KSU Tunas Jaya Menuntut Pemerintah benahi persaingan tidak sehat.

Tidak pernah bosan menyuarakan ketidakadilan pasar retail, Sugiharto masih lantang menuntut pemerintah membuktikan janjinya untuk menutup minimarket nakal yang melanggar peraturan daerah.

“Katanya Pemda DKI Jakarta mau menutup minimarket yang melanggar peraturan beroperasi. Nyatanya sampai kini minimarket yang buka hingga 24 jam masih bertebaran tuh di jalanan ibukota,” ujar Ketua KSU Tunas Jaya ini di sela Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSU Tunas Jaya ke XXXVIII pertengahan Februari lalu di Jakarta.

KSU Tunas Jaya

Akibat serbuan minimarket yang tak terkendali ke kampung-kampung di bilangan ibukota Jakarta itu,  puluhan koperasi serba usaha kini hanya tinggal papan nama, bahkan diantaranya beralih peran menjadi franchisee minimarket modern itu.

Menurut Sugiharto, jumlah KSU yang masih bertahan di Ibukota saat ini  bisa dihitung dengan jari, salah satu yang masih tegar adalah KSU Tunas Jaya yang dipimpinnya. “Kita akan pertahankan KSU ini hingga titik darah penghabisana karena koperasi ini adalah harga diri kita,” tutur Sugiharto yang mendirikan KSU itu sejak tahun 1977.

Dalam laporannya Sugiharto mengatakan turunnya daya saing  KSU Tunas Jaya mengakibatkan perolehan omset turun drastis.  Koperasi yang pernah beken dan menjadi barometer KSU di masa Orde Baru ini sempat mengantongi omset lebih dari  Rp 10 miliar per tahun. Namun per Desember 2014 lalu, dilaporkan hanya mampu mengantongi  volume penjualan Rp 672 juta menurun  dibanding  perolehan tahun 2013 sebesar Rp 813,7 juta dan 2012 sebesar Rp 964,4 juta.

 

Simpan Pinjam

Beruntung jiwa entrepreneur pengurus koperasi ini cukup matang dan terlatih selama hampir 40 tahun, sehingga kendala di unit pertokoan tersebut dapat disiasati dengan unit simpan pinjam yang masih berkinerja positif.    Loyalitas anggota di usaha simpan pinjam  membuat KSU dengan anggota   1.789 orang ini tetap eksis.

Sepanjang tahun 2014, koperasi dengan aset  Rp 35,041 miliar ini  berhasil meraih omset sebesar Rp 65,529 miliar dengan pemasukan terbesar dari tabungan dan simpanan koperasi sebesar Rp 33.106 miliar atau mencapai 85% dari target Rp 39 miliar. Sedangkan penerimaan dan angsuran piutang  simpan  pinjam Rp 19,290 miliar.

Realisasi penerimaan tabungan dan simpanan tahun buku 2014, kata Sugiharto adalah terendah dalam tiga tahun terakhir. Sebelumnya dapat dihimpun  Rp 33,933 miliar pada 2013 dan  Rp 38,7343 miliar tahun 2012.

Sedangkan pengeluaran KSU ini pada periode yang sama sebesar Rp 60,095 miliar dengan pengeluaran terbesar  dari penarikan tabungan sebesar Rp 27,625 miliar dan  penyaluran pinjaman  Rp 21,708 miliar.  SHU diterima sebesar Rp 470,548 juta, yang merupakan selisih antara pendapatan sebesar Rp 5,581 miliar dan beban biaya operasional Rp 5,112 miliar.  Kemampuan koperasi ini dalam memenuhi kewajibannya dapat dilihat dari likuiditasnya yang mencapai 170,70 %, solvabilitas 114,70% dan rentabilitas 11,70 %.

Tahun 2015, KSU Tunas Jaya menargetkan  perolehan usaha toko Rp 900 juta, usaha jasa Rp 2,4 miliar, penerimaan angsuran piutang simpan pinjam Rp 24 miliar dan penyaluran pinjaman Rp 27 miliar. Total omset diharapkan Rp 73,500 miliar.

Share This: