satu kali musim tanam. Contoh yang saat ini dipanen, dengan modal hanya Rp14 juta, petani bisa mendapat untung hingga Rp26 juta per 1.000 m2. Produksi bawang merah Kulonprogo tercatat surplus hingga hampir 2.000 ton per tahunnya.

Korporasi petani mulai digairahkan di berbagai daerah oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, korporasi petani akan meningkatkan nilai tambah, daya saing, mengembangkan produk turunan dan meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri dalam menghadirkan pertanian yang maju, mandiri dan modern.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo terus mendorong pengembangan korporasi petani dan nelayan yang diharapkan dapat membangun proses bisnis dari hulu ke hilir.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *