KPSBU Lembang, Murni Susunya Murni Koperasinya

Kualitas output Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara Lembang dijaga dengan membentuk Satuan Kerja Terkecil (SKT) yang melibatkan penyuluh, tester, dan pencatat; sehingga mutu susu yang dihasilkan konstan memenuhi standar nasional.

Oleh Dody Mardanus

USEP Dadang (39 tahun) seakan tak percaya. Peternak sapi perah asal Cibogo, Lembang, itu mendapat kejutan asyik. Hanya dengan tambahan biaya Rp1 juta, untuk mengubah desain kandang, produksi susu sapinya bertambah dari 12 liter menjadi 15 liter/ekor/hari. Enam sapi laktasi miliknya kini memproduksi rata-rata 100 liter/hari, yang dijualnya Rp5.300/liter ke koperasi.

Perubahan desain kandang itu meliputi penurunan tempat pakan, membuat instalasi air minum agar ternak memperoleh pasokan minum tak terbatas, dan menambah ventilasi yang sebelumnya tertutup. Selain itu, Usep juga menerapkan keseimbangan pakan dengan menambahkan konsentrat, jerami, dan hijauan.

Usep mengerti penerapan manajemen peternakan sapi perah (modern) ini setelah mengikuti program tahun ke-5 Farmer2Farmer 2016. Pembimbingnya tiga peternak asal Belanda, yakni Aad Kester, Ever Jan Wijers, dan Minne Noltrop. Direktur Operasional FFI, Jan Wegenaar, menyebut pada tahun ke-5 program Farmer2Farmer telah menyasar 900 peternak lokal. Pada 2017, program ini mengundang 101 peternak lokal di Lembang dan Pangalengan untuk belajar dari peternak Negeri Kincir Angin.

Usep Dadang hanya salah satu dari 7.400-an anggota Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang. Berdiri 8 Agustus 1971, saat pemasaran susu hanya diserap Bandoengsche Melk Centrale, dan yang tak laku dijual dibuang. Inilah koperasi primer tunggal usaha di Kecamatan Lembang. Wadah bagi para petani peternak sapi perah dengan wilayah kerja meliputi Desa Lembang, Wangunsari, Jayagiri, Cikidang, Cikahuripan, Pagerwangi, Sukajaya, Cilumber. Daerah Lembang yang berbukit-bukit, 15 km utara Kota Bandung, berada pada ketinggian 1.200 meter dpl, temperatur 17-25 ºC, curah hujan 1.800-2.500 mm/tahun.

Sapi perah diperkenalkan oleh orang Belanda tahun 1800-an. Adalah suami-istri Mayjen R Soebiantoro dan Afwani Soebiantoro yang merintis KPSBU, 22 Mei 1971. Sebanyak 68 peternak yang diajaknya setuju dan mengikuti rapat perdana. Keanggotaan entitas ekonomi kerakyatan ini tumbuh cukup cepat. Pada 1980, anggota koperasi berjumlah 319 orang, dengan kepemilikan 800 ekor sapi perah, mampu memproduksi 2.840 kg susu/hari. Dalam kompetisi dan kontribusi nasional, KPSBU Lembang melesat jadi koperasi produsen susu sapi terbesar di Tanah Air.

Produksi koperasi susu Lembang di hari-hari ini 130-150 ton/hari. Disumbangkan oleh 12.164 ekor populasi sapi laktasi dengan produktivitas rata-rata 11,89 liter/hari. Kinerja tersebut, menurut Dedi Setiadi, Ketua Pengurus KSPBU Lembang, tidak lepas dari strategi pendekatan kualitas. Moto: “Dengan Kualitas Kita Berjaya, Tanpa Kualitas Kita Tiada” dikibarkan KPSBU sebagai pengejawantahan slogan “Murni Susunya, Murni Koperasinya” yang diluncurkan sejak 2001. Slogan ini jadi filosofi yang diejawantahkan secara nyata.

Kualitas output dijaga dengan membentuk Satuan Kerja Terkecil (SKT) yang melibatkan penyuluh, tester, dan pencatat; sehingga mutu susu yang dihasilkan konstan memenuhi standar nasional. Dari laporan SKT ini, Koperasi jadi tahu mana-mana saja Anggota yang telah dan telat menyetor susu, pun tingkat kebersihannya. Maka, sejak 2002 diberlakukan pembelian susu berdasarkan kualitas. Sistem penghargaan (reward) dan denda (punishment) ini direspons positif oleh Anggota.

******

OPERASIONAL KPSBU Lembang ditangani seorang Manajer; 255 staf yang melayani Anggota agar dapat menghasilkan susu segar bermutu tinggi yang diterima Industri Pengolahan Susu (IPS). Kantor KPSBU terletak di Kompleks Pasar Panorama Lembang, di atas lahan  1.800 m². Seluas 400 m² di antaranya untuk bagian produksi, 600 m² untuk produk pakan jadi atau makanan 28 konsentrat, 400 m² untuk gudang bahan pollard dan dedak, 400 m² untuk perkantoran dan gudang kebutuhan pengurus dan anggota.

Tim Manajemen berpegang pada tujuan KSPBU sebagai penghasil core commodity unggul (susu segar) hasil peternak sebagai produk bermutu tinggi di pasaran. Dan berkoperasi tentulah merupakan upaya membangun ikatan solidaritas antaranggota. Dengan ikatan ekonomi, kohesi sosial bisa dibangun secara lebih kongkret. Melalui partisipasi, segala aspek pelaksanaan kegiatan demi pencapaian tujuan diwujudkan. Partisipasi Anggota dalam koperasi berarti mengikutsertakan mereka dalam kegiatan operasional. Wujud dan benefit langsungnya berupa:

• Menghimpun susu segar dari peternak, 20% diolah sendiri dan 80% lainnya dipasok ke IPS, yakni PT Frisian Flag Indonesia dan PT Danone Dairy Indonesia.

• Memberi pinjaman tanpa bunga kepada Anggota.

• Punya Waserda penyedia barang kebutuhan rumah tangga dan kandang, yang laba kotornya tahun buku 2018 tercatat Rp1,93 miliar.

• Anggota memperoleh pelayanan kesehatan melalui kerja sama dengan penyedia pelayanan kesehatan swasta.

• Melayani kesehatan sapi perah dan inseminasi buatan ternak Anggota.

• Punya pabrik penghasil ransum untuk seluruh populasi sapi perah di Lembang.

Mencatatkan aset Rp93 miliar dan omzet Rp403 miliar, KPSBU Lembang mendirikan Desa Susu (Dairy Village) pada tahun 2016. Ini hasil kerja sama dengan PT Frisian Flag, Pemerintah RI dan Belanda. Dibangun di atas 1 ha lahan PT Perkebunan Nusantara Ciater yang disewa 20 tahun. Di sini peternakan sapi dikelola secara modern, sesuai standar internasional—dari pemberian pakan, desain kandang, sampai pemeliharaan.

Koperasi susu ini juga memiliki Rumah Pemotongan Hewan (RPH) untuk menampung sapi afkir. Jika disetor sapi di RPH Koperasi, harga jual yang diterima Anggota lebih tinggi. Uang hasil penjualannya dapat dibelikan sapi baru, yang kekurangannya ditanggung koperasi. Dana talangan sapi baru tidak dikenakan bunga sama sekali. Pihak KPSBU Lembang sangat menghindari bentuk-bentuk praktik ribawi.

Terkait masalah kotoran sapi, penanganannya pun sudah disiapkan. Di antaranya, peternak membuat pupuk rumput dari kotoran sapi untuk kebun rumput dan menjual pupuk yang sudah diolah ke petani sayuran. KPSBU sendiri memiliki 104 Ketua Kelompok, beberapa di antaranya diketuai anak muda. “Kami berharap mereka bisa menjadi generasi penerus dalam mengelola dan beternak sapi,” ujar Dedi Setiadi.

Dari Laporan Tahunan ke-47 Tahun Buku 2018 diketahui 60,33 juta liter susu (93,35%) dijual ke IPS, 4,1 juta liter (6,37%) dipasarkan langung kepada konsumen, dan 183,6 ribu liter (0,28%) untuk menghasilkan produk jadi; Harta KPSBU Rp104 miliar, Pendapatan Rp80,79 miliar, Kekayaan Bersih Rp8,56 miliar, dan SHU Rp2,69 miliar. Pencapaian tersebut tidak lepas dari strategi pendekatan kualitas.

Satu hal, perjalanan KPSBU bukan tanpa masalah. Sedikitnya koperasi ini telah melampaui tiga titik krusial. Pada tahun 2011, harga sapi jatuh, padahal harga daging di pasaran tak berubah. Harga susu stabil. Harga susu impor dan bahan baku pakan ternak merangkak, ditambah musim kemarau akhir tahun, sehingga pendapatan peternak turun. Produksi KPSBU merosot tajam, sampai menyentuh 98.500 liter/hari, padahal rataan produksi pada 2011 adalah 119.006 liter/hari, yang tadinya diproyeksikan 128.500 liter/hari.

Pemangkasan Suku Bunga Indonesia jadi 6% di akhir  2011 dan Februari 2012 turun lagi jadi 5,75% belum menggairahkan sektor riil seperti peternakan. Kemudahan mengambil kredit program KKPE, KUR, KUPS dimanfaatkan oleh pesaing KPSBU. Pada 2011, para pengurus KPSBU Jabar menyaksikan saudara-saudaranya sesama peternak yang bermaksud menambah penghasilan justru terlilit utang ke bank.

Sebelumnya, krisis ekonomi 1997 menghantam peternak Lembang akibat harga bahan baku pakan konsentrat membubung. Mereka tertolong oleh Proyek Kunak, yang dikelola Koperasi Produksi Susu (KPS) Bogor. Tahun sulit selanjutnya terjadi pada 2008, akibat kelesuan ekonomi yang mendera Amerika dan Eropa. Harga kebutuhan pokok meningkat, bahan baku konsentrat mahal dan sulit didapat, penghasilan peternak pun merosot.

 ******

DALAM kategori entitas sejenis, adalah fardhu menyebut lima koperasi produsen susu papan atas Indonesia. Yakni, pertama, “Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan”,  dirintis November 1949, berdiri 22 Maret 1969, penghasil susu segar 85 t0n/hari (data 2017) sebagai pemasok PT Frisian Flag. Kedua, “Koperasi SAE Pujon”, penghasil 36.284.145 liter/hari, memiliki 7,967 anggota, dengan 24,218 ternak laktasi; pemasok susu sapi segar untuk PT Nestle Indonesia.

Ketiga, “Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung”, berdiri 1979, produksinya saat ini 700 ton/bulan, dipasok untuk anggota dan 600 ton/bulan didistribusikan ke peternak di luar anggota. Populasi ternaknya 9.500 ekor. Keempat, “Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan Nongkojajar”, yang memproduksi susu 108 ton/haripada usianyake-52. Pemasaran susu segar hampir 100% disalurkan ke IPS, yaitu PT Indolakto; dan kelima, “KUD Mandiri”, dengan produksi susu murni 4.000 liter/hari. Saat ini, keberadaan peternak mereka masih terpencar di beberapa kecamatan seperti Pacet, Cipanas dan Sukaresmi.

Membandingkan kinerja koperasi susu Indonesia dengan capaian koperasi susu di negara-negara maju ada pentingnya, meski tidak dalam posisi apple to apple. Bahwa mereka layak diacu sebagai patronase dan pusat orientasi, ya. Idealisasi selalu bermanfaat untuk memastikan adanya progres. Tiga pemuncak koperasi susu dunia adalah “Arla Foods Amba”, koperasi multinasional terbesar di Skandinavia yang berbasis di Viby, Denmark.Pada akhir abad XX, Arla memiliki 65% pangsa pasar di Swedia. Arla Foods adalah perusahaan susu terbesar keempat di dunia, dengan volume 13,9 juta kg/tahun.

Raksasa kedua adalah “Amul”, perusahaan koperasi susu India, yang berbasis di Anand di Negara Bagian Gujarat. Amul menjual 4.00.000-5.00.000 liter susu UHT dan produk bernilai tambah lainnya per hari, dengan perkiraan permintaan tumbuh 25%. Di peringkat ketiga “Fonterra Co-operative Group Limited”, koperasi susu multinasional Selandia Baru yang dimiliki 10.500-an petani. Mereka bertanggung jawab atas sekitar 30% ekspor susu dunia. Dengan pendapatan melebihi NZ$17,2 M, Fonterra merupakan perusahaan terbesar di New Zealand.

******

LAHAN rumput ideal ternak sapi setidaknya terdapat di dua lokasi, Sumbawa dan Payakumbuh. Masyarakat Sumbawa mengenal tradisi kearifan lokal yang disebut LAR ternak. Yakni hamparan luas padang penggembalaan terbuka (10 hingga 30 ha) yang bebas dimanfaatkan oleh siapa pun. Sapi penduduk tanpa perlu dikandangkan atau diberi minum. Cukup dengan menandai ternak masing-masing. Di tengah ladang terdapat kandang untuk berteduh dan tempat pemberian makan/minum.

Selanjutnya, Padang Mengatas (Melayu Minang: Padang Mangateh) adalah kompleks peternakan sapi di kaki Gunung Sago, Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Koto. Terbentang di padang sabana seluas 280 hektare, dibelah oleh sebuah jalan menuju bukit. Sangat mirip panorama di Selandia Baru. Peternakan ini warisan Pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada 1916. Pilihan ternak awal adalah kuda. Pada tahun 1935, didatangkan sapi Zebu dari Benggala, India. Tahun 1955, Padang Mangateh menjadi stasiun peternakan terbesar  di Asia Tenggara.

 Langsung atau tak langsung, kedua lokasi sapi penggemukan/potong di atas mendorong KPSBU mencari kawasan peternakan. Pada 1996, ditinjau Lokasi Program Transmigrasi di Bengkulu untuk contoh peternakan sapi perah, disusul kunjungan ke Kawasan Usaha Peternakan Sapi Perah (Kunak) di Cibungbulang Kab Bogor.

Berapa rasio lahan rumput yang ideal untuk memelihara seekor sapi? Hitung-hitungan teknisnya agak rumit. Jika disederhanakan: sapi mampu memakan bahan kering dari rumput maksimum 2,5% bobot hidupnya. Jika sapi berbobot 300 kg, dia memakan 7,5 kg bahan kering atau setara 37,5 kg rumput. Maka, kebutuhan lahan ideal untuk satu ekor sapi adalah 37,5 kg/hari : 189,15 kg/ha/hari = 0,1982 ha (1.982 m²).

Adapun untuk mempertahankan periode laktasi, sapi susu harus beranak. Peternak sapi susu umumnya mulai melakukan inseminasi buatan pada sapi betina di usia 13 bulan dengan masa kehamilan sekitar sembilan bulan. Sapi dapat hidup hingga usia 20 tahun, tapi sapi perah jarang sekali yang dipertahankan hingga usia tersebut. Sebab, begitu mulai tidak produktif, sapi akan disembelih. Idealnya, sapi sudah mulai diperah ketika berusia 2,5–3 tahun. Jika sudah beranak sebanyak 5 kali, proses pemerahan distop sementara, minimal dikurangi.

Masalah laten peternak Indonesia, kata Dedi Setiadi, yang juga Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), ialah 70% tak punya lahan dan ambil rumput di mana-mana; 20% punya lahan dan tak memadai; hanya 10% yang punya lahan cukup. Rumput gajah merupakan pilihan terbaik di negeri ini untuk mendapatkan susu berkualitas baik. Untuk hasil lebih bagus, upayakan rumput kaliandra. ini pun pertama-tama harus dicacah dengan mesin pemotong rumput yang disebut chopper.

Hal lain, sapi perah lokal rata-rata baru menghasilkan 13-15 liter/hari. Peternakan sapi perah di Belanda mampu menghasilkan 20 liter/hari. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian menyebut, produksi susu nasional pada 2016 sebesar 852.951 ton. Angka ini baru memenuhi 23% kebutuhan susu nasional sebesar 3,7 juta ton. Peningkatakan konsumsi susu mencapai 4,1% per tahun. Sedangkan kenaikan produksi susu lokal di bawah 3% per tahun. Pada 2020, diprediksi konsumsi susu sekitar 1,14 juta ton.

Peternak sapi perah seperti Usep Dadang, dan kebanyakan peternak lembu penghasil susu di berbagai wilayah di Tanah Air, tersandung kendala klasik berupa minimnya lahan sebagai sumber pakan ternak. Itu pula sebabnya Dedi Setiadi mendorong pemerintah dapat memetakan lahan pakan ternak secara menyeluruh  melalui kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara, sebagaimana telah dijalin lewat MoU dengan KPSBU Lembang pada 2002 lampau.●

Share This:

Next Post

Kemenkop Ungkap 153 Investasi Bodong Berkedok Koperasi

Jum Okt 25 , 2019
JAKARTA-—Kementerian Koperasi dan UKM mengungkapkan telah menemukan 153 badan usaha mengatasnamakan Koperasi Simpan Pinjam (KSP), ternyata investasi bodong. Dalam pernyataan tertulisnya pada Jumat (25/10/19) Deputi Bidang Kelembagaan Kemenkop dan UKM Luhur Pradjarto mengatakan, pihaknya  menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kepolisian hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk pelakukan penindakan dengan […]