KPMK Pangandaran  Berjuang  dengan Modal 6 Ribu Butir Kelapa

RAT KPMK Pangandaran 2018-foto: Dokumentasi Pribadi/Facebook.

PANGANDARAN—–Pangandaran  sejak zaman dahulu kala adala penghasilan kelapa yang potensial. Sayangnya nasib petani kelapa  di daerah tidak mengalami kemajuan. Harga kelapa yang dijual butiran tidak menentu.

Kelapa dari  Pangandaran  memang dijual menjangkau pasar tradisional di seluruh Jabodetabek bahkan Jawa Tengah. Sayangnya mereka “dikerjai” pembeli dan kebanyakan tidak dibayar.

Kondisi  seperti  membuat resah sebelas anak muda Pangandaran. Pada 2012  mereka mencoba menjual secara berkelompok ke pabrik-pabrik pengolah santan, tetapi ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan buat para petani kelapa.

“Pada 2014 mereka mencoba membuat produk olahan kelapa berupa tepung kelapa, di mana akhirnya kami merasakan perubahan positif terhadap nilai kelapa secara stabil,”  ujar Ketua Koperasi Produsen Mitra Kelapa Pangandaran Yohan Wijaya kepada Peluang mengenai awal perjuangannya, Rabu (30/1/2019).

Menurut Yohan lagi pada awalnya kelompoknya hanya kumpulan pemuda- pemuda dari karang taruna. Ikhtiar perjuangan  mereka berujung  pada 2016 dengan membentuk koperasi sebagai badan hukum yang menaungi para anggota dan unit usaha.

“Modal awal kita adalah kelapa-kelapa  yang dimiliki oleh anggota. sebetulnya sudah agak lupa. Mungkin sekitar 6000 butir,” kenang Yohan.

Pada 2018 KPMK mulai menata kelembagaannya supaya lebih baik, melalui kerja sama dengan NGO asal belanda yaitu Agriterra.  Pada saat itu anggotanya sudah mencapai 42 orang  namun sudah meraih omzet sekitar Rp6 miliar.

“Perkembangan usaha menuju ke arah yang positif, di mana beberapa produk turunan kelapa mulai digarap seperti tepung kelapa, cocofiber, cocopeat, baby fiber dan arang.  Terobosan ini akhirnya berbuah. Pada Agustus 2018 melakukan ekspor cocopeat ke Jepang,”  papar Yohan.

Lanjut dia, ke depannya  KPMK Pangandaran berrencana mengembangan pembuatan pengolahan produk-produk turunan kelapa secara modern, memperluas jaringan pasar dan menambah jumlah anggota

Yohan menyebut, potensi kelapa di Pangandaran sangat melimpah dengan kebun sekitar 21.000 hektare , yang  bisa menghasilkan sekitar 700 hingga 750 ribu butir kelapa setiap harinya.

Jumlah petani kelapa sangat banyak, hampir setiap orang punya pohon kelapa dan memang kelapa ini sudah seperti budaya untuk masyarakat.

Yohan Wijaya-foto: Dokumentasi Pribadi/Facebook.

“Sayangnya kesadaran  generasi sekarang untuk budi daya dan peremajaan masih rendah, karena sebetulnya pohon-pohon  kelapa kita sudah banyak yang berumur di atas 40 tahun,”  kata Yohan lagi  (Irvan  Sjafari).

 

 

Share This:

You may also like...